
"Ya, ini aku ... apakah kamu terkejut? Ha ha ha, satu-satunya manusia yang aku benci adalah kamu. Sosok sahabat yang penuh kelicikan dan kebusukan."
Sepasang suami istri dalam bentuk menyeramkan itu kini telah merubah wujudnya menjadi sosok manusia. Dalam bentuk manusia mereka akan semakin menyiksa Dita.
Jaka menyentuh dagu istrinya, "Bagaimana, apakah kamu sudah cukup puas menyik**nya?"
Rani mengangguk senang, tidak lupa ia pun berterima kasih kepada suaminya tersebut. Bersikap seolah manja, Rani menempel pada Jaka.
"Maafkan kesalahanku padamu, Mas. Aku sangat bodoh waktu itu hingga meninggalkan acara resepsi pernikahan kita."
"Tidak apa-apa, yang terpenting adalah saat ini kamu sudah berada di sisiku, itu sudah lebih baik daripada kamu semakin tersesat."
"Di bawah perlindungan dariku, kamu tidak perlu khawatir lagi kelaparan atau hidup terlunta-lunta di jalanan. Jika kamu rindu dengan rumahmu maka akan aku antarkan pulang."
"Sungguh?"
"Ya, untuk apa aku berbohong kepadamu. Tidak ada untungnya juga."
Rani sangat merasa bahagia, ia tidak menyangka kehidupan yang awalnya sangat ia takutkan ternyata berbanding terbalik dengan pemikirannya.
"Kalau tahu begini, aku tidak akan lari saat itu?"
Rani kembali melihat anak buah suaminya yang sudah merubah dirinya menjadi sosok manusia. Ia pun menoleh ke arah suaminya yang sangat tampan itu.
"Mas, lalu apa yang sebaiknya kita lakukan pada tubuh Dita?" tunjuk Rani ke arah tubuh Dita yang tergeletak di atas tanah.
Tubuh Dita terlihat sangat mengenaskan. Pakaiannya compang-camping, belum lagi luka-luka di tubuhnya membuat siapa saja yang melihat pasti berpikiran jika Dita sudah tiada.
Padahal ia masih bernafas. Hanya saja rac*n yang berada di tubuhnya sudah menyebar hingga membuat cairan kental berwarna merah itu sudah berubah menjadi kehitaman.
"Rac*n di tubuhnya sudah menyebar, kita tidak perlu memungutnya lagi. Sebaiknya tinggalkan saja tubuhnya di sana. Atau kamu memperbolehkan kaumku untuk menyantapnya?"
Seketika pandangan Rani tertuju pada kedua mata Jaka.
"Aku ikut saja, yang diputuskan olehmu tentu saja adalah sebuah keputusan yang terbaik. Aku sudah cukup bahagia karena berhasil membuatnya seka*at!"
Tawa Rani meledak ketika membayangkan Dita sudah tiada saat ini. Rac*un yang dia berikan tadi bukanlah sembarangan. Tidak akan ada sosok manusia yang bisa menyelamatkan dirinya kecuali dengan sebuah pertukaran nyawa.
"Tidak akan ada manusia yang sanggup menukar nyawanya denganmu, jadi nikmatilah detik-detik terakhirmu, Dita."
Setelah puas memaki Dita, keduanya segera meninggalkan tempat itu. Sementara itu kaumnya bersiap untuk mendekati tubuh Dita yang mengenaskan itu.
"Bagaimana kalau kita menikmatinya, ha ha ha ...."
Sayang, belum sempat mereka maju, sebuah cahaya terang menyilaukan mata membuat bangsa mereka tidak bisa menyentuh Dita. Sosok cahaya putih itu begitu melindungi Dita.
Akhirnya sebuah pertempuran sengit tidak bisa terelakkan. Kilatan cahaya di angkasa membuktikan jika kekuatannya jauh di atas bangsa lelembut itu. Belum lagi beberapa ranting pohon patah dan terjatuh ke tanah hingga membuat suara gaduh dan berisik.
Beberapa kali kilatan cahaya putih itu mampu melukai bangsa lelembut dan membuatnya mundur dengan perlahan.
"Jangan sekali-kali kalian berusaha untuk menyakiti cucuku, atau kalian akan menerima akibat pembalasan dariku!"
"Pergi! Atau aku musnahkan kalian di sini!"
Bangsa lelembut yang tersisa langsung melarikan diri karena ketakutan dengan ancaman tersebut. Bagaimana mereka tidak takut karena kekuatannya jauh lebih tinggi.
