
Kejadian beberapa saat tadi sungguh di luar logika. Bagaimana tidak, dari luar ruangan terdengar suara gaduh yang bahkan membuat Dita dan Fano tidak sabar untuk melihat situasi di sana. Bahkan hal itu juga membuat Dita sampai terjatuh dan kini terluka.
Saat itu Nyonya Sekar sedang merayakan ulang tahun pernikahannya. Hingga Tuan Handoko memberikan sebuah dalam vas bunga saat ini.
Saat Tuan Handoko sedang memilih beberapa hadiah untuk istrinya. Ia pun berpikiran untuk menghadiahkan sebuah vas bunga kepada istrinya yang sangat mencintai tananam hias. Hingga ia tidak menyadari jika di dalam Vas itu ada sesuatunya.
Sejak pertama kali melihat Dita, sosok itu sudah jatuh cinta kepadanyaa. Meskipun ia tidak sehebat mereka, tetapi ia sangat yakin jika Dita adalah jodohnya. Saat ada seseorang anak yang mendekati Dita, maka ia akan marah.
"Cobalah untuk lebih memahami keadaan sekitar!"
"Tidak bisa digunakan untuk hal yang begitu istimewa, yang pertama ia lakukan adalah membanting Vas itu agar bisa keluar masuk dari fast tersebut."
Akan tetapi, ternyata tidak ada perbuatan yang membawa mereka kepada kemenangan. Hal itu agar tidak bisa keluar dari fase tersebut. Sehingga yang bisa menjatuhkan dirinya ke lantai dan pecah seketika namun rajin itu tetap berada di sederhana dan terkunci di desa.
Vas bunga tersebut aman, sementara itu yang ditakutkan oleh anggota keluar, takutannya ia tidak datang .
Sudah satu jam berlalu, Dita belum juga siuman. Hal itu membuat Fano sedikit takut jika ada suatu luka yang serius pada Dita.
"Kenapa kamu belum siuman, Sayang," gumam Fano sambil mengelus kepala Dita.
Teman Fano yang tadi hendak membeli hampers sudah pulang. Ia menunda untuk memilih hampers di toko Dita karena pemiliknya masih pingsan.
Sementara itu dua karyawan Dita saling memandang. Di satu sisi ingin menolong Dita, akan tetapi mereka takut jika lelaki yang berada di samping Bos-nya itu adalah calon suaminya.
"Gimana ini, sebaiknya kita tetap di sini atau melanjutkan bekerja?" tanya Lusi pada Nurul.
"Aku juga bingung nih, gimana enaknya, ya?"
"Sebaiknya kita sih bertanya dulu sama Bapak itu?"
Bagaimana bisa ia dipanggil Bapak sedangkan ia saja belum menikah.
"Apa wajahku setua itu?" ucapnya di dalam hati.
"Ma-maaf, Pak, eh Mas. Bukan maksud kami berkata begitu. Maaf sekali lagi saya minta maaf."
Nurul dan Lusi segera meninggalkan ruangan tempat dimana Dita berada. Fano tersenyum menyeringai ketika kedua karyawan tadi meninggalkan Dita di tempat itu sendirian.
Ia mengelus lembut wajah Dita yang sangat cantik. Sampai tidak terasa air liurnya menetes. Sosok yang tadi terlihat tampan dan rupawan kini telah berubah.
Kuku-kuku di tangannya sudah berganti memanjang dan berwarna hitam. Kulit tubuhnya yang semula putih bersih kini berubah penuh bulu dan berbau sangat anyir. Daun telinganya meruncing dan melebar. Bahkan kini giginya mulai mengeluarkan taring.
Dengan seksama ia menikmati wajah Dita. Memandangnya penuh kekaguman. Hingga saat ia hendak mencium kening Dita, muncul sosok Fano yang sebenarnya.
"Hei, siapa yang berada di sana!" gertak Fano saat melihat bayangan hitam yang duduk di sebelah Dita.
Melihat Fano yang asli datang, Fano palsu kembali mengganti wajahnya dengan menirukan sosok seperti orang lain lagi.
Padahal beberapa waktu yang lalu Fano memang meninggalkan Dita untuk sesaat karena ia harus buang air besar. Sementara ia masih memangku tubuh Dita.
"Dita, gue pipis dulu, ya. Kamu baik-baik ya, Sayang."
Fano mengerling manja saat ia menatap wajah Dita. Lalu ia pun pergi. Saat tidak ada orang yang menjaga Dita, ia pun menelisik dan bersiap untuk menyerupai Fano.
"Aku datang kepadamu, wahai permaisuriku," ucapnya bahagia.