
Akhirnya kesadaran Anindita kembali. Saat ini, ia sedang berjalan-jalan di pekarangan rumah. Niatnya ingin bersantai sejenak di salah satu titik yang paling disukai yaitu di halaman belakang rumah. Lebih tepatnya di sebuah gazebo ia sedang duduk bersama salah satu pelayan di rumah itu.
Mbok Nem dipilih Dita karena ia lebih dekat beliau saat ini. Di saat yang sama Mbok Nem menyanyikan lagu Jawa untuk menghibur putri majikannya.
"Den Ayu, misal Simbok nyanyi lagu Jawa tidak apa-apa, kan?"
Dita tersenyum, "Nggak apa-apa, kok. Aku malah merindukan Mbok nyanyi lagu itu."
"Baiklah, kalau begitu Simbok mulai, ya?"
"Iya, Mbok."
"Upama sliramu sekar melati
Aku kumbang nyidam sari
Upama sliramu margi, wong manis
Aku kang bakal ngliwati
Sineksen lintange luku, semana
Janji prasetyaning ati
Tansah kumanthil ning netra, rinasa
Kerasa rasaning driya."
Ternyata lantunan lagu Jawa yang dinyanyikan Mbok Nem membuat Dita larut dalam setiap nadanya. Ada rasa nyaman yang ia rasakan saat mendengarkan lagu Jawa itu.
Meskipun tidak sepenuhnya paham dengan cengkoknya ia menyukai hal itu.
"Sudah ta, Mbok?"
"Sudah, Den Ayu, Simbok cuma hafal segitu saja, lainnya lupa."
Dita tersenyum.
"Mbok, kok ada yang lucu, ya?"
"Apa itu, Den Ayu?" tanya Mbok Nem keheranan.
"Tadi badanku terasa sangat capek dan letih, tetapi saat mendengarkan lantunan lagu Jawa yang Mbok nyanyikan barusan, aku sudah merasa baik-baik saja."
"Alhamdulillah kalau begitu, Den Ayu. Simbok malah suka."
Dita kembali menoleh kepada Mbok Nem.
"Sebenarnya apa yang terjadi dua hari lalu, denganku Mbok?"
"Memangnya kenapa, Den Ayu? Apa merasakan tidak enak di badan? Atau bagaimana?"
"Bukan begitu, Mbok. Hanya aneh saja."
"Maaf, Den Ayu. Setahu saya, dua hari yang lalu terjadi sebuah insiden ...." Mbok Nem tampak menjeda kalimatnya.
"Insiden apa, Mbok?"
"Dua hari yang lalu ... Setahu Mbok Nem, Den Ayu kecelakaan bersama dengan mobil Den Bagus Fano. Saat itu ia berniat untuk mengantarkan Den Ayu pulang ke sini?"
"Masa sih, Mbok. Kok aku tidak mengingat apa pun, ya?"
"Mungkin ada sebagian memori yang hilang, Den Ayu, tetapi Simbok tidak bisa memastikannya, kalau Den Ayu kurang jelas bisa tanya sama Kanjeng Ibu saja.
Dita menggeleng, "Nggak usah Mbok. Lagi pula itu sudah berlalu, cuma agak aneh saja."
Dita kembali mengedarkan pandangannya ke arah depan. Ada sesuatu yang masih mengganjal di hatinya, tetapi Dita tidak bisa memastikan hal itu lagi.
Beberapa saat kemudian, Dita nampak memegang kepalanya yang tiba-tiba kembali berdenyut kencang. Ada suara samar-samar yang memanggil dirinya saat ini.
Meskipun begitu, Dita tampak asing dengan suara yang memanggilnya kali ini. Mbok Nem yang melihat ada hal aneh pada Dita memandangnya dengan tatapan tajam. Namun, ia tidak berani bertanya padanya.
"Apakah Den Ayu terlalu memaksa untuk mengingat sesuatu?" gumam Mbok Nem.
Mbok Nem menoleh ke sudut halaman lalu sesaat kemudian ia mengangguk. Mbok Nem kemudian memberikan sebuah minuman kesehatan untuk Anindita. Minuman herbal khusus Dita yang diracik oleh Nyonya Sekar.
"Den Ayu ...."
"Iya Mbok."
"Silakan diminum terlebih dahulu, Den Ayu mumpung masih hangat."
Tanpa bertanya lebih dulu, Dita langsung menenggak minuman itu. Lalu setelah habis segera menyerahkan kembali gelas yang kosong kepada Mbok Nem.
"Terima kasih, Mbok."
Beberapa saat kemudian, Dita merasa sangat mengantuk.
"Kenapa rasanya sangat mengantuk?"
Merasa tidak kuat dalam menahan rasa kantuknya, Dita meminta ijin kepada pembantunya.
"Mbok, saya ke kamar dulu, ya. Sepertinya saya mengantuk."
"Iya, Den Ayu," ucap Mbok Nem sambil mengangguk.
Namun, belum sempat ia berjalan jauh, tubuh Dita limbung dan terjatuh. Beruntung, Mbok Nem berhasil menangkap tubuhnya.
Di dalam hati Mbok Nem terus meminta terus meminta maaf kepada Anindita.
"Maafkan saya, Den Ayu berbuat seperti ini kepada Anda."
Dari balik bilik, Nyonya Sekar melihat semuanya, lalu ia segera memberi kode pada Mbok Nem untuk mengangkat tubuh Dita kembali ke dalam kamar.
Mbok Nem segera membawa Dita masuk ke dalam kamar, sementara itu Nyonya Sekar tampak menelpon seseorang.
Setelah semua pekerjaan mereka selesai. Suasana kamar Dita kembali sepi karena kedua orang tadi segera meninggalkan kamar Dita.
"Sekali lagi saya minta Maaf, Den Ayu."
Tiba-tiba dari bawah ranjang Dita ada sosok yang bergerak. Ia keluar dengan merayap, sorot matanya yang merah sangatlah menakutkan. Sosok itu terus merangkak untuk keluar dari kolong tempat tidur milik Dita.
Setelah berhasil keluar dari kolong, ia langsung merangkak naik ke pembaringan Dita. Gerakannya seperti hendak menindih tubuh Dita.
Sosok tersebut sebagian tubuhnya gosong, kulitnya mengelupas, bahkan bola matanya hampir keluar dari sana. Rambutnya yang panjang dan berantakan menutupi sebagian wajahnya.
Sosok itu tersenyum manis kepada Dita, lalu mendekatkan wajahnya ke hadapan Dita.
"Cah Ayu, maaf jika setelah ini aku memanfaatkanmu untuk kepentinganku, tetapi aku berjanji akan membantumu menjalani takdir burukmu setelah ini, hi hi hi ...."
Sosok menyeramkan itu menggeliat dicatas tubuh Dita, namun saat ia hendak memasuki tubuh Dita, ia justru terpental jauh hingga menabrak dinding kamar Dita.
BRAK!
.
.
BERSAMBUNG
Hai hai sambil nunggu up, jangan lupa mampir ke sini ya kak.