Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 140. KEMARAHAN KANJENG NYAI


"Apa kau marah padaku, wahai cucuku?"


"Tidak, Kanjeng Nyai, hamba tidak marah."


"Lalu kenapa kau menunduk sedari tadi?"


"Tidak kenapa-napa, Kanjeng Nyai."


Dita menangkupkan tangannya ke atas kepala sebagai tanda hormat. Belum selesai mereka saling bercengkerama, Nyi Laksmi sudah hendak menyerang leluhur Dita.


Tiba-tiba sebuah ranting pohon bergerak sangat cepat, mengibaskan dedaunannya pada tubuh Nyi Laksmi yang langsung menyadarinya ketika ia hendak menyerang leluhur Dita.


Nyi Laksmi masih bisa menghindar dan merunduk. Ternyata ranting pohon itu tidak berhenti. Sepertinya ia bergerak sesuai kehendak leluhur Dita.


Kemana Nyi Laksmi menghindar, maka ia akan mengikutinya. Sesekali Nyi Laksmi melompat tinggi, berjumpalitan, bahkan terkadang ia beristirahat pada dahan yang lebih besar.


Namun, di luar dugaan, batang pohon itu bergetar hebat. Hanya dalam beberapa detik berhasil mengombang-ambingkan tubuh Nyi Laksmi yang masih berdiri di dahan. Dengan sigap dia meraih salah satu ranting, tetapi sayang, ujung ranting yang lain menusuk telapak tangan Nyi Laksmi.


"Arghhh! Beraninya kau melukaiku!" ucapnya sambil meringis kesakitan.


Padahal pohon itu sudah lama menjadi tempat tinggalnya. Namun entah kenapa saat itu, ia justru membantu lawan Nyi Laksmi.


Ia terus meringis kesakitan. Bagaimana tidak sakit, dari telapak tangannya terus mengalir da-rah kental berwarna hitam. Tidak mau terluka lebih dalam, Nyi Laksmi segera menarik kuat salah satu ranting yang menusuk tangannya tadi.


Bahkan dia menggunakan seluruh kekuatannya dengan menghentakkan kakinya hingga beberapa kali. Berniat ingin menghukum pohon yang berkhianat itu ia berlari mengelilingi pohon.


Beberapa saat kemudian terdengar suara, "KRAK ... KRAK!"


Mungkin jika Nyi Laksmi terus berputar, pohon itu pasti akan roboh. Tiba-tiba saja salah satu ranting terhempas ke tanah.


Melihat Nyi Laksmi kesakitan, Dita merasa tidak tega.


"Cukup, Kanjeng Nyai!" teriak Dita dari tempatnya.


Kini Dita, Tito dan Mbok Nem memandang ke arah leluhurnya yang baru saja datang untuk membantunya. Mengerti akan maksud Dita yang mengasihani Nyi Laksmi, Mbok Nem maju ke depan. Sebelumnya ia berterima kasih kepadanya karena sudah bersedia datang.


"Terima kasih untuk bantuannya, Kanjeng Nyai, tetapi saya juga butuh bantuan Nyi Laksmi. Jangan menyiksanya terlampau dalam."


Dari tempatnya Nyi Laksmi tersenyum menyeringai.


Leluhur Dita bukanlah orang yang bisa diajak kompromi. Sekali ia tidak suka, maka selamanya tidak suka. Ia memang seolah tidak menyerang Nyi Laksmi kembali, akan tetapi ia bersiap untuk menyerangnya lebih kuat.


"Katakan, apa maksud tujuan kalian ke sini, kenapa bukan meminta bantuan dariku, justru memintanya dari orang lain?"


Pertanyaan dari leluhur Dita seolah menusuk tajam ke arah Mbok Nem yang seolah menyepelekan kemampuan dirinya.


"Kami hanya ingin meminta bantuan Nyi Laksmi untuk mengembalikan jasad ataupun tulang belulang dari Den Bagus Tito."


Mata tua itu menyorot tajam ke arah Tito, lalu menoleh kepada Nyi Laksmi.


"Laksmi, serahkan tulang belulang bocah itu, kenapa justru kamu simpan di sini!"


"Hal itu bukan keinginanku, Kanjeng. Akan tetapi ada seorang manusia yang membuat sebuah perjanjian denganku, sampai dia belum kembali dan memenuhi kewajibannya maka jasad anak itu akan menjadi jaminannya!" ucap Nyi Laksmi menunjuk kepada Tito.


Tentu saja kenyataan baru ini membuat Dita dan Tito saling memandang satu sama lain.


"Kenapa begitu? Siapa yang melakukan perjanjian terlarang itu dan untuk apa?"


Nyi Laksmi terkikik, ia begitu senang melihat kebingungan yang dialami oleh mereka. Namun tidak dengan Kanjeng Nyai, ia justru semakin menatap tajam ke arah dirinya.


"Kenapa Kanjeng Nyai menatapku seperti itu?"


"Tunjukkan siapa dia, jangan membuat cucuku kebingungan!"


"Maaf, kalau soal itu aku tidak bisa memberi tahunya."


SRASH!


Kanjeng Nyai menggunakan selendangnya lalu segera melesatkan pada tubuh Nyi Laksmi. Dia meronta kesakitan. Tulang belulang miliknya seolah rontok seketika. Bagaimana ia bisa menjaga dirinya sementara leluhur Dita terus menyerangnya secara diam-diam.


"Bagaimana, Laskmi ... Kau mau membantu kami atau ...."


"Atau aku hancurkan seluruh tulang belulangmu hingga tidak bersisa!"


"Aaampuuuuun Kanjeng Nyai ....!" teriak Nyi Laksmi ketika melihat sebuah kilatan cahaya biru hendak membelah dirinya.