
...Sinten sinambat ing wewangi iki...
...Hamung siro yekti...
...Eseme kang manis madu...
...Duh, wong bagus...
...Tresno lir tirto gumanti dahono...
...Awit siro marang roso...
...Endah rumembyak rekmamu...
...Dadyo angenku saben dalu...
Gending Jawa yang terdengar mengalun indah seolah menyiratkan isi hati Dita saat itu. Menemani setiap detik yang terlewat, mengusir keheningan. Dita masih betah berada di ambang jendela kamarnya, melihat rembulan dari sana.
Tiba-tiba saja bau lebus tercium dari tempat Dita berdiri. Ia segera mencari sumber bau tersebut tanpa rasa takut sedikitpun.
"Bukankah bau ini sering tercium saat aku hendak melakukan malam pertama? Apakah makhluk itu datang lagi?"
"Akan tetapi dia datang ke sini untuk apa? Aku saja baru berduka," ucap Dita kebingungan.
Tidak lama kemudian, sekelebat bayangan hitam melesat di sisi gazebo. Samar-samar Dita bisa melihat hal itu. Secepat kilat bayangan hitam menghilang dari pandangan Dita, lalu terlihat kembali seolah mengintip Dita dari sela-sela pepohonan yang rimbun.
Pandangan Dita terus mengikuti gerakan dari bayangan tersebut. Apalagi suara ranting dan dedaunan yang tersibak membuat bunyi gemerisik.
"Untuk apa dia kemari?" gumam Dita sambil menelisik ke arahnya.
Tiba-tiba bau melati semerbak memenuhi ruangan Dita, menggantikan bau lebus yang sedari tadi mengganggu indera penciuman Dita.
"Apa bayangan itu pernah kamu jumpai sebelumnya, cucuku?
Sontak Dita terkejut dan menoleh dengan tiba-tiba, "Kanjeng Nyai?"
Dita mengatupkan tangannya seolah sedang memberikan penghormatan kepada leluhurnya. Baru setelahnya ia mulai mengatakan hal itu kepada beliau.
"Iya, beberapa kali saya pernah melihat sosok itu datang ketika saat saya hendak menjalani ritual malam pertama."
Leluhur Dita berbalik dan memandang intens ke arahnya. Seolah ia ingin mengatakan sesuatu agar Dita lebih bijaksana lagi setelah ini.
"Sosok ini memang sering mengintip rumah ini, Nduk."
Ucapan dari leluhurnya itu begitu membuat Dita terkejut. Bagaimana mungkin sosok itu berani berbuat nekad terhadapnya. Padahal jelas-jelas Dita sama sekali belum pernah menyinggungnya.
"Buat apa, Kanjeng Nyai?"
Belum sempat beliau menjawab, Dita sudah kembali bertanya lagi.
"Apa Kanjeng Nyai, mengtahui siapakah dia yang sebenarnya?"
Kanjeng Nyai menggeleng.
"Aku tidak tahu sosok ini sebenarnya siapa dan tujuannya apa, yang aku tahu dia adalah kiriman."
"Kiriman?" kening Dita berkerut.
"Iya, dia mendekatimu bukan karena keinginannya, akan tetapi ada yang membuat perjanjian dengannya. Selama ikatan yang menyuruhnya belum melepasmu, maka dia akan terus mengikutimu."
"Ha-ah, siapa? Kenapa ada orang sejahat itu padaku, Kanjeng Nyai?" tanya Dita tertunduk lesu.
Mengingat banyaknya ujian yang sedang ia alami membuat Dita tidak bisa berpikir tenang. Namun, hal yang lebih mengejutkan adalah ketika Kanjeng Nyai tiba-tiba saja melompat tinggi dan menyerang bayangan itu.
Padahal masih banyak pertanyaan yang ingin diucapkan Dita kepada leluhurnya itu. Semakin lama melihat pertarungan mereka, semakin membuat Dita ketakutan. Takut karena bisa membuat orang-orang di sekitarnya terganggu dan juga menuduh dirinya sebagai sosok pembawa sial.
"Errgghhh!" terdengar raungan cukup kencang dari bayangan tersebut.
Ternyata kekuatan Kanjeng Nyai mampu melumpuhkan bayangan itu. Kini ia bahkan bergerak secepat kilat dan sudah berdiri di hadapan bayangan yang sedang meraung kesakitan.
