
Pagi itu sesuai rencana, Bisma akan pergi keluar sebentar. Ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan saat ini. Merasa tidak enak badan, Dita mengurungkan niatnya tidak jadi ikut dengan suaminya.
"Dek Mas pergi dulu, ya. Nggak lama kok, cuma sebentar nanti jika urusannya sudah selesai maka Mas akan segera pulang."
Tak mampu menjawab, Dita hanya menahan tangan suaminya agar tidak jadi pergi. Sontak Bisma menoleh ke arah istrinya.
"Kenapa?"
"Aku merasa tidak enak jika Mas pergi. Apa tidak bisa diwakilkan?"
Bisma menggeleng, "Karena pagi ini ada rapat penting, maka aku yang harus datang sendiri dan tidak bisa diwakilkan."
Terlihat Dita menghela nafasnya pelan. Ada rasa tidak rela yang bergelayut di hati Dita. Melihat istrinya yang tidak rela, maka Bisma menunda keberangkatannya tiga puluh menit.
"Dek, jika bukan karena urusan ini penting, aku juga tidak akan berangkat."
"Iya, entah kenapa rasanya tetap tidak nyaman."
"Ya sudah kalau begitu, Mas akan menemanimu sebentar."
"Oh iya, aku mempunyai novel untuk bahan bacaan kamu. Sebentar aku ambilkan."
Tidak lama kemudian, ia membawa beberapa novel untuk istrinya, tidak lupa menjelaskan beberapa hal tentang isi novel tersebut.
"Mas juga suka baca novel?" tanya Dita penasaran.
"Iya aku suka beberapa novel yang terbaru yaitu "Cinta di atas mukena" suka banget sama jalan ceritanya."
"Memang isinya apa?"
"Perjalanan gadis belia yang baru mengenal ilmu agama setelah masuk pondok pesantren."
"Iya nanti aku baca, ya Mas, makasih."
Merasa jika istrinya sudah membaik maka Dita memperbolehkan suaminya untuk pergi.
"Semoga semuanya baik-baik saja," ucap Dita di dalam hati.
Dita memandang sendu kepergian suaminya itu. Tidak lupa ia memanjatkan doa-doa untuknya.
......................
Akhirnya sore menjelang, namun suaminya tidak kunjung pulang. Sementara itu Dita merasakan hawa panas meyerang tubuhnya. Sejenak ia teringat pesan dari suaminya untuk tetap menjaga sholatnya. Mendengar adzan maghrib berkumandang, Dita segera mengambil air wudhu.
Lalu setelahnya ia melaksanakan sholat. Selepas sholat ia mendengar derap langkah di atas genting. Tidak lama kemudian ia merasakan jika tubuhnya terasa panas.
"Bu, Ibu ...." panggil Dita pada ibunya.
Mendengar panggilan dari putrinya, Nyonya Sekar berlari ke kamar putrinya diikuti Mbok Iyem.
""Tumben-tumbenan Dita berteriak, ada apa ya, Mbok?"
"Entah kenapa perasaan saya tidak enak."
Kriet ...
Terlihat Dita sudah berguling-guling di lantai sambil memegangi kepalanya.
"Ada apa, Nak?"
Bukannya menjawab, Dita malah berteriak.
"Sakit, Bu ...."
Teriakan Dita terdengar sangat pilu. Entah kenapa hawa sore itu terasa sangat lain.
Dita semakin meraung-raung tidak karuan. Akan tetapi, Nyonya Sekar tidak berani mendekati putrinya. Justru Mbok Iyem yang mendekatinya lalu memanjatkan doa-doa agar Dita segera sadar.
Dari luar, terdengar jika mobil yang dikendarai Bisma sudah tiba. Nyonya Sekar meminta Mbok Iyem agar memindahkan Dita ke atas tempat tidur sebelum Bisma mengetahuinya.
"Jika nanti Bisma menanyakan sesuatu bilang saja tidak tahu ya, Mbok."
Mbok Iyem hanya mengangguk, lalu mengikuti majikannya keluar dari kamar Dita. Namun belum lama mereka pergi, terdengar derap langkah di atas genteng. Rasanya banyak orang yang sedang berjalan di sana.
Nyonya Sekar menghentikan langkahnya.
"Mbok kamu dengar sesuatu?"
"Iya Kanjeng Ibu, seperti ada orang yang berjalan di atas genteng."
Sesaat kemudian terdengar suara burung hantu dan retnong yang tidak berhenti berbunyi.
"Padahal ini masih maghrib tetapi sudah terdengar burung hantu ya, Mbok?"
