Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 194. TIDAK AKAN AKU BIARKAN


Merasa jika dirinya sedang menjadi incaran beberapa makhluk astral membuat Fano membuat benteng pertahanan diri. Ia tidak akan menyerah sebelum memulai. Akan tetapi ia akan menyembunyikan hal ini dari Dita.


"Aku tidak akan membiarkan senyuman di wajahmu ini luntur, Sayang."


Tangan Fano membelai wajah cantik Dita. Setiap bersentuhan dengan tubuh Dita, seolah tubuhnya terkena sengatan listrik. Hanya saja sesekali ia memang memendam hasratnya karena teringat peringatan yang diberikan oleh Tante Yuli.


Sebenarnya Fano bisa saja mengabaikan hal itu. Akan tetapi sepertinya ia tidak menyangka jika saat ini justru Fano sangat hati-hati dalam bertindak.


Fano mengusap gusar wajahnya. "Aku harus membersihkan diri, pikiran-pikiran buruk itu membuatku semakin kesulitan untuk mengendalikan diri."


Dengan langkah perlahan, Fano kini sudah berada di dalam kamar mandi. Dilihatnya pantulan wajahnya di depan cermin. Tiba-tiba saja ada bayangan lain yang tampak di dalam cermin tersebut. Membuat ia harus banyak bersabar dan berdoa agar makhluk itu tidak mengganggunya.


"Gi-la! Sepertinya pergi ke luar negeri masih bisa diikuti olehnya. Apakah aku dan Dita harus melakukan sebuah ruwatan?"


"Setidaknya bisa menghindarkan kami dari hal-hal yang buruk!"


Setelah cukup lama berdoa, ketika Fano membuka mata, bersyukur bayangan itu sudah menghilang. Fano terlihat mengusap dadanya agar sedikit rileks.


Merasa cukup aman, kini Fano mulai membasuh tubuhnya dengan air shower. Badan letih membuat Fano ingin menyegarkan kembali pikiran dan juga tubuhnya.


Seberkas cahaya yang masuk ke dalam tempat tidur Dita, nyatanya mampu mengusik Dita yang sudah kelaparan. Niat hati hanya ingin tiduran sebentar nyatanya justru Dita terlambat bangun.


"Alhamdulillah Mas Fano masih berada di dalam sana. Mungkin ia sedang mandi."


Saat lagi nyaman dengan air shower tiba-tiba indera penciuman milik Fano tercium bau anyir. Sontak kedua matanya membulat sempurna. Air yang semula jernih kini berubah warna menjadi merah. Belum lagi bau anyir yang tercium membuat Fano hendak muntah.


Aneh, teriakan Fano sama sekali tidak terdengar dari kamar Dita. Namun, Dita yang merasa aneh dengan hal itu segera keluar dari dalam selimut dan menyusul Fano masuk ke dalam kamar mandi.


"Mas, buka pintu! Aku kebelet!" teriak Dita dari luar kamar.


Sementara itu Fano yang sudah merasa frustasi kebingungan karena ia tidak bisa membuka pintu. Sosok mengerikan itu menyeringai dan muncul dari dalam air dan hendak mencekik leher Fano. Namun, sesaat kemudian Dita berhasil mendobrak pintu dan mendapati suaminya berlumuran cairan berwarna merah pekat dan mengeluarkan bau anyir.


"Mas Fano kamu kenapa?"


Terlalu panik membuat Fano seketika menoleh dan mendapati kesadarannya. "Maaf jika aku justru mengumbar aurat."


Dita tidak peduli dengan kondisi pakaian yang dikenakan olehnya terkena cairan berwarna merah pekat itu. Tangisnya tidak kunjung berhenti karena mengira Fano terluka parah.


Sosok yang menyerang Fano justru masih terlihat di sudut ruangan. Ia menyeringai tajam dan merasa cemburu jika Dita bisa bermesraan di depanmu. Tentu saja hal itu membuat bulu kuduk Dita meremang. Saat melihat ke arah pojok terlihat jika sosok hitam tersenyum ke arahnya.


"Jangan pernah mengganggu suamiku!" bentak Dita pada sosok mengerikan itu.