Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 203. SERIUS


"Assalamu'alaikum ...." sapa Dita pada kedua orang tuanya barusan.


"Wa'alaikumsalam, Nak. Alhamdulillah akhirnya kamu menelpon juga," ucap Nyonya Sekar senang.


Sudah beberapa hari ini semuanya terlihat biasa saja, akan tetapi tidak bisa dipungkiri jika kekhawatiran di dalam hati Nyonya Sekar tidak berkurang. Terlebih lagi saat mendengar jika kapan hari Dita dan Fano sempat diserang makhluk itu di negeri sana.


"Iya, Bu. Maaf Dita dan Mas Fano sibuk jalan-jalan di sini, jadi tidak sempat untuk memberikan kabar."


"Syukurlah kalau begitu, Nak. Setidaknya semuanya masih baik-baik baik saja itu sudah cukup untuk Ibu."


Dita tersenyum ketika menanggapi ucapan dari ibunya tersebut. Ia sangat tahu bagaimana dulunya sang ibu sangat ingin jika Dita menikah. Hanya saja sepertinya semua sudah terlambat karena ini merupakan pernikahan Dita yang kelima.


Kalau Dita bisa melewati hal ini, itu sama saja dengan Dita sudah berhasil melalui takdir buruknya. Hanya saja keraguan masih menyelimuti hati dan pikiran Dita.


"Alhamdulillah kami masih selamat, Bu. Jadi jangan lupa untuk terus mendoakan kebaikan untuk kami. Bagaimana pun kami telah berjuang sampai detik ini adalah sebuah kebaikan untuk kami."


"Benar, semua yang telah terjadi sudah pasti akan menjadi sesuatu hal yang tidak mungkin untuk dilupakan dan telah menjadi sebuah pembelajaran."


"Begitulah, anakku. Semua yang hidup akan mati begitu pula dengan yang belum ada sudah pasti akan ada jika kedua manusia saling melakukan penyatuan."


"He-eh, apa yang ibu katakan?"


"Ha ha ha, maaf, bukan apa-apa, kamu tenang saja! Maafkan pikiran ibu sudah melantur panjang kali lebar. Maksud ibu hanyalah ingin segera memiliki cucu, begitu loh!"


Dita tersenyum miris ketika mendengar permintaan besar dari ibunya tersebut. Jauh di dalam hati Dita yang terdalam ia juga ingin merasakan malam pertama. Hanya saja jika hal itu sangat beresiko, maka Dita tidak akan pernah mau melakukan hal itu.


Jika dengan menghindari hal itu Dita bisa hidup lebih lama dengan suaminya maka ia akan memilih untuk tidak melakukan hal tersebut. Baginya jika memang mereka sudah bisa melewati hal ini lebih lama, maka Dita dengan senang hati akan melakukan hal itu.


"Kalau begitu, Ibu jaga kesehatan, ya! Dita pamit dulu."


"Iya, Nak. Kamu juga jangan terlalu banyak pikiran. Nikmati liburannya dan jangan merasa terbebani dengan semua ujian di dalam pernikahan. Ibu selalu mendoakan kebaikan untukmu, Sayang."


Sejak lama Fano sudah menunggui Dita dari belakang sana. Melihat jika istrinya baik-baik saja dan terlihat kebahagiaan ketika mengobrol satu sama lain membuatnya tenang.


Dihampirinya sang istri yang baru saja selesai bercerita. Tanpa disadari olehnya Dita justru sedang asyik memainkan ilmu barunya merangkai bunga.


Sentuhan halus dari kedua tangan Fano mampu membuat Dita hampir melonjak karena kaget. Tentu saja Dita langsung menoleh dan memukul-mukul bahu suaminya yang dinilai olehnya terlalu iseng ketika menjadi manusia.


"Enak aja main pukul, daripada dipukul lebih enak jika dicium!" ucap Fano sambil memegang kedua tangan Dita secara bergantian.


"Ye, itu mah akal-akalan kamu aja, Mas. Lagipula dicium setiap hari apa nggak bosan?"


"Lo 'kan diciumnya cuma di pipi doang, Lo. Mana ada enaknya?"


"Asem, trus mintanya apa-an?"


"Di sini, dong, yang lama gitu ....."


Jari telunjuk milik Fano mengisyaratkan jika hal yang ia minta barusan menunjukkan area bibirnya yang berwarna merah muda itu. Sudah sejak lama Fano memimpikan hal-hal indah yang bisa dilakukan ketika menjadi suami Dita.


Akan tetapi banyaknya ujian yang menimpa keduanya membuat Fano berpikir ulang untuk meminta hal-hal intim seperti itu.