
Apa yang ditakutkan Dita seolah menjadi kenyataan, karena ternyata Nyonya Sekar memang sudah merencanakan perjodohan Dita dengan seseorang dan hal itu bisa Dita pastikan saat kedua orang tuanya yang berbincang-bincang di kamar sebelah.
"Sebaiknya kita memang mengatakan apa yang akan kita lakukan setelah ini, Bu. Kita tidak bisa terus menerus menyembunyikan hal ini darinya."
Tuan Handoko merasa tidak enak terus melukai hati anaknya. Ia sangat tahu jika putrinya sedang tidak baik-baik saja. Akan tetapi tidak dengan istrinya yang sudah merasa risih dengan ucapan orang-orang di sekitarnya.
"Biarkan saja, Pak. Kita tidak tahu apakah Dita akan setuju atau malah kabur."
Ternyata sikap Nyonya Sekar belum berubah. Oleh karena itu beliau membiarkan keinginan istrinya itu berjalan sesuai isi hatinya. Sepertinya ia juga tidak bisa berbuat banyak kali ini.
"Apa yang sebaiknya aku lakukan?" guman Dita dari balik tembok.
Merasa jika ia tidak bisa menguasai hatinya maka ia lebih memilih untuk segera kembali ke kamar. Rasa sesak memnuhi rongga dadanya kali ini. Air matanya sudah tidak tertahan lagi. Ingin rasanya ia berteriak, agar beban di hatinnya bisa hilang. Namun, ia masih menjaga kewarasannya saat ini.
Jika ia bertindak gegabah, sudah bisa dipastikan jika peraturan yang ia dapatkan justru semakin banyak. Lagi pula apapun yang ia lakukan pasti akan salah di mata kedua orang tuanya. Entah kenapa Dita merasa jika takdir hidupnya terasa sangat tidak adil.
Dita tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan oleh kedua orang tuanya. Jika Dita bisa memilih, jika saja Dita mempunyai saudara lain, mungkin ia bisa meminta tolong kepadanya. Atau mungkin kejadaian seperti ini tidak akan terjadi. Namun, kenyataannya tidak demikian.
"Mungkin ini yang aku takutkan. Akhirnya terjadi ...." ucap Dita dengan miris.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
Dita melihat pantulan dirinya di depan cermin. Ia melihat sebenarnya apa yang salah dengan dirinya. Kenapa selalu ada petaka yang mengiringi langkah hidupnya. Bahkan hal itu sampai mempengaruhi kehidupan orang-orang di sekitarnya.
Dita mengusap bahunya yang semampai, entah kenapa ia sudah tidak bisa melihat tanda lahir yang menempel di bahunya itu.
"Apakah bentuk tubuhku yang seperti ini yang mampu mengundang makhluk halus untuk selalu mendekatinya? Tapi kenapa harus aku?"
Salah satu tangan Dita membelai bahunya yang semampai, seolah ia mulai mendapatkan jawaban atas semua kejadian yang terjadi di dalam hidupnya.
Dita sudah merasakan alarm lain di tubuhnya. Tidak mau masuk lebih dalam lagi, Dita lebih memilih untuk mengalihkan perhatiannya ke ponsel miliknya.
Akhirnya, Dita menghabiskan waktunya dengan berselancar di dunia Maya. Dita menyibukkan dirinya dengan membaca artikel-artikel tentang keanehan yang terjadi pada wanita seusianya dan hampir memiliki tanda lahir seperti dirinya.
Bahkan sebuah kata yang membuatnya enggan untuk menikah kembali juga ia tuliskan di dalam sebuah pencarian. Ternyata banyak artikel yang mucul di sana.
Artikel itu membawanya dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Bahkan muncul sebuah keraguan tentang apa yang sedang ia lakukan selama ini dan hal-hal apa saja harusnya tidak ia lakukan.
Dita memijit pelipisnya dengan keras. Akan tetapi saat ini ia belum bisa memilah mana yang terbaik untuknya dan tidak. Dita masih merasa gamang dengan semua ini. Andai Bisma masih ada, mungkin ia bisa berbagi cerita dengannya.
Namun, kenyataannya saat ini ia hanya sendirian di dalam kamar yang sunyi. Di dalam kesendiriannya, Dita merasa sangat merindukan kehadiran Rani yang biasanya cerewet dan suka menghangatkan suasana.
"Saat ini, Rani sedang apa, ya?"
.
.
Rumah Rani.
Kehidupan Rani yang sebelumnya baik-baik saja kini sedikit berbeda, terlebih saat ia sudah tidak bersama Dita lagi. Sejak saat itu ia bahkan sudah putus kuliah.
"Bu, makanannya sudah siap, aku pergi bekerja dulu," ucapnya sambil berpamitan.
Rani meletakkan sebuah mangkuk di atas meja dengan segelas minuman serta beberapa butir obat. Ibunya tidak memberikan respon lain kecuali sebuah tatapan kosong.
Sejak ayahnya meninggal, ia yang menjadi tulang punggung dari keluarganya. Biaya hidup yang tinggi kini telah mencekiknya. Belum lagi ibunya yang menjadi sakit-sakitan semakin menambah beban hidupnya.