
Kematian Yudistira yang terlihat sangat tidak wajar membuat kedua keluarga tersebut saling berseteru. Terjadi ketegangan sehingga tidak ada komunikasi diantara keduanya.
Bahkan Keluarga Besar Yudistira menuntut Keluarga Handoko ke jalur hukum. Mereka tidak mau putra mereka meninggal dengan cara mengenaskan. Ada hal lain yang membuat mereka menuntut hal tersebut sehingga mau tidak mau Keluarga Handoko harus menuntaskan hal tersebut lewat jalur hukum.
Keluarga Handoko telah menyewa beberapa pengacara untuk menyelesaian hal tersebut. Akan tetapi mereka tidak bisa menyembuhkan luka dan trauma di hati Dita.
Dita masih terlihat syok dan mengurung dirinya di kamar. Tidak ada yang mau ia temui saat ini. Semua kejadian yang menimpanya selama beberapa hari ini membuatnya semakin tidak nyaman.
Kematian Yudistira terjadi di depan mata kepalanya sendiri. Amat tragis dan membuat semua yang impiannya sirna dalam sekejap mata. Yudistira yang tidak tau apa-apa harus meninggal secara mengenaskan, membuat asumsi publik kepada Dita yang mengatakan bahwa Dita wanita pembawa sial semakin santer terdengar.
Semua hujatan dan omongan miring kepadanya membuat kondisi tubuh Dita drop secara psikis dan mental. Meskipun bayangan itu belum muncul kembali, tetapi ketakutan di wajah Dita semakin terlihat.
"Nak, bo-bolehkah Ibu masuk?"
Nyonya Sekar memberanikan diri mengetuk pintu kamar Dita yang sudah terutup rapat selama dua hari ini. Perasaan Nyonya Sekar tidak tenang selama dua hari ini.
Ada banyak hal yang membuat pikirannya kebingungan, terutama kondisi psikis Dita. Ia bisa merasakan bagaimana rasanya berada di posisi itu. Namun, ia terlambat menyadari kesalahannya.
Sikap egoisnya membuat Dita kehilangan semangat hidup. Bahkan Dita mengunci rapat mulutnya setelah kematian Yudistira. Seolah dunia benar-benar runtuh saat itu.
Bagaimana tidak runtuh, Dita kehilangan dua orang suaminya dalam kurun waktu kurang dari satu tahun dan keduanya meninggal secara tragis. Meskipun kematian Wisnu dianggap sebagai kecelakaan, tetapi Dita yakin jika hal itu terjadi karena ulah sosok bayangan itu.
Ia melihat sorot matanya begitu menakutkan dan terlihat menyeringai ketika menatap Dita saat itu. Banyak darah hitam yang menetes dan berbau sangat anyir di sana.
Akan tetapi Dita tidak bisa mengerti kenapa makhluk itu seringkali mengganggunya, padahal ia belum pernah sekali pun mengusik makhluk lain. Dita juga tidak pernah melakukan pemujaan atau pun menaruh sesajen untuknya, tetapi sosok itu terlihat sangat menyukai kehadirannya.
.
.
Sementara itu Rani yang bersiap untuk segera pergi kuliah terkejut mendapati berita bahwa suami Dita meninggal untuk kedua kalinya.
"Aa-apa!"
Rani kemudian mencari info update terkini berita yang sedang menjadi trending topik di dunia maya. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah kebenaran yang membuat kedua matanya terbelalak.
"Gue harus pergi ke rumah Dita saat ini, aku yakin saat ini Dita pasti sangat terpuruk."
Rani bergegas mengambil beberapa buku mata kuliahnya dan merapikannya kembali ke rak dan mengganti dengan beberapa pakaian. Tidak lupa ia juga menelpon pihak kampus untuk meminta ijin cuti selama beberapa hari dengan sebuah alasan ia ingin mengunjungi keluarganya yang sedang sakit di luar kota.
Ibu Rani terkejut melihat putrinya memakai jaket dan mengemasi pakaian. Ia langsung mendekati dan menegurnya.
"Ada apa, Nak, katanya mau ke kampus, tapi ini kayak orang mau pergi jauh?"
"Maaf, Bu. Rani harus nolongin Dita."
"Lah, memangnya ada apa dengan Dita, Nak?"
Rani menyodorkan ponselnya ke arah ibunya lalu menunggu respon beliau. Kedua mata Ibu Rani mendadak basah karena hatinya tiba-tiba menjadi sakit. Beliau bisa merasakan apa yang dirasakan Dita saat ini. Apalagi Dita sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.
Meskipun Dita anak orang kaya dan mempunyai status sosial yang tinggi, ia sangat menjunjung tinggi semua hal kemanusiaan. Rasa belas kasihan dan sikap dermawannya membuat kesan tersendiri di hati orang-orang yang dekat dengannya. Kebaikan Dita membuat semuanya terlihat sempurna.
Maka dari itu ia bisa merasakan jika ada hal yang tidak beres di sana. Hanya saja Ibu Rani tidak mau mengatakan secara langsung pada putrinya.
"Ya sudah, kamu hati-hati perginya ya, Nak."
.
.
Sambil nunggu update boleh mampir ke karya teman Fany ya, ditunggu like n komennya.