
Tempat air minum bekas Nyonya Sekar kini jatuh ke lantai. Membuat pecahan kaca saling berhamburan ke sana ke mari. Ibunda Bisma dan putranya saling memandang satu sama lain. Bertanya sebenarnya ada kejadian apa sehingga membuat suasana malam itu semakin mencekam.
Bisma berjalan ke arah jendela kamarnya maka ia pun melihat apa yang sebenarnya terjadi. Lalu tangannya terulur untuk menutup daun jendela kamarnya. Akan tetapi terlihat di halaman rumahnya ada bayangan hitam yang melesat cepat mendekatinya.
Lampu kamar tiba-tiba padam, membuat hawa dingin merasuk ke dalam tubuh. Suasana semakin mencekam ketika Ibu Bisma berteriak.
"Aaaa ...."
"Ibu ...."
Meskipun gelap, Bisma tetap mendekati sumber suara. Teriakan ibunya membuat para pengawal yang berjaga di luar menerobos masuk dengan membawa lampu senter.
Setidaknya hal itu bisa membuat penerangan di kamar pengantin. Tangan Ibu Bisma berdarah. Sedangkan di atas ranjang ada seorang nenek tua berambut putih tersenyum ke arah para pengawal. Matanya merah menyala membuat nyali para pengawal menciut dan berlari keluar kamar.
Bisma yang merasa tidak beres segera mengaji, beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki yang diseret keluar kamar, diiringi suara cekikikan khas mbak kunti.
Srek ... srek ... srek!
Lima menit setelahnya lampu menyala dan Bisma bisa melihat dengan jelas jika tangan ibunya terluka sebuah cakaran. Bisma lantas meraih kotak P3K dan melihat luka beliau.
"Ibu, maafkan Bisma, maaf."
"Nggak apa-apa, Nak. Ini cuma luka kecil, kamu tidak perlu minta maaf pada Ibu."
Bisma paling tidak bisa melihat ibunya sakit, oleh karena itu ia merasa sangat bersalah ketika melihat bekas luka cakaran di kedua lengan ibunya sangat dalam. Saat mengobati luka ibunya, Bisma mencuri pandang ke arah Dita yang masih terlelap.
"Jangan kau menyalahkan istriku, dia tidak tahu apa-apa tentang hal seperti ini, ibu harap kau masih bersabar untuk semua ujian ini."
Ibunda Bisma mengelus pucuk kepala Bisma yang masih sibuk mengobati lukanya. Sesekali ia menyelipkan sebuah nasihat kepada putranya agar tidak termakan oleh bujuk rayu setan.
"Apakah ibu yakin aku bisa melewati semua ini?"
"Jika kamu tidak yakin, maka minta pertolonganlah kepada pemilik kehidupan. Hanya dengan ijin dan kekuatannya kau bisa menang."
Bisma menunduk untuk sesaat, lalu mencoba berpikiran jernih.
"Percayalah, Nak. Kau bisa melewati semua ini."
Sekali lagi beliau menguatkan putranya.
"Ibu kembali ke kamar, baju istrimu sudah ibu ganti, ingat jangan bertindak menggunakan emosi, tetapi dinginkan kepalamu lalu barulah kamu bertindak."
"Iya, Bu."
"Ya sudah kalau begitu, ibu kembali ke kamar dulu, Bapak kamu pasti sudah menunggu Ibu."
"Biar saya antar!"
"Tidak usah, temani istrimu!"
Tangan Ibunda Bisma mencekal tangan Bisma yang hendak memapahnya. Melihat penolakan ibunya, Bisma lebih paham artinya.
"Baiklah, biar Johan dan Doni yang mengantar ibu kembali ke kamar."
Beliau mengangguk.
"Johan, Doni temani ibuku kembali ke kamarnya!"
"Baik, Tuan."
Sepeninggal mereka kini tinggallah Bisma dan Dita. Bisma memperhatikan istrinya dengan seksama.
"Dek, semoga aku bisa melewati semua ini dan membuatmu menjadi istriku seutuhnya," gumam Bisma di dalam hati.
Malam itu juga Bisma meminta ibunya dan beberapa anggota keluarganya dijaga ketat oleh beberapa pengawal. Sementara itu Bisma terjaga di dalam kamarnya.
