
Para pekerja di rumah tersebut yang mendengar teriakan junjungan mereka segera berlari mencari sumber suara tersebut. Para pekerja laki-laki datang berbondong-bondong ke sebuah lorong dekat dengan kamar Dita.
Melihat ada seekor ular yang terlihat siaga dan seolah ingin mematok salah seorang dari mereka, Pak Joko segera mengambil inisiatif. Ia segera mengambil salah satu bambu yang ada di ujung lorong untuk menghalau ular tersebut.
"Hati-hati Pak Joko!" ucap Nyonya Sekar hawatir.
Nyonya Anggraeni juga ikut memperingatkan Joko akan hal itu. Setelah berhasil mengambil bambu, Pak Joko menyuruh junjungannya untuk mundur.
"Kanjeng Ibu sebaiknya mundur perlahan, biar saya menghalau ular ini," ucap Pak Joko pada Nyonya Sekar.
"Iya, Pak Joko hati-hati, ya!"
"Iya, Kanjeng Ibu."
Saat Pak Joko hendak menghalau ular tersebut, tenyata ular tersebut sudah menghilang dari hadapannya.
"Loh, kemana larinya ular tersebut?"
Pak Joko celingukan mencari kemana perginya ular tersebut. Namun, ia sempat melihat ekornya, lalu ia pun berlari mengejarnya.
"Astaghfirullah, kenapa masuk ke kamar Den Ayu?"
Tampak sekali ketakutan di wajah Pak Joko, tetapi ia tidak bisa mendobrak pintu kamar Dita. Maka dengan terpaksa, Pak Joko berteriak dari luar.
"Mohon maaf Den Ayu, ada ular yang menerobos masuk ke kamar Den Ayu, apakah bisa membuka pintu kamarnya sebentar?" ucap Pak Joko sambil membungkuk hormat.
Tidak perlu menunggu waktu yang lama, Dita membuka pintu kamarnya. Hembusan angin kencang seketika berhembus dari belakang tubuh Pak Joko dan menerpa tubuh Dita. Rambut sepinggang milik Dita yang terurai, kini berkibar saat terkena hembusan angin tersebut.
Sosok Dita semakin terlihat ayu meskipun tanpa make up, tetapi ada bau bunga melati segar yang menusuk hidung Pak Joko ketika ia menengadahkan wajahnya ke arah Dita.
"Bau ini ...."
"Ada apa, Pak? Kenapa melihatku seperti itu?" ucap Dita dengan lantang.
Entah kenapa aura Dita hari itu sangatlah berbeda, terlebih lagi ia memakai kebaya berwarna hijau dengan paduan jarik sidomukti berwarna cokelat. Tangan Dita bahkan saling menangkup di depan perutnya. Terlihat cantik bagaikan seorang putri bangsawan.
Pak Joko sampai terpukau akan kecantikan junjungannya tersebut. Lalu sesaat kemudian barulah kesadarannya kembali.
"Ta-tadi ada ular besar masuk ke dalam kamar Den Ayu."
"Oh, periksalah ke dalam jika kamu mau!"
Nada bicara Dita benar-benar terlihat lain tetapi sangat berkelas. Tidak terlihat jiwa anak muda seperti pembawaan sehari-hari Dita.
"Ba-baik, Den Ayu."
Setelah Dita mempersilakan Pak Joko masuk, Dita berjalan keluar rumah menuju gazebo di belakang rumah. Lalu sesaat kemudian ia pun menyanyikan kidung Jawa sambil menyurai rambutnya dengan jari. Pandangan matanya sama sekali tidak berubah, hanya melihat ke arah kolam.
Sementara itu, tadi saat Pak Joko berpapasan dengan tubuh Dita, seketika bulu kuduknya merinding. Aura mistis Dita mendominasi malam itu. Ingin rasanya Pak Joko berlari namun, ia tidak bisa akhirnya ia pasrah dan meneruskan mencari keberadaan ular tersebut.
"Apa kamu mendengar lantunan kidung tersebut, Jeng?"
"Iya, aku mendengarnya, bagaimana kalau kita mencari sumber suara tersebut, oke?"
Nyonya Sekar mengangguk setuju. Lalu sesaat kemudian mereka berdua menyusuri lorong sampai ketemu dengan Dita yang berpenampilan aneh menurut mereka.
"Bukankah itu Dita, kenapa ia memakai kebaya?"
Kedua wanita itu saling memandang satu sama lain, hingga tidak sengaja Nyonya Anggraeni merasa jika kidung yang dinyanyikan Dita adalah lagu pemanggil arwah. Seketika Nyonya Anggraeni bergidik ngeri, membayangkan jika Dita saat ini sedang kerasukan.
Hingga belum sempat mereka mendekati Dita, dari dalam kamar Dita terdengar teriakan Pak Joko.
"To-tolong ...."
Lalu saat menyadari jika wanita yang dilihat mereka tadi sudah tidak ada di gazebo, bulu kuduk keduanya meremang.
"Kalian cari siapa?" tanya seorang wanita dengan wajah setengah tertutup rambut panjang menjuntai.
"Bu-bukankah kain yang dipakai kamu mirip sekali dengan yang dipakai Dita? Lalu kemana dia sekarang?" tanya Nyonya Sekar tergagap.
Mulut wanita dihadapan mereka melengkung ke atas. Lalu ia membuka mulutnya, tampaklah gigi penuh darah hitam yang menetes lalu tangan penuh darah itu terulur ke arah mereka.
"Hi hi hi ... jangan ganggu cucuku ...."
"Aaaaa ...."
Nyonya Sekar langsung pingsan di tempat. Sementara Nyonya Anggraeni mencoba bertahan dengan mulut terus membaca doa, sayangnya wanita itu tidak terpengaruh dan semakin mendekatinya. Lalu tanpa menunggu waktu yang lama ia mencekik leher Nyonya Anggraeni hingga ia jatuh tersungkur lalu sesaat kemudian ....
"Kaok ... kaok ... kaok ...."
Suara burung gagak terdengar mengiringi suasana malam tesebut. Sementara itu, Dita baru saja terbangun dari tidurnya. Melihat ada Pak Joko yang pingsan ia segera menghampirinya.
"To-tolong, siapa saja tolong ...."
Kebetulan malam itu Danu baru saja kembali dari kota. Niat hatinya ingin mengunjungi neneknya yang sakit. Saat melewati rumah joglo dengan penerangan seadanya, ia merasa terusik untuk melihat-lihat. Hingga ia mendengar teriakan seorang wanita dari dalam sana. Tanpa menunggu waktu lama, ia melompati pagar dan berlari mencari sumber suara.
"To-tolong ... siapa saja tolong saya ...."
Suara Dita hampir terputus, beruntung Danu datang tepat waktu.
"A-ada apa Nona?" tanya Danu spontan.
Dita yang melihat ada sesorang pemuda datang membantunya segera meminta tolong untuk melihat kondisi Pak Jaka. Sementara itu sebelum sampai kamar Dita, Danu sempat melihat kejadian janggal tetapi ia mengabaikan hal itu apalagi setelah ia tersihir dengan kecantikan Dita.
Lalu apakah ketiga orang tadi akan selamat dengan kedatangan Danu?