Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 99. TERPIKAT


Setelah bertemu dengan Dita, Fano sama sekali tidak bisa berkonsentrasi di dalam rapat. Pikirannya selalu dipenuhi oleh Dita. Kecantikan Dita memang seperti sihir yang mampu membuat kaum Adam bertekuk lutut tanpa harus ditaklukkan terlebih dahulu.


"Bodoh, kenapa aku tidak bertanya nama gadis itu?" gumamnya dengan nada gusar.


Tangannya masih memainkan pulpen, sementara itu tangan satunya memegang dagunya. Ia bahkan lupa jika saat ini sedang rapat dengan para bawahannya.


Sementara itu, para anggota rapat sedang menunggu keputusan darinya. Semua nampak tegang dan berharap-harap cemas. Sesekali mereka masih menoleh ke arah atasannya itu. Namun, Fano semakin tenggelam dalam lamunannya.


"Aduh, Pak Bos kenapa lagi, ya? Sepertinya aku harus menyadarkannya kembali," ucap Joko sekertarisnya.


Hingga tidak berapa lama kemudian, sekertarisnya mulai memberikan kode padanya.


"Bos, Bos ... maaf, jadi bagaimana keputusan hasil rapat hari ini? Semuanya menunggu keputusan dari Pak Bos!"


Tetap saja tidak ada respon, hingga mau tidak mau, Joko menginjak sepatu Fano.


"Argh!" keluh Fano kemudian.


Seketika kesadaran Fano kembali, ia sedikit terkejut dengan tatapan anak buahnya.


"Astaga, aku 'kan sedang rapat?" gumamnya seketika panik.


Namun, Fano sangat pandai menyembunyikan ekspresi wajahnya dan segera mengembalikan seolah-olah ia masih fokus dalam rapat.


"Ehem, oke karena sesuatu hal sepertinya saya harus mempelajari lagi laporan yang kalian berikan ini, dan besok pagi kita adakan rapat kembali."


"Sekian rapat pagi ini dan silakan kembali ke ruangan kalian masing-masing!"


Udara di ruangan rapat yang tadinya panas seketika terasa sangat menyejukkan ketika Fano masih memberikan kesempatan pada bawahannya kali ini. Padahal Fano adalah tipikal Bos yang sangat tegas terhadap bawahannya.


"Alhamdulillah," ucap beberapa karyawan yang tadi membuat laporan tertulis.


Setelah mendapatkan kesempatan kedua dari bosnya maka mereka semua keluar dari ruangan rapat. Sebelumnya Fano tidak pernah salah dalam memprediksi sesuatu hal. Oleh karena itu para bawahannya selalu hormat kepadanya.


Akan tetapi kebijakan hari ini seolah membuat Fano seperti orang lain. Joko yang menyadari hal ini segera mendekati atasannya.


"Joko, menurutmu bagaimana cara menaklukkan gadis yang sangat jutek?"


"Ha-ah?"


Joko mengira Fano akan menanyakan pekerjaan tetapi ternyata ini lain. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu berpikir keras.


"Kalau soal itu, anu Bos ...."


"Mbak, kamu saja yang lihat ke belakang, aku takut ...." ucap Lusi yang merinding sejak tadi.


"Ya ampun, Lus ... siang-siang nggak ada setan."


"Kata siapa?"


"Sudah, sudah ... kalau kalian ribut, biar saya saja yang melihatnya sendiri," ucap Dita sambil beranjak.


"Nggak usah, Mbak. Biar saya saja yang ke sana."


Nurul dengan memberanikan diri segera pergi ke dapur. Ia memeriksa dengan seksama kondisinya, tetapi tidak terjadi apa-apa.


Baru saat ia berbalik ada tetesan da-rah hitam yang menetes dari langit-langit. Dengan perasaan was-was dan berdebar, Nurul menengadahkan wajahnya ke atas dan ternyata ada sosok kuntilanak yang menempel di sana dan tersenyum ke arahnya.


"Hihihi ...."


"Aaaaa ...."


Nurul berteriak sekencang-kencangnya dan sesaat kemudian pingsan. Mendengar teriakan anak buahnya, Dita dan Lusi berlari ke belakang. Ternyata mereka menemukan Nurul tergeletak di lantai.


"Nurul!"


Meski tertatih ia segera memeriksanya, memberikan minyak kayu putih dan mengoleskannya pada hidung Nurul. Namun pada saat yang sama tengkuk Dita seolah ditiup.


Aroma bunga kantil dan bau anyir sangat terasa di sana. Mengaduk-aduk perut Dita dan kembali mengingatkannya pada hal yang sering terjadi beberapa bulan yang lalu.


"Apakah dia kembali lagi?" ucapnya sambil bergidik ngeri.


Sementara itu kuntilanak itu semakin tertawa terbahak-bahak. Sebenarnya ia tidak ingin menganggu, hanya saja sifatnya memang suka usil.


"Hm, dasar manusia, ketemu Noni cantik kaya aku kok takut, hihihi ...."


......................


Kondisi yang miris terjadi pada Ibunda Yudistira. Saat ini beliau sudah tidak terlalu sehat seperti dulu. Bahkan ia seperti orang setengah sehat. Sudah dibawa berobat ke mana pun hasilnya tetap sama. Hingga suaminya sudah menyerah.


Nyonya Sekar yang mengetahui hal itu tidak bisa berbuat banyak, karena ia hanya akan menghubungi Dita, agar ia sendiri yang memutuskan ke depannya.


"Semoga saja Dita memaafkan semua perbuatan ibu mertuanya, dan semoga semuanya kembali seperti semula. Aamiin."