Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 199. BERHARAP


Saat Fano semakin kepanasan, tiba-tiba saja kulitnya melepuh dan mengeluarkan asap. Tentu saja hal itu membuat Dita memundurkan langkahnya karena ketakutan.


"Aku belum pernah bersentuhan dengan Mas Fano dalam hal itu, kenapa kalian begitu jahat kepadaku!"


Dita berteriak-teriak karena kepalanya terasa sakit. Kedua tangannya memegangi kepalanya yang berdenyut kencang. Tiba-tiba saja sebuah lagu Jawa mengalun indah di kedua telinga Dita.


Begitu indah hingga Dita tidak menyadari jika saat ini tubuhnya sudah dikungkung oleh seorang laki-laki yang sangat ia kenal.


"Mas Fano? Apa yang sedang kamu lakukan? Bukankah kamu tahu konsekuensinya jika melakukan hal itu padaku?"


Tangis Dita tidak terbendung lagi saat kedua tangannya mulai dicekal oleh kedua tangan Fano. Sementara Fano yang asli masih merasa kesakitan.


Menyadari jika istrinya dalam bahaya membuat Fano mengabaikan rasa sakitnya dan mencari keberadaan Dita.


"Dit-dita ... kamu dimana?"


Fano terlihat sempoyongan, tubuhnya masih terasa belum nyaman. Untuk sekedar berdiri saja ia harus berpegangan ke sisi tembok.


Rasa sakit yang menderanya membuat Fano harus bergerak dengan cepat. Terlebih lagi saat ini kepalanya ikut berdenyut.


"Kenapa tidak ada yang menyahut?"


Di dalam kamar, Dita masih terisak ketika melihat sosok yang mirip dengan suaminya tersebut bersikap sangat kasar terhadapnya. Dengan segala kekuatan yang Dita miliki ia segera menjejakkan kakinya ke arah pusaka milik Fano hingga membuatnya mengaduh.


Sosok Fano itu mengaduh tetap ia tidak mengeluarkan suaranya.


"Dasar manusia tidak tahu diuntung! Jangan harap ada manusia yang bisa menyentuhmu sebelum aku lebih dulu melakukannya terhadapmu!"


Dari dalam kamarnya, Yuli tersenyum ketika menyadari kalung pemberian darinya tetap dapat dipakai oleh Dita.


"Bagus, Dita. Pertahankan kalung itu agar dirimu selalu selamat. Kini giliranku untuk menolong Fano."


Yuli segera merapalkan manteranya kembali selama beberapa waktu. Berkonsentrasi agar mereka bisa selamat saat ini.


Tiba-tiba suara angin bergemuruh di atas genteng rumah Keluarga Nyonya Kirana dan juga rumah Keluarga Handoko. Tangan Nyonya Sekar gemetar ketika hendak menyentuh tangan suaminya.


Kondisi saat ini adalah keduanya sedang terlelap. Akan tetapi Nyonya Sekar tidak bisa tidur sedari tadi hingga ia terus terjaga. Lain lagi dengan kondisi suaminya yang semakin terlelap saat ini.


"Ada apa ini? Kenapa aku justru merasa tidak nyaman dengan semua ini?"


Nyonya Sekar mengusap kedua bahunya yang terasa sangat dingin. Ia bahkan lupa jika saat ini dirinya sedang sendirian di dalam kamar.


Tuan Handoko tiba-tiba saja menghilang dari atas tempat tidur. Tentu saja Nyonya Sekar semakin ketakutan akan hal itu.


"Jika aku menjadi lemah, bagaimana bisa menyelematkan Dita di kemudian hari."


Nyonya Sekar tiba-tiba saja teringat dengan perkataan dari suaminya yang mengatakan jika apapun yang dipikirkan olehnya bisa jadi terjadi sehingga ia harus menjaga pola pikirnya agar selalu positif dan terhindar dari hal-hal yang buruk.


"Aku yakin jika Dita bisa melindungi diri dan suaminya dari pengaruh jahat!"


Kini di sela-sela ketakutan yang ia rasakan, Nyonya Sekar memanjatkan doa-doa terbaiknya untuk putri dan menantunya Fano.


"Ya, Tuhan, lindungilah semua hal yang berkaitan dengan putri dan menanti saya. Tidak ada Zat yang lebih tinggi kedudukannya selain engkau. Semoga Fano dan Dita dalam keadaan baik-baik saja, Aamiin."