Nyonya Sekar menoleh kepada pembantunya, " Maksud Mbok, apa?"
"Ada firasat buruk sepertinya."
Saat mereka asyik mengobrol Bisma nampak berdiri di hadapan mereka.
"Selamat sore, Kanjeng Ibu," sapa Bisma ramah.
"Selamat sore, baru pulang, Nak?"
"Iya, oh ya, dimana Dita?"
"Dia ada di kamar."
"Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu."
"Iya, silakan."
Saat Bisma mulai melangkah, bulu kuduknya mulai meremang. Lalu sesaat kemudian terdengar suara burung hantu yang berkicau.
"Kenapa jam segini ada burung hantu?" gumamnya.
Merasa tidak enak, Bisma mempercepat langkahnya menuju kamar Dita. Matanya membulat ketika melihat bayangan hitam berada di atas tubuh Dita. Banyangan hitam itu berbulu lebat dengan kuku-kuku tangannya yang panjang.
"Ditaaaa!" teriak Bisma.
Makhluk itu menoleh lalu seketika ia menyerang Bisma karena telah mengganggu aktifitasnya. Terjadilah pertarungan sengit di dalam kamar Dita. Mendengar keributan itu, Nyonya Sekar segera menyuruh Mbok Iyem untuk mengambil garam grasak (garam kasar) dan memintanya untuk menaburkan di sudut-sudut kamar.
Merasa tubuhnya terkena lemparan garam, makhluk tersebut kesakitan lalu menghilang dengan segera. Nyonya Sekar mendekati menantunya untuk melihat keadaannya.
"Bagaimana keadaan kamu, Nak?"
"Tidak apa-apa, Bu," ucapnya sambil memegangi lengannya yang terkena cakaran makhluk tadi.
Sontak saja da-rah segar terus menetes dari sana.
"Ambilkan kotak P3K Mbok!"
"Baik Kanjeng Ibu."
Mbok Iyem segera berlari ke luar kamar untuk mengambil kotak P3K sesuai permintaan majikannya.
Belum sempat Bisma beranjak, ia merasakan perutnya terasa mual dan sangat tidak nyaman. Lalu seketika tubuhnya memanas. Dita yang baru saja siuman, segera berlari mendekati suaminya.
"Ada apa, Mas? Mas kenapa?"
"A-Ambilkan aku air putih!" pintanya sambil mencoba tetap menjaga kesadarannya.
Namun sesuatu tidak terduga terjadi pada Bisma. Perutnya semakin lama semakin membesar lalu sedetik berikutnya ia muntah darah.
"Dita ... to-tolong aku ....!"
Mendengar panggilan suaminya Dita menoleh.
"Mas Bismaaaa!" teriak Dita mendapati suaminya seperti itu.
Seketika Dita berlari mendekati suaminya yang sudah sakaratul maut. Nafasnya tersengal sesaat setelah ia muntah darah untuk yang kedua kalinya, lalu sesaat kemudian ia meninggal.
Kotak obat yang dibawa Mbok Iyem seketika terjatuh ke lantai.
"Innalillahi ...."
Ternyata setelah muntah darah, Bisma langsung menghembuskan nafas terahirnya. Tangannya terulur hendak menyentuh tubuh Dita, matanya melotot dengan sudut bibir masih terdapat bekas darah.
Dita hanya bisa menangis ketika mendapati suaminya meninggal hingga ketiga kalinya. Terlebih ia baru saja mencintai Bisma.
"Mas Bisma bangun!" ucap Dita sambil tergugu.
Berkali-kali memanggil suaminya namun ia tetap tidak bergeming.
"Mas Bisma bangun, tolong bangunlah, hu hu hu ...."
Dita berusaha menggoyang-goyangkan tubuh suaminya. Belum sempat mendapatkan pertolongan ternyata nyawa Bisma sudah melayang terlebih dahulu.
Perutnya yang tadi membesar perlahan sudah kempes. Akan tetapi ia tetap tidak kembali. Bisma menjadi korban atas santet yang ditujukan kepada Dita.
Mbok Iyem hanya bisa menopang tubuh Nyonya Sekar yang hampir limbung karena tidak kuat mendapati kenyataan ini.
"Sabar Kanjeng Ibu, sebaiknya kita segera memberi tahu keluarga Den Bisma."
Nyonya Sekar hanya bisa mengangguk, sementara itu Dita terus menangis sesenggukan. Akhirnya Dita kembali menjadi janda untuk ketiga kalinya.