
Setiap manusia tidak pernah luput dari dosa dan maksiat. Semakin banyak ujian yang mendera biasanya seiring berjalannya waktu maka akan mendewasakan pribadi masing-masing.
Begitu pula dengan Dita dan Rafano atau Fano. Sebanyak apapun usaha untuk memisahkan keduanya hasilnya tetap sama. Jalan takdir yang pernah menjeratnya kini justru mengembalikan mereka pada jalan yang sama.
"Bagaiman dengan wanita bercadar tadi, Nak. Bukankah sangat cocok jika menjadi pendampingmu kelak."
Fano yang tahu jika wanita tadi adalah Dita terus menyunggingkan senyuman manisnya. Jambang tipis yang terlukis di wajah Fano semakin membuatnya terlihat macho.
Tidak mendapatkan jawaban dari putranya, Nyonya Kirana menoleh. Ia tersenyum melihat perubahan wajah Fano sebelum dan sesudah bertemu dengan wanita tadi.
"Kamu tidak usah khawatir, jika benar kamu mencintainya, maka ibu akan mengusahakan untuk melamarkannya untukmu."
"Benarkah itu, Ibu?"
Nyonya Kirana tersenyum, "Tentu saja kenapa tidak?"
Sementara itu Dita melanjutkan langkahnya kembali ke rumah. Banyaknga kejadian hari itu membuat Dita tidak bisa melupakan bayangan kelam masa lalu.
Sesampainya di rumah, Dita segera melepas pakaian syar'i dan menggantinya dengan jadi yang bisa ia gunakan.
"Untuk sementara waktu, kita biarkanlah berjalan seperti ini."
Dita belum siap untuk menutup semua yang ada di dalam tubuhnya, tetapi suatu saat ia yakin pasti akan tiba saat itu. Belum sempat Dita masuk kamar mandi, tiba-tiba Mbok Nem mengetuk pintu dari luar.
"Siapa?"
"Saya, Den Ayu."
"Masuk, Mbok, pintunya tidak saya kunci."
"Iya."
"Mohon maaf Den Ayu. Untuk sementara waktu saya tidak bisa menyimpan ini lama-lama. Sewaktu Den Ayu pergi, Kanjeng Nyai datang dan memberikan ini kepada saya."
Dita meraih sebuah bungkusan yang diberikan Mbok Nem kepadanya. Ada bau bunga melati dan kantil yang menempel pada kain itu. Sedikit keraguan ketika hendak membukanya.
"Maaf, saya permisi terlebih dahulu, Den Ayu."
"Iya, Mbok. Terima kasih."
Mbok Nem segera pergi dari hadapan Dita dan menghilang. Senyumnya menyeringai seolah ia bukanlah Mbok Nem yang sebenarnya.
Dita yang penasaran hendak membuka bungkusan kain tersebut, namun hal yang tidak terduga terjadi. Jendela kamar Dita terbuka lebaf secara tiba-tiba. Lalu harum bunga melati menguar di sana.
"Buang bungkusan itu cucuku! Aku tidak pernah menitipkan sesuatu pada orang lain!"
Dita yang hafal dengan suara leluhurnya segera membuang bungkusan tersebut keluar kamar. Hingga beberapa saat kemudian bungkusan itu meledak dan mengeluarkan kepulan asap hitam.
Baunya lebus sama seperti rebusan sayur yang beberapa kali pernah Dita cium aromanya.
"Apa itu Kanjeng Nyai."
"Kurang a**r! Beraninya mengirim hal buruk pada cucuku!" ucapnya penuh kilatan cahaya.
"Dita, kamu terhubung langsung dengan Nenek, kenapa kau tidak memanggilku ketika ada sesuatu yang mencurigakan?"
"Mohon maaf Kanjeng Nyai, saya kira itu benar-benar dari Anda, makanya saya menaruh curiga sama sekali," ucap Dita sambil mengatupkan kedua tangannya sebagai ucapan permintaan maaf atas kecerobohannya.
Sementara itu, Mbok Nem yang baru saja sampai di rumahnya merasakan ada sesuatu hal yang buruk sedang mengancam junjungannya. Ia bergegas untuk menaruh barang-barangnya dan bersemedi di ruangan khusus miliknya.
