
"Duh wong ayu, sliramu sekar melati ...."
Sayup-sayup terdengar suara nyanyian Jawa. Entah mengapa setelah ritual tersebut Dita justru terlihat lebih menjadi seorang pendiam. Tidak banyak bercerita tetapi justru lebih banyak membisu.
"'Cantik-cantik Kok bisu!" ucap salah seorang warga yang sering melihat Dita diajak bepergian oleh Mbok Nem.
Niat hati ingin membuat semuanya baik-baik saja akan tetapi hal lain justru terjadi sehingga membuat Dita semakin mengunci mulutnya rapat-rapat.
Kini Dita sedang duduk di atas bebatuan cadas di sungai. Hanya ada gemercik air beriak yang kemudian menimbulkan suara gaduh sebagai tanda bahwa Dita masih memikirkan sesuatu.
Nyonya Sekar dan Tuan Handoko sesekali datang menengok Dita di dalam hutan tersebut. Akan tetapi ia sama saja tidak memberikan respon apapun.
Merasa miris pada Dita, Nyonya Sekar berlari pergi mencari suaminya. Melihat sang istri yang menangis, tentu saja Tuan Handoko menjadi terenyuh.
"Kamu kenapa lagi?"
Mbok Nem hanya menunduk, ia sama sekali tidak berani menatap ke arah majikannya itu karena rasa hormatnya. Berbeda halnya dengan keadaan Nyonya Sekar yang sama sekali berbeda dengan suaminya.
Dari balik pohon, ada sebuah tangan yang mencengkeram diantara pepohonan. Hingga akhirnya Dita lebih memilih untuk mengangkat kakinya dan beranjak mendekati mendekati pohon tersebut.
Semakin ia pergi, maka langkah kaki panjangnya menuntun Dita hingga sampai di sebuah tempat yang tidak ia kenali. Ada sebuah gua besar, dia tampak melihat ke arah kanan dan kiri sebelum benar-benar memutuskan untuk masuk ke dalam sana.
Sampai akhirnya Dita berhasil menyusul sosok wanita misterius itu. Sosok tersebut sama sekali tidak merasa dibuntuti oleh Dita, hingga Dita pun menyapanya.
"Siapa kamu? Sepertinya kita tidak saling mengenal satu sama lain? Lalu kenapa beberapa hari ini kamu seolah mengawasiku?"
Sosok wanita itu sama sekali tidak menanggapi panggilan Dita. Ia terus melangkahkan kakinya masuk. Jalan yang dilaluinya tampak gelap dan sangat gelap. Aneh, Dita sama sekali tidak ketakutan.
Menurut Dita tidak ada hal yang paling menakutkan dibandingkan dengan penampakan sosok yang sering membunuh suami-suami terdahulunya. Beberapa waktu menyusuri jalan setapak di dalam gua membuat kaki Dita terasa sakit.
Dita mempercepat langkahnya. Hingga sampai di sebuah tempat kini langkahnya benar-benar berhenti.
"Hei, aku bilang berhenti ya berhenti! Jangan membuatku semakin penasaran!"
Sosok wanita itu berhenti sesuai dengan kata hatinya. Langkah kaki Dita membeku ketika ia berhasil menyibak kain penutup di tubuh wanita itu.
Tangannya tiba-tiba saja merasakan kaku. Terlihat sebuah tangan yang mencengkeram erat lengannya. Namun, seketika wajahnya menjadi pias, kala penglihatannya tertuju pada tangan yang memegangnya.
Tangannya berwarna hitam legam dan terputus tepat pada pergelangan tangan. Sontak saja kedua mata Dita terbelalak ketika melihatnya.
Tanpa ada yang meminta, Dita memundurkan langkahnya hingga tubuhnya terpentok ke dinding gua. Sosok tersebut masih terdiam sambil menatap ke arah Dita.
"Tolong ... tolong aku ...." ucapnya sambil menatap tajam ke arah Dita.
"Tolong apa? bukankah kita tidak saling mengenal satu sama lain?"
"Percayalah, aku bisa membantu masalahmu, bahkan aku bisa membuat sosok yang selalu mengikuti kamu pergi. Bukankah kau ingin mempunyai seorang suami yang bisa hidup selamanya?"
Deg
Bagaikan tertampar ucapan sosok wanita tersebut, pikiran Dita kembali kalut. Namun, sosok misterius itu justru tertawa terbahak-bahak hingga membuat dinding gua bergetar hebat. Seketika bulu kuduk Dita meremang ketika sosok itu sudah berdiri di samping tubuhnya.
"Bagaimana Anindita Puspa Ayu Batari? Apakah kau menerima perjanjian dariku ini?"
"A-aku ...."