
Untuk pertama kalinya dalam hidup Dita, akhirnya ia membuat akun sosial media. Mencoba keluar dari kebiasaan kaum ningrat yang selalu menutup dirinya. Kini ia mulai membuka wawasannya dengan berselancar di dunia maya.
Meskipun begitu, hal itu dilakukan tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Yaitu dengan cara akun sosial media miliknya yang ia gembok. Hal itu dilakukan demi menjaga nama baik kedua orang tuanya.
Foto profil yang ia gunakan juga hanyalah foto siluet dirinya di balik rimbunnya kebun teh. Mengambil latar belakang pegunungan setidaknya tidak hanya fokus pada dirinya.
Awal mulanya ia hanya akan membuat sebuah postingan tentang kesehariannya di Instragram. Mengekspersikan diri agar tidak terlalu jenuh dengan kebiasaan yang begitu-begitu saja. Apalagi saat ini ia sedang cuti kuliah satu semester, ia tidak akan membuat dirinya kesepian sepeninggal suaminya.
Pandangan orang-orang boleh buruk terhadapnya, tetapi ia tidak akan membiarkan nama kedua orang tuanya kembali tercoreng.
"Mas, nanti saya boleh minta tolong buat mengambil foto saya, nggak?"
"Oh, boleh, kok Den Ayu," ucap Pras dengan menunduk.
Dengan bantuan pak sopir, Dita mengambil gambar dari dirinya saat mengunjungi kebun teh milik ayahnya. Rambutnya dibiarkan tergerai indah, dan menari-nari saat terkena hembusan angin.
Seolah sedang memetik teh, pak sopir mengambil berbagai pose dari Dita.
Cekrek!
Pose pertama berhasil diabadikan dan mulailah pak sopir menjadi tukang foto dadakan karena hasil fotonya terlihat bagus.
Sejenak iapun terpesona akan kecantikan Dita, tetapi ia segera sadar hal itu tidak mungkin terjadi. Perbedaan status sosial sangat kentara.
Namun, dari kejauhan terlihat seseorang yang masih mengawasi Dita. Sebenarnya Dita sudah sejak tiba tadi, hanya saja ia membiarkannya asalkan tidak sampai melukai dirinya.
Sinar matahari semakin terasa sangat terik. Dita memutuskan untuk segera pulang daripada menimbulkan perdebatan nantinya.
"Pak, hari sudah siang, sebaiknya kita segera pulang!" seru Dita.
"Baik, Den Ayu."
Sejak Pak Joko meninggal, Keluarga Handoko mempekerjakan sopir baru, yaitu keponakan Pak Joko, namanya Pras. Namun, sayangnya ia sangat irit dalam berbicara. Akan tetapi hal itu justru membuat Dita betah ketika bersamanya.
......................
Selepas mata kuliah pertama, secara tidak sengaja Danu membuka akun sosial medianya yang sudah lama ia diamkan. Ajakan dari teman-temannya ia hiraukan demi rasa rindunya pada instagram.
"Serius nih, Lo nggak ikut gue ke kantin?"
"Enggak, entar aja, lagian gue lagi males jala" seru Danu seolah acuh.
"Elah, padahal di kantin ada menu baru, lo. Sayang, kamu nggak ikut."
"Lain kali kan juga masih bisa, kenapa harus sekarang?"
"Iya, deh."
"Y, dah kami pamit," seru yang lainnya.
Entah kenapa sepertinya dia kangen dengan kebiasaan yang lama, yaitu membuka akun sosial media. Lalu sesudahnya ia akan berlama-lama berselacar di dunia maya.
Tujuan utamanya adalah melihat Instagram. Atas ijin Allah hal pertama yang ia lihat adalah akun Anindita. Mungkin ini yang dinamakan pucuk dicinta ulam pun tiba.
Deg.
Seolah detak jantung Danu berhenti berdetak untuk sepersekian detik saat ia melihat wajah cantik Dita untuk pertama kaliya. Rasanya sungguh membuat Danu seperti seorang yang menemukan oase di tengah gurun.
Di saat ia merasakan kerinduan yang mendalam untuk Dita, Allah merestui jalannya. Meskipun begitu rasanya sangat membahagiakan meski hanya sebentar melihat wajah Dita.
"Andai saja aku tau jika kamu janda, mungkin saat itu juga aku akan melamarmu. Agar aku bisa mendapingimu selamanya."
"Kini saat aku sudah jauh darimu aku merasa tidak pantas bersanding denganmu karena waktu itu saja aku tidak bisa melindungimu," gumam Danu sesaat kemudian.
Begitulah cinta yang terkadang membelenggu jiwa, meski sudah terpisah jarak dan waktu. Sama halnya dengan Dita yang belum mampu menghapuskan bayangan Bisma dari hatinya.
Walau usia pernikahan Dita tidak lebih dari empat hari, namun entah mengapa rasanya sangat berkesan.