Di hadapannya terdapat beberapa kuntum bunga mawar segar, beberapa bunga kantil segar yang masih kuncup dan bunga kenanga. Tidak lupa kemenyan yang sudah ia bakar lalu mulut Mbok Nem segera komat-kamit.
Penglihatannya membawanya ke Kediaman Tuan Handoko. Lebih tepatnya ke kamar Dita. Agedan di mana ada seorang makhluk yang menyerupai dirinya dan masuk ke kamar Dita terlihat nyata.
Bahkan disaat ia menyerahkan sebuah bungkusan kain kepada Dita juga terlihat. Tangannya terlihat mengepal menahan amarah. Apalagi setelah makhluk itu kini berubah menjadi genderuwo wanita.
"Sialan, beraninya ia mengirim teluh secara langsung kepada Den Ayu, sebenarnya siapa yang tidak suka dengan kebahagian Den Ayu?"
Ia benar-benar tidak habis pikir dengan ulah makhluk itu yang secara terang-terangan menyerang Dita di waktu senja kala. Namun, setelahnya Mbok Nem bisa mengelus dada ketika teluh kiriman makhluk itu langsung dimusnahkan oleh Kanjeng Nyai.
Bagaimana pun ia sangat berterima kasih kepadanya. Mbok Nem juga merutuki sikapnya yang terburu-buru pulang tadi. Seharusnya ia yang melindungi Dita secara langsung, tetapi ternyata justru ia yang kecolongan.
Penglihatan Mbok Nem seketika menutup, padahal ia belum selesai melakukannya. Lagi-lagi Mbok Nem merasa gagal.
"Sebenarnya siapa dan apa motif makhluk tadi? Kenapa terlihat pancaran api kemarahan di dalam kelopak matanya?"
Banyak pertanyaan yang tiba-tiba saja menyerang Mbok Nem. Esok pagi ia berniat untuk bergegas pergi ke punden tempat Kanjeng Nyai di makamkan. Ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan dengan beliau.
Sementara itu di dalam kamar Dita, ia masih merasa syok dengan apa yang barusan terjadi di dalam kamarnya. Ada rasa tidak rela ketika ia yang baru saja ingin hidup tenang tetapi ternyata ada banyak hal buruk yang hendak melukainya.
Ucapan dari Kanjeng Nyai tadi menyadarkan dirinya agar tidak lupa memperbaiki ibadahnya dan lebih banyak berdzikir. Hal itu sama dengan apa yang dipesankan Bisma kepadanya dulu. Entah kenapa Dita sampai melupakan pesan dari mendiang suaminya yang ketiga itu.
"Maafkan Dita, Mas. Dita lupa menjalankan apa yang selalu kamu ajarkan kepadaku dulu," ucap Dita dengan suara lirih.
Di sebuah bangunan rumah yang tua dan usang. Banyak sarang laba-laba dan kotoran tikus yang berserakan di atas lantai. Belum lagi bangkai tikus yang kepalanya sudah hilang tergeletak di beberapa sudut rumah.
"Aarghhhh!" teriaknya tidak terima.
"Kurang a**r! Beraninya wanita tua itu menghalangi niat burukku!"
Terlihat api kemarahan dan dendam yang menggelora tetap ada di dalam matanya. Ia benar-benar tidak suka Dita masih bisa hidup dengan tenang. Berkebalikan dengan apa yang terjadi dengannya.
"Akibat jalan takdirmu yang buruk, kau sampai melibatkan keluargaku. Aku pastikan setelah ini kau akan bertambah terluka Anindita!"
CIT ... CIT ... CIT
Tiba-tiba seekor kelinci lewat di hadapannya. Makhluk hitam menyeramkan itu terlihat meneteskan air liurnya.
"Makhluk kecil, jangan salahkan diriku yang sedang kelaparan ini, ha ha ha ...."
Dalam sekejap mata, tangannya sudah bisa menangkap tikus itu dan langsung mengunyahnya. Bunyi tulang-tulang itu terdengar kriuk den krispi. Seolah itu adalah makanan terlezat yang tersaji malam itu.
Hal yang tidak pernah terbayangkan di dalam pikirannya jika saat ini ia bisa berubah menjadi makhluk yang sangat menyeramkan akibat kurangnya iman yang ia miliki. Lebih mirisnya lagi, ia melemparkan kesalahan yang ia perbuat kepada orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
Mampukah Dita bertahan sekali lagi?