Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 69. KANURAGAN


Alam manusia dan alam jin memang berbeda. Sangat jarang sekali jika ada manusia yang bisa selamat ketika sudah memasuki dunia lain.


Akan tetapi Dita, kakek serta Nenek Romlah masih berusaha untuk menyelamatkan Danu, bagaimanapun caranya. Meskipun dengan cara yang berbeda tetapi setidaknya mereka berusaha dengan cara masing-masing.


"Kamu sudah siap, Nak Dita?" tanya kakek berjubah putih kepada Dita.


Dita yang sudah memakai pakaian lengkap jarik dan kebaya mengangguk. Meski dadanya bergemuruh karena ketakutan, ia tetap melanjutkan upaya penyelamatan untuk Danu.


"Apapun hubungan kita, aku tetap akan menolongmu, karena aku kamu menjadi terluka seperti ini," gumam Dita sambil memusatkan pikirannya.


Melihat kesiapan Dita, maka kakek tersebut melanjutkan ritualnya.


"Ikhlas ya, Nak Dita," ucap kakek pada Dita mengingatkan.


Salah satu hal penting yang harus mereka jaga adalah ketika melakukan semua hal harus dengan rasa ikhlas, karena dengan begitu apapun hasilnya mereka akan lebih legowo nanti. Memang manusia boleh berencana, sepenuhnya tetap dengan campur tangan Tuhan.


Setelah memastikan Dita siap, kakek menyuruh Dita agar duduk di tempat yang sudah dipersiapkan.


"Duduklah di sana, Nak Dita."


Kini Dita duduk bersimpuh di antara hamparan kembang tujuh rupa. Ia duduk di bagian tengah-tengah. Lalu kakek tersebut mengguyur kepala Dita dengan satu gayung air kembang.


Satu guyuran yang diberikan kakek tersebut diiringi bersama satu untaian doa. Hal itu terus dilakukan sampai hitungannya berjumlah tujuh kali. Sedangkan Dita menutup matanya sambil memanjatkan doa-doa yang ia bisa. Satu tujuan utama mereka hanyalah menyelamatkan Danu.


"Semoga dengan begini aku bisa menyelamatkan kamu, Mas. Aamiin."


..._Di dunia lain_...


Beruntung Danu adalah seorang santri yang khusyuk, sehingga ia bisa sesekali bergerak lebih cepat beberapa langkah daripada bangsa jin tadi.


"Meskipun kalian dari bangsa Jin, aku yakin kalian tidak akan menang dariku!" gumamnya dalam hati.


Ia terus berjuang dengan segenap kekuatan yang ia miliki. Danu bukanlah seseorang yang mudah dikalahkan. Tidak seperti lelaki ataupun suami Dita terdahulu.


Entah kenapa, Dita berniat untuk menyelamatkan Danu. Ada sebuah dorongan besar yang memaksanya untuk melakukan hal itu. Meskipun begitu dorongan dari dalam hati sangat besar.


"Kamu harus menolong lelaki itu bagaimanapun caranya, Dita. Jangan sampai menyesal di kemudian hari jika kau gagal."


Sasana semakin mencekam ketika bulan purnama terlihat penuh di langit. Awan-awan yang sebelumnya bertaburan di angkasa kini sudah pergi. Kini hanya tersisa hamparan bulan purnama bersama bintang-bintang.


Beberapa hewan malam sudah mulai muncul, menambah aura mistis malam itu. Ada burung gagak yang berkicau tidak jauh dari kediaman tempat Dita melakukan ritual. Hingga suara tokek yang berbunyi nyaring di dinding menambah kesan dan menyampaikan sebuah pertanda.


Beberapa saat kemudian ....


Langit yang semula terang benderang kini berubah gelap. Kilatan cahaya petir menyambar-nyambar seolah-olah sedang marah dengan apa yang dilakukan Dita dan kakek tersebut.


"Ada apa ini, kenapa aku semakin ketakutan? Percayalah Dita kamu pasti bisa, apalagi ada kakek yang membantumu."


Melihat Dita goyah, kakek tersebut terus mengingatkan Dita agar fokus konsentrasi.


"Konsentrasi, Dita. Kamu pasti berhasil jangan terganggu dengan bisikan apapun. Berjalanlah lurus ke depan."


.


.


