Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 144. TRAGEDI


"Rasakan, kau tidak pantas ikut campur terlalu dalam!"


Ibunda Tito berhasil membuat Dita kesakitan karena beberapa kali peelakujan kasar yang ia berikan pada menantunya tersebut. Bekas perlakuan kasar yang dilakukan secara berkali-kali berhasil membuat Dita jatuh tersungkur dan pingsan.


"Lihatlah, bagaimana rasanya jika kamu mendapatkan hal yang lebih buruk daripada ini, bukankah itu sama saja dengan membuatmu menderita?"


Terdengar suara orang tertawa dengan terbahak-bahak. Bahkan siapa saja yang mendengarnya akan mengganggap mereka kurang waras.


Di sisi bagian rumah yang lain , Ayah Tito mendapatkan tugas untuk melukai Mbok Nem. Entah dengan cara apalagi yang terpenting adalah mereka harus secepatnya tiada.


"Semakin cepat maka itu akan lebih baik dari sekarang!" ucap Ibu Tito dengan bangga.


Sementara itu Mbok Nem juga tidak bisa lepas dari Ayah Tito. Ia juga mendapatkan hal yang sama seperti apa yang dilakukan kepada Dinda. Bukan hanya sekali saja, tetapi beberapa kali perlakuan kasar dari Ayah Tito membuat Mbok Nem hampir pingsan.


"Untung kita cepat datang ke sini! Kalau tidak sudah pasti kita tidak akan bisa melindungi arwah Tiyo."


"Sudah, ayo kita segera pergi, tidak usah berlama-lama tinggal di sini! Aku lelah, Bu."


Setelah puas, tubuh Dita diseret dengan paksa hingga masuk gudang. Senyum mereka tersungging sempurna karena berhasil membuat kedua orang itu terluka.


"Lepaskan Den Ayu!" teriak Mbok Nem dari tempatnya ketika ia menyadari jika junjungannya terluka.


"Apakah aku akan membiarkan mereka berdua selamat? Hm, sepertinya tidak usah menerka dan kita lakukan sesuai rencana saja, bagaimana?"


"Aku setuju! Adalah sebuah kebaikan jika kita masih memberikan kesempatan untuknya."


Merasa jika Mbok Nem terlalu banyak bicara, membuat Ibu Tito merasa tidak suka dan langsung memberikan bonus untuk Mbok Nem.


Seketika tubuh Mbok Nem diikat dengan tali dan mulutnya disumpal dengan kain. Mereka bahkan tidak melihat kondisi Mbok Nem yang sudah berumur. Mungkin mereka sejak dulu merasa tidak suka akan hal itu.


"Hei orang tua, kamu tuh hanya pembantu, beraninya mengertak tamu!" pekik Ibunda Tito kesal.


Setelah menyumpal mulut Mbok Nem, Ibunda Tito menamparnya. Amarahnya benar-benar menakutkan.


Mereka berdua segera kembali ke Kediaman Handoko sesaat setelah api pemujaan di rumah mereka padam. Itu sama artinya nyawa putra mereka terancam. Tidak mau kekayaan miliknya sirna karena kecerobohan, mereka kembali ke rumah menantunya itu.


Melihat Dita masih belum bangun, Ibunda Tito segera pergi ke ruang gudang tempat ia menyekap Dita.


...BYUR...


Ibunda Tito menyiram tubuh Dita dengan air hingga ia siuman.


"Bangun! Katakan di mana anakku Tito!" gertaknya dengan angkuh.


Tampak sekali api kemarahan di dalam matanya. Nafas Dita tercekat ketika tangannya mencekik lehernya dengan sangat kuat.


"Katakan Adinda Ayu!"


Sepertinya kemarahan Ibunda Tito sangat besar, entah apa yang membuatnya marah seperti ini. Tidak mungkin jika hanya kehilangan Tito, ini pasti berhubungan dengan ditemukannya jasad Tito.


...KRIET ... BRAK!...


Pintu kamar gudang terbuka dengan tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam memasuki ruangan itu. Dita bisa melihat dengan jelas hal itu.


"Apa itu Mas Yudis? Atau makhluk lain?"


Aroma anyir dan berbau busuk menyengat hidung. Belum lagi lampu di gudang tiba-tiba saja mati.


"Sialan! Siapa yang berani mematikan lampu!" teriak Ibunda Tito.


