Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 160. BERTEMU KAKEK


"Akhirnya kamu datang untuk memenuhi janjimu, Nak. Kakek sangat berterima kasih padamu."


Kakek Danu tersenyum pada cucunya. Ia memang sudah lama menantikan kedatangan Danu. Hanya saja ia tidak tahu apakah ini memang takdir atau ada sesuatu yang mendorong cucunya untuk datang kepadanya.


"Terima kasih karena sudah menerima kehadiranku, Kek. Maaf kalau merepotkan."


"Enggak ada yang merepotkan, kamu masuk dulu, ayo!"


Terlihat senyuman Kakek Danu sangat tulus kepadanya.


"Terima kasih."


"Hm."


Setelah pintu terbuka, kakek mempersilakan Danu untuk masuk dan beristirahat untuk sejenak. Rumah Kakek Danu memang tidak mewah justru terkesan jauh dari kata mewah dan sangat sederhana. Tidak ada banyak perabot di dalam rumah itu.


Hanya ada beberapa barang yang biasa digunakan untuk keperluan makan itu pun sangat sederhana. Danu bisa memakluminya karena beliau tinggal sendirian di rumah itu.


"Ada apa? Apakah kamu merasa tidak nyaman datang kemari, atau karena rumah Kakek jelek?"


Danu sontak menggeleng, "Bukan begitu, Kek. Aku justru tidak keberatan."


"Benarkah? Biasanya anak kota tidak suka dengan kondisi rumah yang sangat kecil seperti ini."


"Ha ha ha, itu 'kan mereka, bukan saya. Kalau saya justru merasa senang bisa datang kemari dan menemukan keberadaan Kakek."


Kakek Surya tersenyum mendengar penuturan dari cucunya tersebut. Saat Kakek Surya ingin melangkah ke dapur, Danu mengucapkan keinginan hatinya.


"Terima kasih, Kek. Sebagai bentuk bakti saya kepada para luluhur, saya rela melakukan apapun."


"Bagus, aku sangat menyukai tekadmu itu. Aku ke belakang sebentar, kamu tidak apa-apa, 'kan kalau aku tinggal?"


Danu menggeleng, "Tidak apa-apa, Kek."


Tidak berselang lama, Danu duduk diatas dipan (sebuah alas tidur atau duduk yang terbuat dari bambu yang dianyam). Sesekali ia melihat apa yang dilakukan oleh kakeknya.


Selepas menyambutnya, kakek tersebut sengaja untuk segera pergi ke dapur. Entah apa yang sedang ia lakukan di sana, karena ternyata beliau cukup betah berlama-lama di sana.


Hingga beberapa saat kemudian, beliau membawa sebuah nampan berisi air minum dan juga singkong rebus.


"Kenapa kok tegang begitu, Kakek cuma membuatkan minuman hangat untukku dan membawakan singkong rebus buat pengganjal perut saja," ucap Kakek sambil tersenyum.


"Kok repot-repot, Kek. Seharusnya tidak seperti itu. Biarkan saja di dapur, nanti kalau Danu lapar pasti nyari ke sana."


Danu terkekeh mendengar ucapan dari kakeknya tersebut.


"Kakek bisa saja. Semua ini saja sudah lebih dari cukup. Aku sangat berterima kasih pada Kakek karena telah menolongku."


"Sama-sama, Nak. Oh, ya apakah kedua orang tuamu curiga?"


"Tidak sama sekali, justru saat Danu pamit mereka tersenyum dan memberikan doa terbaik untukku."


"Ya sudah kalau begitu, semoga mereka tulus mendoakanmu."


"Terima kasih, Kek."


Tidak berselang lama, udara malam di pegunungan memang sangat dingin. Apalagi rumah Kakek Danu terbuat dari dinding anyaman bambu dan berongga. Bahkan tidak ada kasur atau penghangat ruangan di sana.


Sesekali Danu mengusap telapak tangannya agar mengurangi rasa dingin. Hal itu tidak luput dari pandangan Kakeknya.


"Loh, ayo dimakan makanannya, jangan dianggurin seperti itu?"


Danu menganggukkan kepala lalu meminta sang kakek untuk ikut makan bersamanya.


"Kalau Danu makan, alangkah baiknya Kakek juga ikut makan!" ajak Danu sambil tersenyum.


"Baiklah, kakek akan menemanimu makan."


Tidak berselang lama, mereka pun makan bersama-sama. Keduanya tampak larut dalam kehangatan. Meksipun makanannya sangat biasa, tetapi Danu menikmatinya. Apalagi kehangatan saat makan bersama seperti ini jarang sekali ia dapatkan ketika bersama kedua orang tuanya.


"Sudah tidak kedinginan lagi, 'kan?"


"Alhamdulillah sudah tidak, kok. Apalagi saat ini sudah kenyang."


"Ya sudah kalau begitu, sebaiknya kamu istirahatlah lebih dahulu."


"Baik, Kek."


Kakek Surya berangsur pergi meninggalkan Danu sendirian. Ia pun menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan semuanya.


"Loh, kakek pergi kemana? Kenapa aku tidak melihatnya?"


Seketika Danu seolah mengantuk, karena ia tidak bisa menahan rasa kantuknya seketika itu juga ia tertidur. Kakek Surya tersenyum karena melihat cucunya telah tertidur. Sementara itu ia bergegas pergi dari rumah miliknya menuju sebuah gua.