"Lebih baik aku mengaji malam ini, mungkin dengan begitu akan lebih nyaman."
Bisma bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Barulah sesudahnya ia kembali memasuki kamarnya, berniat untuk mengaji malam itu.
Meskipun suasana terlihat masih mencekam, Bisma berusaha untuk tetap menjaga hatinya. Ia yakin pertolongan Allah itu nyata adanya.
Lantunan doa yang teruntai dari mulut Bisma mengalun indah memenuhi kediamannya. Suasana mencekam kini berangsur-angsur kembali normal. Beberapa pengawal yang tadinya takut kini sudah kembali terlihat tenang.
"Semoga setelah ini semuanya kembali normal."
Sedangkan di dalam kamar ibu Bisma, ayahnya nampak marah atas kejadian yang menimpa istrinya.
"Kenapa tanganmu, Bu? Siapa yang melakukan hal ini?" ucapnya penuh amarah.
"Ibu tidak tahu, Pak, tetapi yang jelas Ibu sudah selamat, Bapak tidak perlu memperpanjang masalah ini. Doakan saja semuanya membaik dan tidak terjadi apapun."
"Tapi, Bu--"
"Ini semua sudah kehendak Allah, kita hanya bisa menjalaninya dan berusaha agar iman kita tetap terjaga meskipun ujiannya seperti ini.
Ayah Bisma berbalik dan mendekati istrinya, dipegangnya tangan istrinya yang terluka itu.
"Ini bukan karena ulah istri Bisma, bukan?"
Ibu Bisma menggeleng perlahan, lalu beliau mulai menceritakan semuanya secara detail pada suaminya. Mendengar penuturan istrinya membuat amarah di dalam hatinya sempat naik. Akan tetapi ia ingat pesan istrinya. Jika menuruti amarah, maka bukannya situasi membaik malah justru akan semakin runyam.
"Sebaiknya kita membawa Dita ke seorang Kyai kenalan Bapak selepas lima hari nanti."
"Iya, Ibu juga setuju. Akan tetapi setiap malam kita harus tetap waspada dan siaga."
"Ibu tenang saja, kita adakan pengajian setiap malam untuk melindungi keluarga kita dan anak kita."
Ibunda Bisma mengangguk setuju, membenarkan usulan suaminya.
"Ya, sudah kalau begitu sebaiknya kita beristirahat lebih dahulu."
...........
Di dalam kamar Nyonya Sekar dan Tuan Handoko. Pemilik kamar merasa aneh dengan kejadian yang barusan dialami oleh istrinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi di dalam kamar Dita dan Bisma?" tanya Tuan Handoko kepada istrinya.
Nyonya Sekar masih terdiam dan tampak syok, baru kali ini ia merasakan suasana mencekam di malam pengantin putrinya.
"Bu, kenapa kamu diam? Jangan membuatku menerka-nerka kejadian apa yang terjadi di sana."
Apapun perkataan Tuan Handoko sama sekali tidak ia balas. Bibirnya terasa kelu untuk mengucapkan sebuah kata-kata. Tuan Handoko hanya bisa menghela nafasnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah hal seperti ini yang di alami Dita di malam-malam pengantinnya?"
Sebelumya ia tidak pernah mengalami hal seperti ini, karena selepas resepsi Dita akan langsung dibawa pergi oleh suaminya ke kediamaan pengantin laki-laki. Maka dari itu Tuan Handoko dan istrinya tidak pernah paham dengan semua yang dialami Dita.
Malam ini, justru keluarga mempelai laki-laki yang menginap di dalam rumah Dita. Sehingga mau tidak mau hal ganjil ini bisa ia rasakan. Beruntung menantunya selamat, kalau sampai terjadi hal buruk kepadanya, sudah bisa dipastikan Dita dan keluarganya akan mendapatkan gunjingan dari orang-orang.
Akhirnya emosinya meredam, lalu Tuan Handoko memilih mengajak istrinya untuk tetap beristirahat karena malam semakin larut.
"Ya sudah kalau kamu belum bisa menceritakan hal ini kepadaku, sebaiknya kita beristirahat lebih dahulu," ajak Tuan Handoko kepada istrinya.
BERSAMBUNG