Ibunda Tito melepas cengkeraman leher Dita dengan segera. Lalu berusaha meninggalkan Dita di sana. Derap langkah itu berhenti dan terganti dengan sebuah suara teriakan yang memekakkan telinga.


"Aarghhhh! To-tolong a-aku ...."


"Suara, suara itu bukankah seperti suara Ibunda Tito, ada apa dengannya?"


Belum sempat mendapat jawaban dari pertanyaannya, Dita justru mendengar sebuah benda terjatuh dengan sangat keras.


...BRUAKKK...


Sebuah hantaman besar terasa sangat menganggu di telinga. Lalu pekikan keras terdengar di sana.


Sesaat kemudian lampu menyala dengan terang dan pintu terbuka dengan lebar. Mata Dita terbelalak ketika menyadari ada banyak da-rah berceceran di lantai. Lalu netra matanya menangkap sosok yang sangat ia kenal.


"I-ibu ...."


Ternyata makhluk itu menyerang ibu mertua Dita hingga ia tidak bernyawa. Tidak disangka ke-ma-ti-annya sungguh tragis. Sementara itu Ayah Tito tersenyum menyeringai.


"Kamu memb-unuh istriku, dasar menantu tidak berguna!"


...SRASH...


Bukannya terlempar mengenai leher Dita, belati itu justru terpental dan berbalik menyerang lehernya sendiri.


Sebuah kepala manusia menggelinding di lantai gudang. Dita yang melihat hal itu dengan mata kepalanya sendiri berteriak histeris dan pingsan. Sementara itu arwah Tito yang sedari tadi bersembunyi kini muncul.


"Maafkan ayah dan ibuku, Dita. Aku mencintaimu, terima kasih telah menolongku."


Sesaat kemudian sebuah cahaya berwarna putih mungil dari langit dan membawa pergi ketiga arwah Keluarga Tito. Ketiganya melambai sebagai ucapan perpisahan kepada Mbok Nem.


Setelah itu Mbok Nem segera menelpon pihak kepolisian dan menjelaskan semua itu pada mereka.


Kejadian kemarin menjadi sebuah pembelajaran untuk Dita dan keluarganya. Jika telah berhubungan dengan makhluk halus sudah pasti ada perjanjian di dalamnya.


Jika kita bisa menjaga isi perjanjian itu sesuai ketentuannya, maka nyawa kita akan selamat. Namun, sebaliknya jika kita melanggar sedikit saja isi perjanjian tersebut, maka nyawa menjadi taruhannya.


Saat ini lagi dan lagi, Dita menghadiri acara pemakaman suaminya yang ke empat. Ditambah lagi dua pemakaman untuk ayah dan ibu mertuanya. Sebuah pukulan berat kini menyertai Dita.


"Aku tidak mau bertemu dengan siapapun, Mbok!" pamit Dita sebelum memasuki kamar.


Sesaat kemudian Dita mengurung dirinya di kamar. Tidak lama berselang, ada sebuah mobil memasuki pekarangan rumah. Ternyata Tuan Handoko dan Nyonya Sekar kembali dari luar kota.


Saat mendengar berita putrinya mengalami kemalangan kembali, membuat Nyonya Sekar khawatir dan ingin segera pulang.


"Selamat sore, Kanjeng Ibu," sapa Mbok Nem yang berjaga di depan kamar Dita.


"Di mana putriku, Mbok?"


"Ada di dalam Kanjeng Ibu," ucapnya sambil menunduk.


Namun, langkah kakinya terhenti ketika Mbok Nem menghalanginya masuk.


"Apa-apaan ini, Mbok. Kenapa kamu menghalangi jalanku?"


Nada suara Nyonya Sekar sedikit meninggi, apalagi badannya sudah letih ditambah lagi Mbok Nem tidak membiarkan dirinya masuk.


"Mohon maaf, Den Ayu melarang siapa saja masuk ke dalam kamarnya."


"Termasuk aku?" ucapnya sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arahnya.


"Maaf, tapi saya hanya menjalankan permintaan Den Ayu. Sepertinya ia sangat terpuruk akan kejadian hari ini dan kemarin."


"Hari ini dan kemarin, maksudnya?"


Alis Nyonya Sekar berkerut karena ucapan Mbok Nem barusan.


"Mari ikut saya, Kanjeng Ibu, biar saya jelaskan semuanya."