Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 126. KEPUTUSAN


"Aku mau menikah denganmu, Mas, tapi dengan satu syarat."


Tito memandang lembut ke arah Dita, ia sudah bisa memastikan jika Dita akan menerima lamarannya. Kini mereka sedang berbincang-bincang di gazebo belakang rumah.


Meskipun Dita mencintai Tito, tetapi lelaki di hadapannya kali ini auranya sangat berbeda dengan kapan hari saat mereka mulai bertemu.


"Wajahnya memang Tito, tetapi kenapa rasanya seperti orang yang berbeda?"


Tito yang berada dalam tubuh saudaranya tidak bisa membaca pikiran Dita, sehingga ia masih menunggu respon Dita.


"Katakan padaku syaratnya apa, Ayu. Mas akan berusaha untuk memenuhinya."


"Kita tidak perlu melakukan sebuah pesta, kita menikah di depan penghulu saja."


Tito tersenyum dengan syarat yang diajukan oleh Dita. Ia bahagia karena Dita tidak memberikan syarat yang membebaninya.


"Terima kasih Ayu, aku menerima syarat yang kamu ajukan."


Tito bangkit dari tempat duduknya lalu memegang kedua tangan Dita lalu mengecupnya seperti biasa. Hal itu sukses membuat Dita tersenyum dan bahagia.


Setelah pertemuan tadi, keduanya langsung memberitahukan rencana pernikahan mereka kepada keluarga besar. Pak Handoko dan Nyonya Sekar hanya bisa mengiyakan permintaan Dita.


Sementara itu pihak keluarga Tito agak keberatan dengan syarat yang diajukan oleh Dita.


"Tetapi Nak Dita, ini pertama kalinya keluarga kami mengadakan pernikahan. Bukankah alangkah baiknya jika diadakan sebuah resepsi meskipun secara kecil-kecilan."


Dita memandang ke arah Tito. Sorot matanya mengatakan jika ia keberatan dengan ucapan Ibunda Tito.


"Bu, sebaiknya kita melakukan acara pernikahan secara sederhana. Bukankah tidak banyak yang tahu akan kehadiranku. Bahkan mungkin keluarga besar kita sudah menganggap aku mati."


"Tito, jangan berkata seperti itu. Ibu tahu jika kamu meminjam raga Tiyo, tetapi jika terjadi apa-apa denganmu, jelas ibu tidak akan pernah rela."


Tito tersenyum ketika memandang wajah sang ibu.


"Ma, dengarkan Tito baik-baik. Tidak akan terjadi apa-apa jika kami sudah menikah, karena setelah menikah aku akan mengajak Dita pergi dan aku akan mengembalikan raga Tiyo."


Sontak Ibunda Tito menoleh dan memandang ke arah putranya. Ada sebuah rasa yang tidak bisa didefinisikan saat itu. Ia tahu semua ini salah, tetapi keputusan untuk menikahkan Tito dengan raga Tiyo itu tidak dibenarkan.


"Apa Ibu takut aku akan membunuh Tiyo? Atau ibu takut dengan kutukan yang berada di dalam tubuh Ayu?"


Tito memegang kedua bahu Ibunya.


"Aku memang sudah mati, Bu. Akan tetapi cinta untuk Anindita tidak akan pernah padam. Jika saja aku masih hidup maka aku akan menikahinya dengan tubuhku sendiri. Aku mohon pinjamkan raga Tiyo padaku untuk acara ijab kabul nanti."


Kedua mata Tito tampak berkaca-kaca, ia tidak pernah meminta apapun seumur hidupnya. Bahkan saat mereka lebih memprioritaskan Tiyo ketimbang dirinya, Tito tidak pernah bersedih.


Padahal selama ini ia selalu berada di ruangan khusus dengan berbagai peralatan medis yang menemaninya setiap waktu.


"Baiklah, tapi setelah itu, kamu pergilah. Biarkan Tiyo bersama raganya."


Sakit, itulah sebuah rasa yang harus ditelan Tito mentah-mentah. Tidak pernah diakui keberadaannya, selalu tersisih dan kini ia sendirian.


Hanya Dita yang menjadikannya seorang laki-laki bermartabat. Dita tidak pernah berlaku buruk kepada Tito, mungkin itulah alasan kenapa sejak kecil Tito sudah menyukai Dita.


......................


Fano yang harus menunda kedatangannya ke rumah Dita begitu terkejut akan berita yang diberikan ibunya kepadanya.


"Fano, lupakan gadis itu. Ia bahkan tidak menunggumu dan lebih memilih untuk menikah dengan teman masa kecilnya."


Rahang Fano terlihat mengeras, otot-otot di tangannya menegang. Seolah ingin segera melampiaskan kekesalannya pada seseorang atau sebuah benda.


"Kapan mereka menikah?"


"Besok pagi, di kediaman Dita!"


Tanpa berpamitan, Fano segera mengambil kunci mobil dan pergi.


"Mau kemana kamu, Fano!"


"Pergi ke rumah Dita!"


"Jangan Nak, itu bahaya ...."


"Nyawaku tidak ada artinya jika tidak bersama dengan Dita, Mama tahu 'kan?"


Nyonya Kirana tidak mengerti jalan pikiran putranya, tetapi ia tidak bisa menghalangi hal itu.


"Semoga saja semuanya baik-baik saja, Aamiin."


BERSAMBUNG


......................


Oh ya, sambil nunggu Up bisa mampir ke sini kak