"Tunjukkan wujudmu!" gertak Kanjeng Nyai pada makhluk yang sedang menunduk itu.
Bukannya memperlihatkan wajahnya ia justru menyerang Kanjeng Nyai. Lalu sesaat kemudian ia melarikan diri karena merasa tidak akan bisa menang dari Kanjeng Nyai.
Dita tidak bisa membantu apapun dalam hal ini, ia hanya bisa menunduk lalu sesaat kemudian Kanjeng Nyai sudah berada di dekatnya.
"Ada yang melindungi makhluk tadi, Nduk."
"Si-siapa, Nyi?"
"Aku tidak tahu, selama kita tidak bisa melumpuhkan makhluk itu aku tidak akan bisa mengetahui Tuannya."
"Tapi dari baunya ia sejenis genderuwo," terangnya kemudian.
Sejenak bulu kuduk Dita meremang karena takut dengan sosok tersebut. Membayangkan makhluk itu sering berada di sekitarnya membuat ia bergidik ngeri.
"Jadi yang selama ini membunuh semua suamiku dia?"
"Mungkin saja, aku tidak berani mengatakannya jika belum terbukti, kita hanya bisa menduganya untuk sementara waktu."
"Iya, Kanjeng Nyai."
"Sudahlah, hari sudah larut malam, segeralah tidur aku akan menyanyikan sebuah lagu Jawa untuk menemani tidurmu."
"Benarkah?"
Kanjeng Nyai tersenyum lalu mengangguk.
"Tentu saja aku juga sekaligus datang untuk menjagamu, kamu tidak usah hawatir, tidurlah!"
Dita mengangguk senang, lalu sesaat kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Pintu jendela kamar Dita tiba-tiba tertutup sempurna seiring suara lantunan lagu Jawa yang mengalun indah. Membuai setiap makhluk yang kelelahan agar bisa terlelap dalam buaian mimpi.
Tiba-tiba saja tubuh Kanjeng Nyai mengeluarkan aroma melati yang sangat tajam, lalu sesaat kemudian muncul asap putih yang menggumpal. Hanya dalam sekejap saja sosok Kanjeng Nyai menghilang sesaat setelah Dita terlelap dalam mimpi-mimpi indahnya.
Keesokan harinya.
Suara ayam jantan yang berkokok bersahut-sahutan mengisyaratkan jika hari sudah pagi. Mentari di ujung timur mulai menampakkan keindahannya.
Sama dengan hari-hari selanjutnya, Dita sudah terbangun dari tidurnya. Tidak lupa sebelum mandi, Dita akan merapikan pakaian tempat tidur dan kamarnya. Sesaat kemudian ia segera mendekati laptop miliknya yang sudah lama tidak ia pakai.
Sesekali ia melihat keadaan orang-orang di sekitarnya untuk mengetahui kabar terkini dari mereka. Dita melihat akun instagram yang pernah ia buat, lalu melihat satu persatu akun pertemanan yang mengiriminya.
Satu nama yang mengusik dirinya adalah Danuarta. Ia langsung mengklik akun tersebut untuk melihat siapa dia? Apakah orang yang pernah kenal dengannya atau hanya sekedar mengirim pertemanan.
"Mas Danu?"
"Delapan minggu yang lalu? Itu artinya saat ia baru saja pergi dari sini, dan ia tahu saat itu aku baru punya akun di IG?"
Namun, ternyata Danu sama sekali tidak membuat postingan sejak itu. Dia hanya dua kali membuat sebuah postingan di sana. Dita membuang nafasnya kesal.
"Tidak ada yang bisa aku dapatkan di sini?"
Akan tetapi ia membuka akunnya, ternyata dia lebih parah. Dita hanya pernah memposting sebuah unggahan saat ia berfoto di area perkebunan teh saat senja.
"Jika aku menambahkan informasi di sini, apakah ia akan menghubungiku?" tanya Dita pada dirinya sendiri.
Namun, tangan Dita seolah ada yang menyuruh. Ia langsung menambahkan beberapa informasi tentang dirinya di sana. Lalu sebuah senyuman tersungging setelahnya.
"Aku harus bangkit, aku tahu dunia ini begitu luas. Kalau daerah sini tidak bisa menerimaku, aku bisa pergi ke luar kota."