Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 93. TENTANG KAMU


Mendengar kabar jika Dita masih bisa melenggang dengan bebas di luar rumah membuat Ibunda Yudistira tidak bahagia. Entah kenapa rasanya ia masih tidak rela jika Dita masih hidup.


"Kenapa dia tidak mati?" ucap Ibunda Yudistira dengan nada gusar.


Sementara itu, arwah Yudistira merasa tidak tenang karena ibunya berniat untuk menyakiti Dita.


"Ibu ... ibu ...."


Suara Yudistira terdengar memilukan dari luar kamar. Hal itu serta Merta membuat Ibunda Yudistira menoleh ke arah pintu.


"Itukah kamu, Nak. Apa kau pulang?"


Ibunda Dita melangkahkan kaki dengan cepat untuk keluar dari kamar. Ia mencoba mencari sumber suara itu dengan menoleh ke kanan dan kiri.


Sampai akhirnya, beliau membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Ternyata di luar sana terlihat sosok Yudistira terdiam mematung di bawah pohon.


Tubuhnya terlihat kuyu, lingkar matanya terlihat sangat hitam. Sementara itu bola matanya berwarna merah dengan air mata yang berwarna hitam tetapi kental. Terus mengalir hingga menimbulkan bau yang sangat busuk.


Wajah Yudistira begitu pucat. Saat bayangan sekilas mirip Yudistira itu menatap ke arah ibunya, terlihat amarah dan kekecewaan menjadi satu di sana.


"Kenapa ibu melakukan semua ini?" ucapnya dengan suara paraunya.


Bukannya menjadi takut, ia semakin mendekati arwah putranya itu.


"I-ibu melakukan semua ini demi kamu, Nak."


Tangannya terulur hendak menyentuh wajah Yudistira, tetapi saat hampir mengenai, arwah Yudistira segera menghilang.


"Jika demi aku maka Ibu tidak akan menyakiti Dita, bahkan bersekutu dengan jin!" ucapnya menggelegar.


"I-itu tidak benar," ucapnya dengan nada menolak.


"Jangan sakiti Dita, Bu. Cukuplah aku saja yang menderita!"


"Tidaaak!"


Ibunda Yudistira terpukul dengan kepergian putra semata wayangnya, Yudistira. Akan tetapi semua sudah berlalu. Semoga saja semuanya akan kembali lagi dan tidak meninggalkan dendam di sana.


......................


Sejak mengetahui akun media sosial milik Dita membuat Danu tidak bisa tidur. Mau tidak mau ia terlihat gelisah.


"Apakah hal seperti ini sangatlah baik untuk semuanya? Untukku dan Dita?"


"Akan tetapi jika aku mendiamkannya seperti ini apakah suatu saat jika kami bertemu kembali akan terjadi kecanggungan yang luar biasa kembali?"


Banyak sekali hal yang dipikirkan Danu sehingga membuatnya tidak bisa tidur. Entah mengapa pesona Dita memang tidak bisa terelakkan lagi. Apalagi saat ini posisi Dita adalah janda dan tidak memiliki ikatan cinta dengan siapapun.


Hal itu membuat Danu mudah untuk memasuki hati Dita. Namun ia tahu konsekuensinya jika mendekati Dita saat ini.


Mungkin itu akan menjadi sebuah pelarian yang tidak akan berujung. Hal yang membuatnya akan semakin jauh dan tidak akan ada cinta antara dirinya dengan Dita.


"Tunggu sampai waktu itu tiba, maka aku akan menunggumu."


......................


Senja sudah berganti dengan malam. Semilir angin sore berhembus menerpa tubuh. Membuai siapa saja yang sudah lelah bekerja seharian dalam selimut senja hingga perlahan membuatnya terlelap.


Di langit indah


Ku tatap senja dengan lekat sambil


Menahan perih yang mendenyut di dada


Bolehkan aku menyesal


Telah mengenalnya


Bolehkan rasa cinta di hati ini tidak seharusnya ada


Atau bolehkan aku


Memberontak marah pada Tuhan


Karena telah menciptakan fatamorgana ini


Jeritan perih sedari tadi menusuk hati


Entah sudah berapa lama aku menatap langit


Yang berawarna oranye ini


Apapun yang kulakukan kuingin lupakan


Tetapi sakit


Yang menyayat hati


Masih saja


Tak bosan bersemayan di sana


Langit yang berwarna kemerah-merahan ini


Mungkin sudah bosan melihat guratan pilu


Andai kau tahu bahwa melupakanmu


Tak secepat langit indah ini menggelap


Kutipan karya Rara Dianda judul Ingatan Kamu