
Makhluk tersebut masih berdiri di sudut ruangan. Ia menatap tajam ke arah Dita dan Rangga yang baru saja dia serang. Tidak tahu kenapa ia sangat menyukai kehadiran Dita. Tadi ia merasa terganggu, lalu sesaat kemudian ia sangat marah ketika Rangga mau melakukan niat jahat pada Dita.
Dia adalah Wirog, makhluk setengah manusia yang dulu pernah bersekutu dengan jin, wujudnya sekarang seperti macan tetapi ia akan menghilang jika terkena cahaya matahari atau melemah jika terkena cahaya.
Ia berwujud seperti ini, karena dulu ia tidak bisa menyiapkan tumbal dan dirinya kini menerima akibat dari perjanjian dengan jin. Saat ini ia baru saja meloloskan diri dari Tuannya, kebetulan ia bersembunyi di gubuk tempat Dita disembunyikan oleh Rangga.
Harum tubuh Dita sangat disukai oleh Wirog, tetapi ia tidak berani mendekati Dita karena tubuh Dita tidak sembarangan bisa didekati oleh bangsa Jin. Namun, saat Rangga hendak menodai Dita, Wirog marah lalu menyerangnya. Sama halnya dengan mahluk yang menjaga Dita ia tidak menyukai perbuatan Rangga.
Tidak perlu bertarung lebih lama, Wirog menguasai perkelahian itu dan Rangga ter-ku-lai dengan beberapa luka cakaran di tubuhnya. Tidak mati tetapi terluka parah.
Saat perkelahian itu terjadi, Dita masih pingsan. Hingga beberapa saat kemudian ia baru siuman.
Perlahan, kedua mata Dita mengerjap, pupilnya membesar ketika ia harus menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam kornea matanya. Dita merasakan tubuhnya agak sakit, dan kepalanya agak pusing.
"Bukankah tadi Rangga menikamku?"
"Lalu di mana dia sekarang?"
Belum sempat pertanyaannya terjawab, kedua matanya menangkap sebuah bayangan aneh. Sorot matanya menyala dan berwarna merah berada di ujung ruangan.
"Si-siapa kamu?" ucap Dita tergagap.
Wirog hanya mendengus, ia tidak bisa berbicara dengan bahasa manusia kembali. Sehingga ia lebih memilih berdiam di sudut ruangan. Sesekali kuku tangannya menggaruk lantai tempat di mana ia berdiri.
Mata Dita kembali menangkap sosok lain, menemukan tubuh Rangga berada di lantai dengan tubuh ter-ko-yak.
"Rangga!" teriak Dita.
Namun, teriakan Dita tidak terdengar sampai di luar sana. Suara gemuruh air hujan yang turun dengan lebat seolah menenggelamkan suara Dita. Belum lagi suara guntur dan petir yang menyambar-nyambar terdengar memekakkan telinga.
Tubuh Dita beringsut, ia sangat ketakutan akan hal ini. Namun, Wirog mendorong makanan ke arah Dita. Mungkin makhluk jadi-jadian itu tau jika Dita lapar. Meski awalnya takut, Dita memberanikan diri untuk bangkit dan melihat apa yang barusan diberikan oleh makhluk itu.
Ternyata itu hanyalah sebuah pisang yang di arahkan ke tempat Dita berada. Lalu setelahnya ia beringsut mundur kembali.
"I-ini untukku?" tanya Dita ketakutan.
Meski wujudnya tidak terlihat begitu jelas, tetapi Dita yakin jika itu bukan manusia. Buku kuduk Dita sempat berdiri, sedikit meremang karena situasi yang menghimpitnya saat ini.
Meski samar, tetapi Wirog terlihat mengangguk. Wujudnya yang seperti macan tutul terlihat sangat menakutkan untuk Dita, tetapi karena perut Dita kelaparan, ia pun mengambil dan memakan pisang tersebut.
Sesekali Dita melirik ke arah Rangga. Beberapa luka cakaran sangat terlihat menakutkan untuknya. Namun, Dita tidak bisa berkata-kata kembali karena ia melihat situasinya sangat tidak memungkinan. Ketakutan dan waspada adalah dua hal yang harus ia pertahankan hingga pagi.
"Maafkan aku Rangga, sepertinya ini adalah balasan kenapa kamu berniat jahat kepadaku."
