
Suara lantunan ayat suci masih mengalir deras di rumah Danu. Ibunya menemukan putranya pingsan di depan rumah kontrakannya. Tanpa meminta ijin padanya, ia segera membawa pulang putranya.
Sejak saat itu pula, Danu terjebak di alam ghaib. Tidak banyak yang tahu jika Danu pernah dibawa ke alam ghaib oleh raja jin yang mengganggu Dita. Sejak saat itu ia memang lebih mudah diajak berpindah dimensi oleh makhluk tidak kasat mata.
Bagi mereka, aroma tubuh Danu sudah dikenali dan disukai oleh mereka. Sama halnya dengan Dita yang tubuhnya sangat disukai oleh makhluk alam lain.
"Bagaimana Pak Ustadz apa ia sudah kembali?" ucap Ibunda Danu hawatir.
Sang Ustadz menoleh ke arahnya, "Sabar, mungkin setelah ini, ya."
Lantunan ayat suci kembali berkumandang. Mengetuk pintu Illahi agar diberikan Rahmat dan bisa membantu membimbing kepulangan Danu ke alam manusia.
"Hi hi hi, rumangsamu, di lereng jurang koyo ngene bakal eneng manungso sing iso nulungi kowe?"
(Menurutmu, di lereng jurang seperti ini akan ada manusia yang bisa menolong kamu)
Nenek Maemunah seolah tahu dengan apa yang dipikirkan oleh Danu. Bagiamana pun Danu berusaha untuk melepaskan diri, ternyata ia tetap kembali lagi.
"Kenapa aku susah sekali terlepas dari jeratan makhluk menyeramkan ini?" gumam Danu.
Nenek Maemunah hanya menyeringai.
"Bocah ganteng, kamu tuh sudah jadi lelaki idamanku, jadi bagaimana pun caramu melepaskan diri dariku tidak akan bisa, hi hi hi ...."
Namun, rupanya kekuatan Kalam Illahi lebih tinggi dari apapun. Sehingga pada malam itu, atas ijin Allah akhirnya jiwa Danu bisa kembali ke raganya.
Tangan Danu bergerak-gerak sehingga ibunya bisa melihat hal itu.
"Nak, syukurlah akhirnya kau siuman."
Ibunda Danu segera memeluk putranya. Sudah dua Minggu lebih Danu tidak siuman, tentu saja hal itu membuat ibunya khawatir. Beruntung ia mempunyai teman baik yang mengenalkannya pada seorang Ustadz. Hingga hari ini ia bisa bertemu kembali dengan putranya.
"Loh, Ibu ...." seru Danu kebingungan.
"Iya, Nak. Ini Ibu ...."
Wanita itu akhirnya memeluk kembali putranya. Tidak lupa ia memberikan minum pada Danu. Danu memang sedikit bingung, seingatnya ia sedang berada di hutan, tetapi apa ini?
"Tidak usah bingung, Nak. Pelan-pelan saja. Nanti setelah kamu sudah baikan, maka aku akan menceritakan semuanya."
"Ba-baik Pak Ustadz."
Di sisi lain, roh Tito dalam keadaan kritis. Dita saja bahkan sudah muntah da-rah. Badannya lemas, Tito yang melihat istrinya terluka segera mendekatinya.
Sayang, tangannya tidak bisa menyentuh Dita seperti biasanya. Betapa terkejutnya ia ketika menoleh pada tubuh Tiyo. Makhluk itu sedang menyayat tubuh saudara kembarnya itu. Sontak Tito berlari ke arahnya, ia segera memasuki tubuh saudaranya kembali.
SRASH
Kilatan cahaya putih menembus kamar Dita. Cahaya itu langsung menghunus tubuh makhluk mengerikan itu hingga ia mengerang kesakitan.
Tidak begitu lama kemudian, makluk itu musnah. Suasana mencekam yang tadinya menyelimuti Kediaman Handoko berangsur-angsur hilang. Suara adzan subuh menggema, menggantikan dinginnya malam mencekam itu.
Mbok Nem yang baru saja tiba di halaman rumah segera berlari ketika melihat jendela kamar Dita tidak tertutup. Tas yang tadi dibawa sampai ia buang ke segala arah.
Braakkk!!!
Pintu kamar Dita terbuka lebar. Dilihatnya sudut kening Dita masih berda-rah. Di lantai juga ada ceceran da-rah, sementara itu Tito masih terkapar di atas tempat tidur.
"Den Ayuuuu!" teriaknya panik.
Dipungutnya tubuh Dita dengan hati-hati.
"Den Ayu kenapa?"
Tidak bisa berbuat banyak, Mbok Nem mengembalikan tubuh Dita ke lantai dan membangunkan Tito.
"Den ... Den Bagus, bangun!"
Kedua mata Tito mengerjap, sedikit merasa pening tetapi ketika melihat Mbok Nem di dekatnya ia sangat terkejut.
"Ada apa, Mbok?"
"Den, Den Ayu ...." tunjuknya pada tubuh Dita yang terkapar di lantai.
"Ayuuuu!"
Meski tubuhnya masih merasa sakit, ia segera mendekati tubuh Dita dan menggendong tubuh istrinya ke arah tempat tidur.
"Ambilkan air hangat ya, Mbok!"
"Baik, Den Bagus."
"Jangan lupa ambilkan minyak kayu putih sekalian."
"Iya, iya ... Den Bagus."
Buru-buru Mbok Nem segera berlari ke dapur dan mengambilkan semua barang permintaan dari Tito. Akan tetapi saat ia melangkah kaki Mbok Nem dicekal oleh sesuatu.
BRUKK!
......................
Sambil nunggu up jangan lupa mampir ke sini bestie