Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 200. BERHASIL LAGI


Nafas Dita masih terlihat terengah-engah. Bagaimana pun ia baru saja selamat dari terkaman makhluk tidak kasat mata. Tangan Fano meraih dan mencoba menggapai Dita, hingga ia mampu melepaskan dirinya barusan.


Akan tetapi tubuhnya sempat terlempar beberapa kali hingga membentur dinding tembok di depannya. Bahkan sempat diputar-putar di langit-langit kamar sampai setelahnya dilempar ke bawah.


Meskipun tubuh Fano sedang terluka, tetapi keinginannya untuk menyelamatkan istrinya lebih besar dari apapun. Ketika makhluk itu mengeram, dengan sisa tenaga ia melakukan semuanya dan berhasil menyelamatkan Dita.


Luka Fano semakin parah, terlebih baru saja ia memuntahkan cairan kental berwarna merah ke lantai. Wajahnya menunduk, lebam dan sisa tenaganya hanya sedikit. Hanya demi menyelamatkan istrinya, Fano rela berkorban.


"Apakah kau masih sanggup melindungi istrimu, wahai anak manusia?" gertak sosok itu.


Melihat dengan mata batinnya jika keponakannya terluka maka Yuli segera mengambil sirih dan pinang, menggulungnya menjadi satu lalu dimakan mentah-mentah.


"Enak? Tentu saja rasanya tidak enak, akan tetapi setelah beberapa saat mengunyah dan mampu menghasilkan cairan merah cukup banyak. Yuli segera mengambil sebuah boneka dengan wajah foto Fano untuk disembur olehnya."


BYUR


Tampak cairan berwarna merah itu berhasil menutupi seluruh tubuh boneka kain itu dan juga area lantai di sekitarnya. Tidak memperdulikan daerah sekitarnya, Yuli tetap melanjutkan membaca mantra. Semakin lama semakin membuat mereka tidak bisa melihat kejadian yang sebenarnya.


Fano hampir pingsan sementara itu Dita sudah pingsan lebih dahulu. Meskipun Yuli terluka dalam akhirnya berhasil menyelamatkan nyawa Fano dan Dita. Bahkan kali ini ia berhasil mengusir makhluk itu kembali ke asalnya.


"Aku memang tidak bisa mengalahkannya karena ia terikat janji denganmu, Dita. Maafkan jika aku hanya bisa mendampingi kalian sampai beberapa waktu, karena setelah ini ujian kalian akan lebih besar."


Setelah melewati malam yang penuh dengan kegelapan dan ketegangan itu, esok hari yang cerah menerangi kamar Dita dan Fano. Cahaya pagi menerobos masuk ke dalam kamar melalui celah jendela. Membuat silau kedua mata Dita hingga membuatnya mengerjap.


Sesekali tangannya mengusap ke seluruh bahunya untuk memastikan jika kejadian semalam hanya mimpi, tetapi ketika ia melihat bajunya sobek, Dita baru menyadari sesuatu.


"Jadi semalam yang terjadi di sini itu sungguhan? Lalu di mana Mas Fano?" tanya Dita sambil terisak.


Kedua matanya menyisir ke seluruh ruangan. Hingga ia melihat ada bercak merah yang membekas keluar kamar. Meskipun badannya masih terasa sakit, kini Dita tetap berusaha untuk bangkit dan menemukan suaminya.


Akhirnya penantiannya berakhir. Sosok Fano sedang tergeletak di lantai dengan bersimbah cairan kental berwarna merah pekat di sekelilingnya.


"Astaga, Mas Fano bangun! Mas nggak kenapa-napa, bukan?"


Menyadari jika dirinya masih mendengarkan suara Dita, akhirnya kali ini Fano yang masih berada di dalam mimpi segera membuka mata. Rasa sakit di sekujur tubuhnya tidak membuat Fano merintih, bahkan saat ini ia memeluk tubuh istrinya itu.


"Kamu juga nggak kenapa-napa, 'kan?"


"Alhamdulillah, sama seperti yang kamu lihat."


Saat ini Fano bersyukur, di sisa nafasnya semalam ternyata Tuhan masih memberikan nafas dan kesempatan baru untuk memulai sebuah hidup yang baru.