Ternyata menahan kantuk itu tidak enak. Kantung mata Dita terlihat menebal, karena ia harus tetap terjaga sampai pagi. Keberuntungan datang ketika Dita mulai bisa melihat wujud Wirog dengan seksama.
Lama kelamaan, Wirog mulai kelelahan dan akhirnya ia tertidur. Oleh karena itu Dita memanfaatkan hal itu untuk melarikan diri.
"Semoga dia tidak bangun," doa Dita di dalam hati.
Dengan mengendap-endap Dita melangkah keluar, beruntung ia Wirog tidak mengetahuinya.
"Meskipun dia baik, tetapi tidak baik jika aku berlama-lama dengannya."
Huft ....
Dita menghembuskan nafasnya dengan kelegaan.
"Akhirnya bisa melarikan diri," ucap Dita perlahan.
Namun, apa yang ditakutkan Dita terjadi. Wirog mengetahuinya. Makhluk itu bisa mendengar meskipun suara Dita amat lirih. Wirog berusaha mengejar Dita.
Melihat Wirog yang terus mengejarnya Dita menambah kecepatan berlarinya. Ia berjalan keluar untuk menerkam Dita yang ingin kabur dan berniat untuk membawanya kembali.
Wirog merasa terancam saat banyak manusia memburunya nanti.
"Biarlah dia pergi!" batin Wirog.
Dita yang mengetahui hal tersebut segera melangkah pergi. Ia berlari sekuat tenaga agar ia segera sampai di tempat pemukiman warga. Dita sedikit terseok karena tadi ia sempat terjatuh.
Beruntung saat Dita sampai di jalan, ia bertemu dengan ibu-ibu pemetik teh.
"Loh, Den Ayu Dita," sapa mereka kompak.
Ternyata nama Dita cukup familiar diantara mereka. Setelah berhasil bertemu dengan mereka Dita malah pingsan.
"Den Ayu ...." teriak mereka.
Beberapa ibu pemetik teh tersebut segera menghampiri Dita dan menyelamatkannya.
Sementara itu di Kediaman Tuan Handoko, terjadi keributan. Sam yang awalnya hendak ke halaman belakang kesurupan. Ia berteriak-teriak memanggil Nyonya Sekar agar keluar dari dalam kamarnya. Padahal hari masih sangat pagi. Suasana di rumah itu juga masih sepi, karena para pekerja belum semuanya datang.
Hanya tersisa Pak Joko yang memang diminta secara khusus untuk menemani Sam semalam. Saat mendengar Sam berteriak, beliau yang baru selesai mengaji segera menghampirinya.
"Loh, Den Bagus, istighfar ...." ucapnya sambil mendekati Sam.
Nyonya Sekar yang sudah keluar kamar juga mendekatinya.
"Ada apa, Pak?"
"Den Bagus sepertinya kesurupan Kanjeng Ibu."
"Kamu bisa membantunya bukan?"
Pak Joko mengangguk, "InsyaAllah Kanjeng Ibu."
"Tapi ingat, Sam itu non muslim, apa kamu bisa membuatnya kembali sadar dengan mengaji?"
"Insya Allah bisa, yang terpenting kita berusaha."
"Ya sudah kalau begitu, aku masuk dulu."
Belum sempat Nyonya Sekar masuk, Sam meneriakinya.
"Mau kemana kau Sekar? Kau tidak lupa dengan ku bukan?"
Suara Sam yang serak basah mengingatkan Nyonya Sekar pada seseorang. Ia pun berbalik dan menoleh pada Sam.
"Siapa kamu, beraninya memanggil namaku dengan tidak hormat!" bentaknya.
Makhluk yang merasuki Sam tertawa terbahak-bahak. Ia semakin mengeluarkan kata-kata kotornya pada Nyonya Sekar.
"Kau akan menanggung semua akibat karena telah berani meninggalkan aku!" teriaknya sekali lagi.
"Mas Adam?" ucap Nyonya Sekar dengan lirih.
"Kamukah itu, lalu untuk apa kau kembali, bukankah kau sudah meninggal? Harusnya kau tenang di alam sana."
"Ha ha ha ... aku kembali hanya untuk mengajakmu bersamaku!"
"Nggak, nggak ... Pak Joko segera sembuhkan dia!"
"Ba-baik Nyonya," ucap Pak Joko ketakutan.