"Bagaimana ini, apakah kita perlu melaporkannya ke hadapan Raja dan Ratu?"
Salah satu dari mereka menggeleng.
"Tidak perlu, aku rasa tidak perlu. Apalagi suasana raja saat ini sedang sangat bahagia. Tidak pantas jika kita merusak suasana hati mereka."
"Baiklah kalau begitu sebaiknya kita pergi!"
Mbok Nem sedang asyik memasak di dapur.
"Hm, wangi sekali masakannya, Mbok?"
Mbok Nem mengangguk, "Iya, Kanjeng Ibu ... sesuai dengan permintaan Den Ayu saya memasak sayur daun kelor sama tempe garit."
"Syukurlah, itu berarti ia mulai menyukai hidup sehat. Aku jadi rindu dengan canda tawa Dita yang dulu, Mbok."
"Rindu ya tinggal bilang to, Kanjeng Ibu. Masa iya harus lewat saya ketika mau menyampaikan nya?"
"Halah, ngomong apa to, Mbok. Saya 'kan hanya mengungkapkan isi hati saja."
"Iya-iya, sebaiknya kita memanggil Dita terlebih dahulu."
"Biar saya saja, Kanjeng Ibu."
Nyonya Sekar menepuk bahu Mbok Nem, "Tidak usah, biar saya saja, Mbok Nem lanjut masak saja dulu. Nanti kalau gosong justru tidak enak."
"Nggih, Kanjeng Ibu."
Tidak lama kemudian, Nyonya Sekar sudah sampai di depan kamar putrinya. Seperti biasa ia mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Dita, Sayang ... bangunlah, Nak. Hari sudah siang?"
Tidak mendapatkan jawaban dari dalam kamar, Nyonya Sekar berniat untuk membuka pintu. Seketika pandangan Nyonya Sekar menyisir ke sekelilingnya. Namun, tidak mendapati keberadaan Dita.
"Mungkin saja dia masih di kamar mandi?"
Tanpa ragu Nyonya Sekar berjalan ke arah kamar mandi. Diketuknya pintu kamar mandi lalu dibuka perlahan. Kosong, di dalam sana juga tidak ada siapapun.
"Kemana perginya Dita? Perasaan mobilnya masih berada di garasi? Atau mungkin ia pergi ke gazebo belakang?"
Secepat kilat Nyonya Sekar berjalan ke kebun belakang. Sebuah tempat favorit Dita ketika ia sedang ingin bersantai. Lagi dan lagi ia tidak mendapatkan siapapun.
"Ada yang tidak beres rupanya."
Mbok Nem yang sudah selesai memasak segera menata hidangan itu ke atas meja makan. Merasa jika junjungannya tidak segera kembali, Mbok Nem berniat untuk menyusulnya.
"Kok lama banget, ya. Masa iya Den Ayu masih ngebo? Nggak mungkin banget," ucapnya sambil cekikikan.
Setelah dirasa cukup rapi, Mbok Nem segera menuju ke kamar Dita. Secara bersamaan Nyonya Sekar buru-buru kembali ke dapur. Karena kurang fokus keduanya justru bertabrakan.
"Astaghfirullah, Kanjeng Ibu, maaf ...." cicit Mbok Nem yang merasa bersalah.
Bukannya marah, Nyonya Sekar justru memegang bahu Mbok Nem.
"Mbok, Dita hilang. Ia tidak berada di dalam kamarnya. Saya barusan mencari ke mana-mana tetapi tidak ketemu," ucapnya gusar.
"Masa sih, daritadi tidak ada suara-suara yang mencurigakan loh, trus bagaimana ini bisa terjadi?
"Kalau Mbok tidak percaya, ayo ikuti aku untuk memeriksanya."
Mbok Nem dan Nyonya Sekar segera melangkah pergi menuju kamar Dita untuk memeriksanya kembali dengan lebih teliti.
Keduanya tampak khawatir dan sesaat kemudian Mbok Nem mendapatkan pandangan dimana Dita saat ini. Ia juga bisa melihat keadaan Dita.
"Haruskah aku mengatakan hal ini pada Kanjeng Ibu? Bagaimana jika ia justru terkejut dan melakukan hal yang tidak-tidak?"
Batin Mbok Nem berkecamuk, di satu sisi keselamatan Dita sangat penting, di sisi lain ia tidak bisa meninggalkan Nyonya Sekar sendirian.
"Bertahanlah, Den Ayu. Sebentar lagi Mbok akan membawamu kembali."