Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 110. IDE KONYOL


Setelah pertemuannya dengan Fano beberapa hari yang lalu membuat Dita harus mengurangi kegiatannya di luar rumah. Ia benar-benar ingin menjauh dari makhluk yang namanya laki-laki.


Bukan bermaksud alergi, hanya saja Dita tidak ingin mengambil resiko. Terlebih bayangan pernikahan Dita yang gagal beberapa bulan yang lalu membuatnya memilih untuk tidak berurusan dengan laki-laki.


"Aku nggak mau ada korban lagi, lebih baik begini daripada terus menjadi seorang pembunuh," gumam Dita.


"Selama aku tidak mendapatkan jawaban atas semua kutukan yang terjadi, aku berharap tidak ada berita kematian kembali."


Hanya sebuah keinginan kecil yang diinginkan Dita saat ini. Ia sama sekali tidak menginginkan hal yang muluk ataupun harta benda yang melimpah. Satu keinginannya hanyalah memiliki sebuah keluarga kecil dan bahagia.


Dita menikmati hamparan perkebunan teh di hadapannya saat ini. Ia sama sekali tidak suka jika terus berdiam diri di dalam kamar, tanpa mengetahui dunia luar seperti apa. Jenuh, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaannya saat ini.


Jika kita tidak memiliki kemampuan dasar bagaimana bisa ia terus bertahan. Padahal cobaan demi cobaan datang silih berganti. Begitulah pemikiran Dita saat ini. Setidaknya ada hal yang ia kerjakan ketika ia merasa jenuh dan bingung mau melakukan apa.


Nyonya Sekar sedang mencari keberadaan putrinya saat ini. Ketika ia melihat ada Mbok Ijah yang lewat di hadapannya membuat ia memanggilnya.


3s


"Mbok kamu melihat keberadaaan Dita, tidak?"


"Sepertinya tadi pagi saya melihat Raden Ayu ada di gazebo belakang."


"Maksud simbok dia sedang merenungi kesalahannya, begitu, kah?"


Mbok Ijah mengangguk perlahan.


"Ya sudah Mbok ... Terima kasih."


"Sama-sama."


Memang tidak mudah untuk mengerti perasaan dan isi hati orang lain. Sehingga semua terlihat biasa bahkan terkadang banyak yang mengabaikan hal tersebut. Namun, Nyonya Sekar tahu jika Dita sedang bersedih .


Akhirnya setelah bertemu Mbok Ijah, Nyonya Sekar menyusul Dita ke halaman belakang rumah. Benar sesuai perkataan dari Mbok Ijah, saat ini ia bisa melihat keberadaaan Dita.


"Sebenarnya malam itu terjadi apa, sih? Kenapa Dita seolah menjauhi Fano?"


Berbagai pertanyaan menganggu pemikiran Nyonya Sekar, hingga membuatnya ingin mencari tahu tentang keadaan putrinya. Sedangkan Fano yang sedang melihat berita semakin marak tentang isu poli-tik sedikit tergelitik akan ide konyol.


Terlebih banyak para wakil rakyat yang melakukan tindak kor-up-si. Hal-hal unik dan konyol seketika memenuhi pikirannya. Sontak, Fano segera meraih ponselnya dan mengirim pesan ke aplikasi hijau milik Dita.


"Hai, jutek ... Apa kabar?" tulis Fano pada awal percakapannya.


Dita yang lagi asik melihat jurnal laporan tertulis dari Nurul dan Lisa terpaksa mengambil ponselnya dan membaca pesan yang dikirim oleh Fano. Seketika kening Fano mengeryit lalu setelahnya bergumam dengan nada yang tidak jelas.


"Sebenarnya ia sedang mencari apa, sih?"


Lalu di bacanya dengan perlahan isi pesannya.


"Gilak! Aku dikatai cewek jutek!" pekiknya kesal.


Fano sedang berharap-harap cemas karena belum bisa memancing Dita untuk membalas pesannya. Padahal saat itu ia terlihat online. Tangannya yang gatal segera mengirimkan pesan kembali.


"Hm, gitu ya ... minta disamperin kayaknya nih, udah online tapi nggak balas."


"Eh, ketauan kalau baca dong, asem!"


"Gue hitung sampai tiga, kalau sampai nggak balas pesan gue, bakal gue samperin malam ini juga!"


"Iya, kenapa sih, pakai ngirim pesan segala, padahal aku sudah berkata agar kau menjauhi aku!"


"Ha ha ha, kamu dapat salam dari para wa-kil rakyat. Katanya minta di nikahin sama kamu."


"Kok, bisa?"


"Ia biar mereka ma-ti terus kamu bisa nikah sama aku."


"Gilak, kamu jangan bercanda. Emangnya menikah buat bahan candaan."


"Emangnya aku ngajak kamu buat becanda. Aku kan kasih solusi buat kamu."


Alis Dita bertaut, bingung akan perkataan dari Fano.


"Maksudnya?"


"Jika kamu menikah dengan mereka terus mereka mati, maka kamu akan berjasa karena mengurangi wa-kil rakyat yang suka kor-up-si. Kamu juga bakal dapat penghargaan dari pemerintah karena berhasil memberantas kor-up-si."


"Dasar gila!"


"Iya, aku tergila-gila sama kamu. Makanya aku akan menunggu sampai kutukan yang ada padamu hilang dan aku akan membuatmu bahagia dengan menjadikan mu istriku, bagaimana?"


"Fano ....!"


"Iya, Sayang. Miss you honey ...."


Meskipun kesal, entah kenapa Dita menanggapi chat dari Fano hingga tidak terasa rasa penatnya hilang. Apakah benar jika Fano adalah jodoh Dita? Ataukah masih ada lelaki lain yang menjadi jodohnya?


Komen yuk biar othor makin semangat buat nulis lagi, love all readers yang masih setia mendukung karya ini.