
Tidak ada hal yang bisa diterima Dita ketika banyak masalah yang menderanya. Bagaimana pun alasannya, dibohongi itu sangatlah menyakitkan.
"Bagaimana bisa aku menikah dengan hantu?"
"Padahal sebelumnya aku sungguh bisa merasakan kehadirannya tetapi justru aku tertipu oleh penampilannya."
Saat Dita masih melamun, Tito mendekatinya. Kali ini ia tidak menggunakan raga Tiyo memainkan dengan wujud aslinya. Seketika buku kuduk Dita meremang. Sontak Dita menoleh.
"Ma-Mas Tito?"
"Iya ini aku, apa kamu takut dengan kehadiranku?" ucapnya lembut.
"Tentu saja iya, mungkin sebelum ini aku sama sekali tidak takut kepadamu, tetapi di saat kamu mulai jujur kepadaku, aku justru takut."
Dita menundukkan pandangannya. Tangan Tito terlepas dari pinggang Dita. Ditatapnya dengan lembut kedua mata Dita.
"Maaf, maaf untuk keegoisanku! Aku berharap kedatanganku bisa membuatmu lebih tenang. Aku pun sudah memikirkan sesuatu.
"Apa itu, Mas?"
Terdengar helaan nafas dari Tito. Lalu setelahnya ia mulai menata hatinya kembali.
"Aku ikhlas melepasmu untuk menikah kembali. Kamu berhak bahagia istriku, kamu aku bebaskan untuk menikah dengan lelaki yang kamu cintai. Anggap saja aku sudah meninggal dan perjanjian nikah kita terputus sampai di sini."
Dita menatap wajah roh Tito lekat-lekat.
"Apa kamu bersungguh-sungguh, Mas. Apa setelah ini kamu akan musnah?"
"Bukankah keinginan sebuah roh jika keinginannya sudah selesai maka ia akan menghilang selamanya?" tanya Dita was-was.
"Aku tidak tahu dengan hal itu. Akan tetapi saat kamu merindukan aku, maka aku akan datang ke sisimu dan berusaha melindungimu selalu."
"Mas ...!" seru Dita dengan wajah berkaca-kaca.
"Apa yang kamu katakan?"
"Bukankah kamu tidak bahagia menikah denganku?"
"Aku bukan tidak bahagia ... tetapi ...." Dita tampak menjeda kalimatnya.
"Katakan lah, apa yang mengganjal dihatimu?"
"Entahlah Mas, yang pasti aku hanya merasa aneh."
"Aneh dengan hubungan kita?"
Dita mengangguk.
"Aku tidak bisa mengajakmu hang out, atau makan malam romantis ataupun nonton di bioskop."
Tito tergelak akan ucapan istrinya barusan. Bagaimana bisa ia melupakan hal manusiawi seperti itu. Apalagi mereka juga tidak bisa melakukan hubungan badan seperti manusia pada umumnya.
"Mas, bukan itu maksudku, justru para suamiku meninggal saat kami mau melakukan malam pertama. Jadi malam pertama bagiku adalah sebuah momok yang sangat menakutkan untukku."
"Kenapa bisa begitu?"
"Aku sendiri belum bisa mengerti takdir apa yang sedang menimpaku. Bahkan sampai saat ini aku belum bisa menaklukkan teka-teki ini."
Tatapan Dita tampak semakin sendu. Ia sangat tahu bagaimana rasanya kehilangan cinta, apalagi Dita merasakannya berkali-kali. Sebagai seorang suami, Tito bertugas untuk menenangkannya saat ini.
Dita menoleh, "Tidak apa-apa, Mas. Lagi pula memang begitu jalan takdirku."
Secara tidak sengaja, bahu Dita terbuka karena angin jendela kamar berhembus dengan kencangnya. Hingga tampaklah tanda lahir di bahu Dita.
"Ayu, bolehkah aku bertanya kepadamu?"
"Boleh, tentang apa itu, Mas?"
"Maaf jika ini sebuah privasi untukmu, tetaapi aku penasaran dengan tanda lahir yang berada di bahu kamu ini?"
Tito segera memegang tanda lahir milik Dita. Lalu ia pun menunjukkan hal itu pada Dita. Dengan lembut ia membalikkan tubuh Dita hingga ia bisa melihat sendiri betapa menakutkan tanda lahir itu.
Dita menutup mulutnya tidak percaya, sungguh ia tidak menyangka jika tanda lahirnya itu bisa menjadi tambah lebar dan menghitam.
"Kenapa bisa seperti ini?"
Tito memperhatikan Dita dengan seksama.
"Kenapa kamu begitu terkejut? Apakah sebelumnya tidak seperti ini?"
"Lalu kenapa bisa seperti ini?"
"Entahlah, yang terkahir kali seingatku tidak sebesar ini?"
Dita tampak menggeleng, rasanya sangat aneh hal yang terjadi dengannya kali ini.
"Apakah semua ini berkaitan dengan kematian para suamimu yang terdahulu?" tanya Tito.
Karena Dita tiak kunjung menjawab, Tito kembali berbicara.
"Sebaiknya hal ini kamu bawa atau tanyakan pada orang pintar."
Dita tersenyum, "Apakah aku tidak cukup pintar, sehingga harus menemui orang pintar kembali?"
"Bukan itu maksudku, Sayang, karena aku percaya kamu jauh lebih pintar dari mereka, namun itu masalah akedemik dan bukan masalah klenik seperti ini."
"Mungkin ini yang aku rindukan darimu, Mas. Tidak ada yang bisa mengerti aku sebaik dirimu."
"Makanya aku mau melindungi kamu meski ragaku sudah tidak ada setidaknya aku masih bisa menemanimu setiap waktu."
"Iya, Sayang. Terima kasih."
"Sama-sama, setelah ini aku akan menemanimu dalam menghadapi takdirmu. Jangan sampai ada sebuah keraguan yang mengisi hatimu."
"Berjanjilah kamu akan selalu mencintaiku."
"Aku berjanji, bahwa aku Hastito Setiawan akan selalu mencintaimu sampai Tuhan memanggilku."
"I love you Anindita Puspa Ayu Batari."
"Love you to Hastito Setiawan."
Akankah cinta beda alam akan membawa sebuah kebahagiaan? Entahlah, tapi othor punya rekomendasi novel tentang hantu loh.
Jangan lupa mampir di Cerpen othor, search aja Kutukan Gendhis, ditunggu kedatangannya, Sayang.