Bahkan Nenek Romlah yang semula masih duduk bersila kini sudah jatuh tersungkur. Mulutnya bahkan mengeluarkan da-rah dari sudut bibirnya. Ia kalah dalam pertempuran kali ini.


"Danu, kamu harus kuat, Cu. Maafkan nenek, Sayang."


Di dunia lain, kakek bersama Dita saling bahu membahu untuk menyelamatkan Danu.


"Jangan takut, Nak. Mereka hanyalah bangsa Jin, sementara kita adalah manusia yang harkat dan martabatnya jauh lebih tinggi di atas mereka. Jangan takut!"


Beberapa saat kemudian, dengan berbekal ilmu yang ia miliki, kakek tersebut akhirnya berhasil menyelamatkan Danu.


"Akhirnya kamu selamat!" seru kakek dengan raut wajah bahagia.


Danu memang terluka, ia hampir pingsan saat Dita sampai di sisinya. Namun, Danu tersenyum ketika melihat Dita datang menyelamatkannya


"Terima kasih Dita, karena kamu sudah datang untuk menyelamatkanku," ucap Danu yang sesaat kemudian, lalu tidak berapa lama ia pingsan.


Kakek tersebut berhasil menopang tubuh Danu agar tidak terjatuh ke lantai. Sementara itu Dita mempersiapkan jalan untuk mereka lewati. Beberapa kali ia menghalau satu persatu jin dengan wujud asli mereka. Meskipun Dita bergidik ngeri dan ingin muntah, Dita segera menuntaskan pekerjaannya.


Melihat jika Dita tidak mampu melakukan hal ini, kakek menyuruh Dita untuk membawa Danu segera keluar dari dalam sana.


"Cepat bawa dia keluar, Dita. Biar aku selesaikan urusan ini!"


"Bagaimana caranya aku bisa membawa roh Danu keluar dari sini?"


"Lemparkan dia ke atas sesuai dengan kemampuan yang kamu miliki!"


"Ha-ah, melempar dengan paksa? Bagaimana jika aku salah melempar dan membuatnya semakin terancam?"


Keyakinan Dita mulai terkikis dengan hal ini, mau tidak mau kakek juga ikut menyalurkan kekuatan pada Dita.


Melihat Dita bengong, kakek menyentil roh Dita yang berada di hadapannya.


"Cepat lakukan, Dita!"


"I-Iya."


Dengan cepat, Dita menarik paksa roh Danu untuk keluar dari dunia lain. Ia segera melemparkan kembali rohnya ke dalam tubuh Danu.


"Gawat, aku mulai tidak kuat, bagaimana ini?"


Kakek bisa merasakan jika kondisi Dita semakin melemah. Sementara itu, setelah melakukan tugasnya Dita pingsan.


Melihat Dita pingsan, kini giliran kakek melempar roh Dita kembali pada tubuhnya. Tidak lupa ia langsung meletakkan kembali tubuhnya di dalam mobil dan menghapus sebagian memory di dalam pikiran Dita.


"Kamu sudah aman, kini giliran kakek yang berjuang."


Di sisi lain, kakek masih berjuang melawan beberapa makhluk yang tersisa. Mengetahui bahwa putranya kalah dalam peperangan tersebut, Raja Jin segera menghadang Kakek Berjubah Putih.


"Beraninya pihak manusia sampai membuat kacau kerajaan jin milikku!"


Tidak berapa lama kemudian, ia sudah berhasil melawan Raja Jin. Kini kakek tersebut sudah berhasil keluar dari alam lain. Melihat Dita pingsan, kakek menyalurkan tenaga dalamnya untuk menghapus sebagian memory yang sejatinya harus dilupakan oleh Dita.


Ingatan yang tersisa hanyalah beberapa kejadian yang memamg tidak boleh sepenuhnya diingat oleh manusia, sekalipun ia istimewa seperti Dita.


Sedangkan Danu, masih terbaring lemah. Saat ini ia dalam keadaan mengenaskan. Banyak luka lebam yang terdapat di tubuh Danu. Begitu pula dengan luka di tubuh Nenek Romlah.


"Bagaimana keadaan Dita saat ini, kenapa ia sama sekali belum memberikan kabar kepadaku."


Nyonya Sekar masih mondar-mandir di depan kamarnya. Pandangannya masih tertuju pada halaman rumah, ingin tahu apakah Dita sudah sampai apa belum. Akan tetapi keadaannya sama saja.


"Semoga kamu baik-baik saja, Aamiin."