
Malam semakin mencekam. Hari ini tepat satu tahun kematian Wisnu, suami pertama Dita. Suasana rumah terasa lain daripada biasanya. Semakin lama lampu kamar Dita semakin redup. Lalu lama-lama mati dengan perlahan.
Namun, saat itu Dita masih terlelap dalam tidurnya. Entah kenapa sedari sore, Dita seperti kena sirep. Sehingga ia seolah cepat sekali mengantuk.
Jendela kamar Dita yang semula tertutup kini terbuka lebar. Angin dari luar seolah bertiup kencang hingga tirai kamar Dita bergerak ke kanan ke kiri seiring berhembusnya angin malam, menambah aura mencekam yang terasa malam itu.
"Dita ... Dita ...."
Terdengar sebuah suara memanggil nama Dita. Namun, Dita sama sekali tidak terusik, kecuali di dalam mimpinya. Seolah sedang dikejar-kejar, kening Dita mengeluarkan banyak sekali keringat.
Memang benar, saat itu Dita sama sekali tidak menyadari jika di dalam mimpi yang ia temui bukanlah Wisnu, melainkan makhluk jadi-jadian yang dulu pernah menolongnya dari serangan Rangga. Kini ia datang untuk menagih janjinya.
"Dita ... Dita ...."
"Si-siapa kamu?" ucap Dita gemetar.
"Kau melupakan aku?"
"Maaf, tetapi aku sama sekali tidak pernah bertemu denganmu?"
Wirog tersenyum masam, padahal niat hati hanya ingin menanyakan apakah ia sudah menyempurnakan jasadnya atau belum.
"Sepertinya memang benar, kau melupakan aku. Baiklah akan aku buat kau mengingat diriku," ucapnya dengan lantang."
Sesaat kemudian, di dalam mimpinya Dita dibawa jalan-jalan sesuai keinginan Wirog. Ia benar-benar menunjukkan siapa dirinya dan bagaimana ia bisa mati. Tentu saja Dita bergidik ngeri karena hal itu dan sesudahnya ia baru ingat siapa lelaki tampan di hadapannya saat ini.
"Apa kau sudah ingat akan diriku?"
Dita mengangguk setuju, lalu meminta maaf karena ia benar-benar lupa dengan ucapannya dulu.
"Sudahlah, mungkin aku tidak datang pada orang yang tepat. Maaf sudah mengganggu."
Tubuh setengah manusia setengah macan itu berbalik hendak pergi. Mungkin karena Dita bukanlah orang enakan, ia mencegah Wirog yang hendak pergi.
"Apa yang bisa aku bantu?"
Wirog tersenyum senang, ia berbalik lalu segera mengatakan apa yang bisa dilakukan oleh Dita.
"Pergilah ke Gunung Lawu dan ambilah jasadku dari sana, tolong kebumikan dengan layak."
"Ha-ah, bagaimana aku bisa menemukan jasadmu, padahal Gunung Lawu sangatlah luas?"
"Aku akan membimbingmu ke sana."
"Kenapa harus aku?"
"Karena hanya dirimu yang bisa menyelamatkan aku, tubuhmu istimewa dan sangat jarang bisa tersentuh oleh makhluk sejenis kami. Oleh karena itu banyak dari bangsa kami yang sangat menyukai dirimu dan ingin menjadikan dirimu sebagai pasangannya."
"Lalu apa untungnya jika aku menyelamatkan dirimu?"
"Sebagai balas budiku padamu, aku akan membantumu untuk mengurai mata rantai ini."
"Sungguh?"
Wirog mengangguk. Di saat itu pula Dita dilema, di satu sisi ia ingin segera terlepas dari takdir ini tetapi ia juga sangsi dengan ucapan wirog barusan. Belum sempat ia bertanya lebih dalam lagi, Dita seolah dipanggil seseorang yang sangat ia kenal.
"Dita ... Ditaaa ...."
"Ha-ah, aku hanya bermimpi?"
Tiba-tiba saja suara tokek berbunyi nyaring, belum lagi suara burung hantu yang seolah bersahut-sahutan dengannya. Sesekali bunyi gemericik air terdengar dari halaman belakang rumah.
"Siapa yang berada di halaman belakang?"
Dita melirik ke arah jam dinding kamarnya. Masih dini hari ketika Dita terbangun. Tidak mau menunggu waktu yang lama, Dita pergi ke kamar mandi. Lampu kamar mandinya berkedip-kedip.
"Kenapa lagi ini, siapa yang datang?"
Dita sudah tidak sepenakut dulu, hanya saja saat ini dirinya hanya belum bisa mengerti akan kehadiran makhluk-makhluk tak kasat mata itu.
"Hi hi hi ...."
Dita menempelkan tubuhnya ke dinding. Akan tetapi ia menguatkan dirinya untuk tidak takut. Ia selalu teringat pesan mendiang suaminya Bisma yang mengajarkan agama kepadanya.
.
.
Sementara itu di dalam tidurnya, Fano bermimpi buruk. Ia sedang dikejar-kejar oleh makhluk seperti genderuwo. Ia terus menyeringai sambil ingin mencakar dirinya. Fano yang kelelahan sempat terjatuh beberapa kali hingga lututnya berdarah. Namun, anehnya ketika ia meminta tolong tidak ada yang mau menolongnya.
Fano bingung ketika banyak orang yang melihatnya tetapi tidak ada yang menyadarinya dikejar makhluk itu. Saat ia lelah, ada seorang pemuda yang berbaik hati kepadanya. Ia diajak masuk ke dalam rumahnya.
Namun, sesaat kemudian ia menoleh ke sekelilingnya dan menemukan keanehan. Laki-laki tampan itu lehernya tiba-tiba patah, lalu yang satunya tubuh dan wajahnya penuh darah. Sementara itu laki-laki yang satunya perutnya besar dan tiba-tiba saja meledak hingga usus dan organ dalamnya terburai.
"Hoek ...."
Seketika perut Fano seolah diaduk-aduk dan sangatlah mual.
"Tempat apa ini?"
Saat ketiga lelaki tampan yang tadi menolongnya berubah menyeramkan, ingin rasanya Fano pergi tetapi ternyata kakinya terikat rantai dan ia tidak bisa pergi.
"Sebentar lagi kau akan bergabung dengan kami, ha ha ha ...." ucap salah satu dari mereka menyeringai.
"Tidak ... aku tidak akan menjadi teman kalian!" teriak Fano.
"Fano ... Fano ... bangun, Nak!"
Ibu Fano yang mendengar anaknya berteriak mencoba membangunkan putranya. Namun Fano tidak juga bangun, hingga ia mencobanya sekali lagi.
"Fano ... Fano ... bangun, Sayang."
"Ma-mama!"
"Alhamdulillah, akhirnya kau bangun juga, Nak. Ada apa sebenarnya?"
"Ta-tadi aku ...."
.
.
BERSAMBUNG