Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 174. AMARAH RANI


"Arghhhh!"


Teriakan Rani menggema mengelilingi area hutan tersebut. Membuat beberapa hewan yang mendengarnya berlari tunggang langgang. Takut dengan suara Rani yang menggelegar.


Bagaikan sebuah kilatan petir, serangan Rani pada pohon di sampingnya sampai membuat batang pohon tersebut patah. Beberapa kali menggunakan kekuatannya membuat Rani banyak mengeluarkan cairan kental berwarna merah, namun Rani mengabaikannya.


"Kenapa, kenapa semua orang menyayangi Dita dan bukan aku! Tidak bisakah aku bahagia?"


Terlihat jika tangan Rani sudah penuh dengan cairan kental berwarna merah yang terus menetes ke tanah. Setelah beberapa kali memukul-mukulkan tangannya ke arah batang pohon yang ada di sampingnya. Amarahnya belum juga mereda.


"Kalian benar-benar membuatku marah! Seharusnya kamu tidak datang kemari, Mbok!"


Untuk melampiaskan rasa sakit dan amarah yang telah menjadi satu di dalam jiwa, Rani membutuhkan sebuah pelampiasan.


Jaka membiarkan istrinya melakukan hal tersebut, sementara ia hanya menonton bersama para rakyatnya.


Jaka tahu jika hati nurani Rani masih berjalan. Sehingga, masih ada rasa tidak tega saat menyiksa Mbok Nem. Dengan sabar Jaka menunggu Rani menyatu dengan dirinya agar kekuatannya jauh lebih kuat dari saat ini.


"Lakukan sesuka hatimu, wahai istriku, aku selalu setia di sisimu jika kamu membutuhkan bantuan dariku!" ucap Jaka menyeringai.


Pandangan mata Rani menoleh ke arah suaminya, lalu beralih ke arah Mbok Nem. Seorang wanita tua yang telah mengabdi dengan setia kepada Keluarga Handoko selama beberapa generasi.


"Kenapa kamu justru membantu Dita, Mbok? Kenapa kamu tidak membantuku saja waktu itu?" gertak Rani penuh amarah.


Tangan Rani terus menerus mengeluarkan cairan kental yang berwarna hitam, tetapi hal itu tidak membuat Mbok Nem takut ataupun merasa jijik. Sebuah tangan yang mengepal penuh dengan cairan kental berwarna hitam itu ia pukulkan ke dadanya secara berkali-kali, agar Mbok Nem tahu betapa ia sangat kesakitan.


"Lihatlah kesakitanku kali ini, Mbok! Lihatlah!"


Rani yang terkadang berwujud manusia terlihat sangat cantik, akan tetapi ketika ia menjelma menjadi sosok lelembut setengah manusia, bentuknya sangat menyeramkan. Jauh lebih menyeramkan dibandingkan dengan wujud asli bangsa lelembut di sana.


"Kenapa kau tidak berani menatap wajahku, Mbok. Apa aku tidak cantik?"


Mbok Nem menggeleng, meskipun ia ingin berbicara lidahnya sudah terasa kelu dan lelah. Rani segera merubah wujudnya menjadi sosok menyeramkan lalu kembali menyerang Mbok Nem secara membabi buta.


Terdengar beberapa kali ranting pohon menjadi patah karena terkena serangan dari Rani. Andai saja itu mengenai tubuh Mbok Nem, sudah pasti ia akan terluka. Jika raga Mbok Nem terluka parah, bisa dipastikan raga Mbok Nem lebih terluka.


Anehnya Mbok Nem justru baik-baik, saja. Akan tetapi pepohonam di sampingnya banyak yang roboh dan mengeluarkan asap hitam. Daun-daunnya berubah menghitam seperti terbakar. Hal itu menunjukkan betapa besarnya kekuatan yang dimiliki oleh Rani.


Setelah beberapa saat melampiaskan amarah. Namun, rasanya tetap sama dan tidak membuat luka di hati Rani mengering atau berangsur sembuh. Mbok Nem tahu apa yang dirasakan Rani saat ini adalah sebuah pelampiasan rasa kecewa yang mendalam pada Dita. Entah siapa yang memulai sehingga Rani salah dalam melangkah.


