Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 105. TERKUTUK


"Anindita, bangunlah, Nak ...."


Samar-samar terdengar suara orang yang memanggil nama Dita. Namun, tubuhnya sulit untuk digerakkan.


"Ada apa dengan tubuhku, kenapa rasanya sangat berat?"


Dita masih mencoba menggerakkan tubuhnya tetapi tetap tidak bisa. Ia hanya bisa membuka matanya perlahan, itu pun dalam keadaan menyipit.


Sungguh betapa terkejutnya ia ketika ada sepasang mata yang menatap tajam ke arahnya bahkan hembusan nafasnya sangat berat hingga membuat detak jantung Dita berdetak lebih kencang.


Sosok lelaki itu sangat tampan dan membuat detak jantung Dita berhenti berdetak untuk sesaat, lalu semakin berdebar-debar. Apalagi saat ini lelaki itu menindih tubuhnya hingga ia tidak bisa bergerak.


Ingin sekali rasanya mulut Dita terbuka, protes akan keadaan yang terjadi. Akan tetapi seberapa besar ia mencoba hasilnya tetap nihil. Lelaki tampan itu tersenyum manis ke arah Dita, menyihirnya untuk sesaat, agar ia leluasa menguasai tubuh Dita. Untuk sejenak, ia mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Dita.


Hembusan nafasnya sangat terasa hingga membuat bulu kuduk meremang dan sesaat kemudian ia berteriak karena wajah lelaki itu tiba-tiba berubah sangat menyeramkan. Matanya menatap tajam disertai tawa menyeringai.


"Anindita, calon permaisuriku, kenapa kamu seperti itu? Ha ha ha ...."


Wajah yang semula tampan, kini mulai mengelupas kulit wajahnya. Hingga tampak sekali jika bagian bawah kulitnya berwarna merah da-rah. Belum lagi da-rah yang menetes bercampur bau anyir itu membasahi baju tidur milik Dita. Tentu saja membuat ia mual sekaligus jijik.


Kulit tubuhnya yang kekar yang semula mulus, berubah dan dipenuhi dengan bulu lebat. Meskipun ia tersenyum manis tetapi hal itu terasa sangat menyeramkan bagi Dita.


"Jadilah permaisuri di alam keabadianku Anindita ...."


Makhluk itu menyurai rambut Dita, lalu mengusap wajah Dita dengan lembut.


"Jika kamu menerimaku, sebagai imbalannya, maka kau tidak akan pernah terluka sampai hari kebangkitan tiba."


"Abadilah bersamaku, Sayang ...."


Ucapan yang seolah manis itu sangatlah memuakkan untuk Dita. Tubuhnya bergetar hebat. Seolah menolak dengan apa yang diucapkan makhluk mengerikan itu.


Terlebih lagi ia sangat tidak butuh keabadian. Dita hanya membutuhkan seseorang yang bisa membimbing, menuntun jalan hidupnya agar selalu senantiasa diliputi kebahagian meski sebagai manusia biasa.


Ternyata makhluk itu tidak hanya menyentuh wajah Dita. Ia bahkan dengan lihainya membuat Dita menggelinjang karena sebuah kegilaan. Di dalam setengah sisa kesadarannya ia berdoa agar bisa lepas dari kungkungan makhluk itu.


"Siapa saja, tolong aku ...." rintih Dita setengah sadar.


Sayup-sayup terdengar sebuah lagu Jawa yang mengalun indah di telinga. Semakin lama semakin terdengar sangat dekat. Hingga sesaat kemudian pintu kamar Dita terbuka lebar.


BRAKK!


Sesosok wanita memakai pakaian Jawa lengkap dengan sanggulnya memandang ke arah pembaringan Dita. Tempat di mana Dita sedang dalam pengaruh makhluk setengah iblis yang sangat terobsesi dengan Dita.


"Menjauhlah ... atau kau akan aku habisi saat ini," ucapnya penuh nada penekanan.


"Dasar makhluk kep**at! Rupanya kau meremehkanku!"


"Terimalah kematianmu ini!"


PRANG ... PRANG ....PRANG ...


Namun rupanya sosok itu tidak membiarkan Dita dikuasai makhluk jahat. Entah dengan kekuatan apa akhirnya makhluk yang tadinya berada di atas tubuh Dita mengerang, lalu sesaat kemudian berteriak. Akhirnya sesaat kemudian ia hilang dan kemenangan berhasil diraih oleh penjaga Dita.


Sebelum Dita kembali siuman, makhluk itu sudah menghilang. Sementara itu Mbok Ijah yang secara tidak sengaja mendengar keributan, segera berlari ke arah kamar Dita.


"Den Ayuuu ...." teriaknya.


Mungkin melihat Dita yang tergeletak di atas tempat tidur membuatnya panik. Terlebih lagi saat kondisi kamar Dita sangat berantakan dan selimut yang dipakai Dita tersibak.


Mbok Ijah menggoyang-goyangkan tubuh Dita, tetapi tidak ada respon sama sekali. Hingga ia menggunakan air yang berada di atas nakas untuk dipercikan ke wajah Dita.


Namun sebelum itu ia membacakan doa terlebih dahulu ke bibr gelas, baru sesudahnya ia percikan ke wajah Dita sebanyak tiga kali. Seolah menemukan kesejukan, perlahan Dita membuka kelopak matanya.


"Si-simbok ...."


"Alhamdulillah Den Ayu sudah sadar."


Seketika, Dita berhambur memeluk Mbok Ijah yang sudah duduk di samping tempat tidur.


"Terima kasih sudah menolongku, Mbok."


"Sama-sama, Den Ayu. Bagaimana dengan keadaan Den Ayu saat ini?" Apakah sudah lebih membaik?"


Dita mengangguk senang, setidaknya ia bisa selamat dari jeratan makhluk menyeramkan tadi.


Rani kebetulan sedang membeli jajan di pinggir jalan. Ketika pembelinya membungkus jajan miliknya dengan koran, tidak sengaja ia membaca tulisannya yang berisi berita tentang keluarga Dita.


Matanya terbelalak ketika melihat berita yang tertulis di sana yang mengatakan bahwa pernikahan Anindita gagal untuk ketiga kalinya.


"Astaghfirullah ... nasibmu begitu lagi ...."


.


.


BERSAMBUNG