
"Maaf untuk kejadian hari ini, Mas Yudis."
"Kenapa harus minta maaf, sebentar lagi kita akan menikah, jadi tidak ada hal yang perlu dimaafkan. Itu terjadi di luar kemampuan kita."
"Ternyata, Mas Yudis sangat bijak, tetapi ada sesuatu hal yang membuatku takut untuk melangkah lebih dalam."
"Haruskah aku melanjutkan acara pernikahan ini?"
Dita seolah sedang dilema saat ini. Tidak ada yang bisa membuat Dita tenang jika berurusan dengan pernikahan. Akan tetapi Yudis seolah terlihat santai saat ini.
"Mas, maaf apa Mas tau kalau aku janda?"
"Tau, memangnya kenapa?"
"Serius, Mas tau tentang segalanya tentangku?"
Yudistira mengangguk, seolah ia benar-benar tau apa maksud pertanyaan dari Dita.
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang spesial di dalam dirimu sehingga semua ini terjadi padamu?"
Pertanyaan dari Yudis barusan membuat Dita semakin terhenyak. Dita menyandarkan punggungnya di jok mobil. Ia masih mengatur deru nafasnya yang seolah baru saja olahraga.
"Begini, Mas. Aku tidak tau apa yang sebenarnya sedang terjadi padaku. Hanya saja beberapa lelaki yang mempunyai niat mendekatiku seolah terkena sesuatu yang membuat mereka mati atau terluka."
Ckit!
Yudistira menginjak rem mobilnya dengan segera, hingga membuat Dita seolah spot jantung kembali.
"Ada apa, Mas?"
"Sepertinya aku menabrak seekor kucing hitam. Sebentar aku lihat ke depan terlebih dahulu."
"Ku-kucing hitam?" ucap Dita tergagap.
Kucing hitam selalu dikaitkan dengan hal-hal mistik. Dita sangat percaya akan hal tersebut. Sayangnya, orang modern saat ini seolah mengabaikan fakta tersebut.
Dita menyusul Yudistira keluar mobil. Keduanya sama-sama mengecek keadaan sekeliling mobil. Akan tetapi hasilnya tetap nihil. Semuanya sama saja.
"Kok, nggak ada. Padahal jelas-jelas tadi kucing itu melintas dan menabrakkan dirinya ke arah mobil."
"Tapi aku cari sampai kolong mobil, hasilnya sama saja loh, Mas."
Dita memandang ke arah Yudistira, hingga saat kontak mata keduanya bertemu untuk kedua kalinya, Dita memalingkan wajahnya.
"Balik, Yuk! Aku takut orang tua mu akan marah karena aku membawa kamu pergi cukup lama."
"Eh, ayo!"
Akhirnya Dita dan Yudistira kembali melanjutkan perjalanan mereka.
...***...
"Sejak kapan adik kamu mengalami hal ini?"
"Sejak beberapa hari yang lalu, Mbah."
"Kalau begitu siapkan beberapa syarat yang akan kita gunakan untuk menyelamatkan adikmu itu."
"Ba-baik."
Aura rumah kecil tersebut sangat menyeramkan. Banyak pasang mata yang melihat ke arah Clara, tetapi ia tidak melihat siapa pun selain dukun tersebut.
Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya dukun tersebut segera membuka mata. Menatap tajam ke arah Clara. Aroma kemenyan begitu tercium tajam di sana. Bercampur bau anyir yang membuat Clara hendak muntah, akan tetapi ia tidak bisa mundur saat ini.
Tatapan tajam yang diberikan oleh dukun tersebut membuat Clara bergidik. Meskipun begitu, ia tetap menguatkan hatinya.
"Ba-bagaimana Mbah?"
"Siapkan ayam cemani, kembang tujuh rupa, kopi hitam pekat, pisang mas dan beberapa buah-buahan untuk ritual besok malam. Kebetulan besok adalah bulan purnama."
"Paling lambat, kapan saya bisa serahkan, Mbah?"
"Secepatnya, bukankah kamu menginginkan jika adikmu cepat sembuh?"
Clara mengangguk perlahan. Ia tidak mau adiknya kenapa-napa saat ini. Oleh karena itu ia memilih mendatangi dukun tersebut untuk menyembuhkan Sam.
Ilmu klenik memang tidak ia ketahui, akan tetapi Clara yakin jika dunia lain memang ada. Mereka hidup berdampingan dengan kita dan jarang sekali ada yang mau tau tentang hal itu.
"Sam, kamu harus sembuh. Setelah ini aku akan membuat perhitungan denganmu, Dita. Kau harus membayar semua yang kau lakukan pada adikku."
Terlihat kedua mata Clara penuh dengan kebencian. Meskipun begitu, Dita tidak sepenuhnya salah. Ia hanya menginginkan sesuatu yang terbaik untuk keluarganya saat ini.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi, Mbah."
"Silahkan!"
Buru-buru Clara meninggalkan tempat tersebut. Sesaat kemudian ia disusul oleh sosok tidak kasat mata, Clara yang sama sekali belum pernah diganggu makhluk astral tetap berjalan cepat. Setidaknya agar ia cepat keluar dari hutab terlarang tersebut.
"Sesuatu yang tidak terlihat belum mesti menggambarkan jika ia memang tidak ada. Akan tetapi dunia lain itu memang ada dan berdampingan dengan dunia manusia. Mereka tidak akan mengganggu manusia kecuali jika mereka merasa terganggu. Harusnya manusia bisa hidup berdampingan dengan mereka dengan baik."
Ada banyak hal yang sering dilakukan manusia untuk menyakiti bangsa jin. Oleh karena itu mereka terkadang mengganggu manusia karena merasa terusik karena hal tersebut.
Dita seorang manusia biasa yang terlahir dengan keistimewaan tidak biasa hanya bisa menjalani takdirnya tanpa ia paham akan penawarnya.
.
.
Lalu mampukah Dita menjalani takdirnya setelah ini?