Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 97. SOPO KOWE


"Nasibmu kui ora gampang dilakoni, sakabehe menungso. Mung wong sing diparingi hak istimewa sing bisa nglakoni."


"Banjur aku kudu piye, Mbah?"


"Sampeyan kudu urip kanthi ikhlas lan tetep ndedonga marang Gusti Allah."


Dita tertunduk di dalam diamnya. Banyak hal yang ingin ia capai setelah ini. Ia bahkan sudah menjalani puasa putih selama satu minggu penuh. Awalnya ia merasa pusing karena ia harus mengganti semua menu makanannya dengan kepalan nasi putih atau umbi-umbian yang tidak diberikan perasa apa pun.


Hambar dan tidak terasa enak. Namun, mengingat jika ia melakukannya demi takdir hidupnya maka Dita menjalaninya dengan penuh kesadaran tanpa suatu paksaan.


"Jika aku bisa menjalani semua takdirku ini dengan penuh rasa ikhlas, semoga saja nasib baik bisa selalu menyertai."


Nyonya Sekar melihat semua hal yang dilakukan putrinya dengan rasa sakit yang ia sembunyikan. Ia tidak mau membebani putrinya lagi, sudah cukup ia membuat kehidupan putrinya hancur dengan menikah berkali-kali.


"Maafkan aku, Sayang. Ibu tidak pernah menyangka jika hal ini terjadi padamu."


Tidak ingin melihat putrinya menangis, Nyonya Sekar segera meninggalkan kamar Dita dan berlalu ke kamarnya. Sementara itu selama beberapa hari ini kondisi Kediaman Tuan Handoko sudah berangsur aman terkendali.


Sedangkan kondisi Ibunda Yudistira seperti orang linglung. Lantunan doa yang terus dipanjatkan oleh Pak Kyai Din sepertinya mampu membuat pengirim santet dan Ibunda Yudistira kesulitan.


Meskipun tidak membalas dengan hal yang sama, tetapi memasrahkan semuanya pada Allah membuat Dita dan keluarganya sedikit terbebas dari hal-hal ghaib.


Sementara itu di dalam kamar kost, Danu sedang memandang layar pipih di hadapannya. Ia berharap jika ada seseorang yang akan memposting sebuah unggahan terbaru. Akan tetapi ternyata hal itu tidak terjadi selama beberapa hari ini.


Danu hanya bisa melihat sosok Dita dengan pose siluetnya yang berada di tengah kebun teh. Tidak ada hal lain lagi yang ia dapatkan di sana.


"Sabar, sepertinya aku ingin segera tidur agar aku bisa bermimpi dengannya. Siapa tau, kan?"


Danu mencoba memejamkan matanya. Rasanya ia sungguh lelah, sehingga tidak membutuhkan banyak waktu ia sudah terlelap.


......................


"Ada apa dengan wajah wanita itu? Kenapa terdapat beberapa luka yang dibiarkan begitu saja?" gumam Danu yang baru saja kembali dari kamar mandi.


Saat ia hendak berjalan kembali ke kamarnya, ia melihat sosok wanita dengan wajah setengah terluka berjalan melewati kost-kostannya. Karena terlalu memperhatikan wanita itu, Danu sampai menabrak teman sebelah kamarnya.


"Woi, pagi-pagi udah meleng aja, Bro!"


"Sorry, nggak sengaja."


"Dasar, bisa aja woi, dah sana cepat balik kamar!"


"Iya, iya ...."


Meskipun masih penasaran dengan wanita tadi, tetapi Danu sudah kehilangan jejaknya. Ia hanya bisa menunggu kedatangan saudaranya yang datang dari desa.


Tiga jam berlalu ....


Kini Danu sudah berada di kelasnya. Akan tetapi pikiran tentang gadis buruk rupa yang tadi pagi ia lihat masih membayanginya. Ingin rasanya ia bertanya kepadanya kenapa membiarkan luka di wajahnya membusuk seperti itu dan tidak mengobatinya.


Saat lamunan Danu masih berjalan, saat ia menoleh ke arah pintu ia melihat sosok wanita yang ia lihat tadi pagi hendak masuk ke dalam ruang kelasnya.


"Wa-wanita itu mau kuliah juga? Kenapa sama sekali tidak ada yang memperhatikan kedatangannya?"


"Ia bahkan tidak menutup wajahnya?"


Saat itu, wanita tadi malah menoleh dan menatap tajam ke arah Danu. Sepersekian detik berikutnya, sosok wanita itu sudah berdiri di hadapan Danu.


"Nyari saya, Mas? Hihi hii hiiii ...."