"Arghhhh!" Rani kembali berteriak.


Jaka yang tidak tega akan hal itu segera mengusap telapak tangan Rani yang terluka dengan tangannya. Ajaib, dalam sekali usap, semua luka di tangannya sembuh tanpa bekas. Bahkan aura kecantikan Rani bertambah berkali-kali lipat.


"Akan tetapi apa hubungan dia dengan Rani, kenapa sejak tadi mereka saling menyebut dengan seolah seperti sepasang suami istri?"


Meskipun Rani terlihat jauh lebih cantik dari biasanya, Mbok Nem tidak akan tertipu. Sesekali dahi Rani berkerut dengan mulut yang berkomat-kamit membaca mantra.


"Apa yang akan dilakukan oleh Rani?"


Dadanya terlihat naik turun, kembang-kempis seperti sedang mengingat sesuatu yang membuat dirinya marah besar. Penuh emosi dan menguras hati siapa saja yang melihatnya.


"Apakah kebencianmu sebesar itu Nduk Rani?" tanya Mbok Nem memberanikan diri.


"Iya, aku sangat membenci Dita dan juga keluarga Handoko. Semuanya harus ma-ti di tanganku, Mbok! Aku pastikan kepadamu, hangan sekali-kali mencampuri urusanku!"


Sosok Rani mendekati Mbok Nem dan memegang tangannya. Seketika mata batin Mbok Nem terhubung dengan masa lalu Rani di mana ia mulai membenci Dita.


Sontak kedua mata Mbok Nem membulat lebar. Kakinya diseret agar bisa menjauhi tempat tersebut, bahkan langkah kakinya terlihat sia-sia. Namun, semakin lama siapapun yang melihat hal itu pasti akan menangis.


Beruntung Rani diselamatkan oleh seorang lelaki, dan setelah beberapa waktu hatinya mulai terluka kembali karena Rani dijadikan sebagai penebus hutang. Langkahnya sedikit terseok sampai ia dirawat oleh seorang kuncen yang mengenalkan dirinya pada Jaka.


Rani yang sudah kecewa pada lelaki terkena sihir Jaka. Maka dari itu ketika ia diminta untuk menikah dengannya, Rani sama sekali tidak menolak.


"Ja-jadi karena itu kamu membenci Den Ayu. Alangkah baiknya dulu kamu meminta nomor ponselnya sehingga jika ada sesuatu yang mendesak kamu bisa menghubungi Den Ayu. Tidak seperti saat ini yang setiap saat justru kamu membencinya."


"Aneh, mau kaya kok menikah dengan lelembut, apa tidak ada cara lain lagi?"


Sesaat setelah melihat semua itu, Mbok Nem pingsan. Sementara itu Dita masih dirawat oleh bangsa genderuwo yang menjelma menjadi seorang lelaki.


"Cah ayu, kapan kowe tangi. Aku iso ngobati awakmu, asalkan kowe gelem dadi bojoku!"


Danu seolah bisa merasakan jika ada hal yang tidak beres terjadi dengan Dita. Akan tetapi ia masih dalam masa pelatihan dari leluhurnya. Danu juga tidak bisa sembarangan datang ke tempat Dita karena sudah pasti ilmunya belum cukup kuat.


Meskipun ia tahu hal ini merupakan sebuah ujian untuknya, sang kakek belum juga datang mengunjungi dirinya.


"Andaikan Kakek ada di sini, aku sudah pasti meminta ijin padanya."


Danu terlihat gelisah, tetapi ia harus tetap konsentrasi agar ilmu yang dipelajari olehnya tidak menjadi sia-sia.


"Kenapa ujian ini terasa berat sekali? Hm, bagaimana aku bisa memanggil Kakek?"


Padahal tanpa diketahui oleh Danu, sang kakek sebenarnya ada di sampingnya. Akan tetapi ia tidak menampakan diri dan setia menjaga Danu agar tidak ada bangsa lelembut yang menganggu Danu dalam mendalami ilmu kanuragan.


"Ini masih awal, Danu. Seharusnya kamu sudah siap dengan segala konsekuensinya. Aku harap kamu bisa melakukan hal ini sampai tuntas. Aku tidak mau semua terlihat sia-sia. Bertahanlah wahai cucuku."