Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 115. KOMA


Sejak kejadian itu Fano sama sekali tidak sadarkan diri di Rumah Sakit. Pihak keluarganya terkejut ketika mendapat kabar jika mobil Fano masuk jurang bersama Anindita yang berada di jok belakang.


Saat mobil Fano dan Dita bergerak sendiri, Nurul dan Lusi masih sempat menyelamatkan diri. Dengan terus membaca doa akhirnya ia bisa selamat. Lusi mengambil ponsel di dalam tas lalu menelpon pihak kepolisian.


Setelah sampai, Lusi dan Nurul segera diselamatkan. Mereka tiba di waktu dini hari, dan ketika ia bisa mengangkat mobil, beruntung Dita dan Fano masih selamat. Keduanya langsung diamankan dan masuk Rumah Sakit.


Anindita dikabarkan baik-baik saja, akan tetapi sampai hari ini ia belum bisa diajak berkomunikasi. Di sisi lain, Fano justru mengalami koma. Sosok wanita itu ternyata membawa kejadian buruk bagi Fano dan Dita.


Sebenarnya ia sedang terjebak di bawah alam sadarnya. Saat ini roh Fano sedang berkeliling di alam lain bersama sosok wanita tua itu.


"Kamu senang, Kan Mas?"


"Tentu saja suka, apa kamu tidak suka denganku?


Sosok wanita cantik itu mirip sekali dengan Dita. Sehingga ia tidak menyadari jika dia adalah makhluk yang paling berarti di dalam hidup Fano.


"Syukurlah kalau begitu, setidaknya kita bisa hidup bersama setelah ini."


"Aamiin."


Seakan ingin memberi tahu tentang kisah masa kelamnya di masa muda dan meminta Fano untuk menolaknya. Sosok wanita tua tersebut awalnya sangat cantik, hampir menyerupai wajah Anindita. Kisah hidupnya juga tidak jauh berbeda dengan Anindita. Sehingga hantu itu ingin memberikan pertolongan untuk Dita.


Hanya saja di akhir kehidupannya ia justru meninggal dengan sangat mengenaskan. Saat itu Fano diajak berkunjung ke sebuah bekas rumah yang sudah hampir roboh karena sudah terlalu usang.


Bau bekas kayu terbakar sangat menusuk hidung. Belum lagi aroma kulit daging yang terbakar menguar bercampur aroma abu pembakaran.


Tanpa terasa Fano semakin melanjutkan langkahnya menyusuri rumah tersebut. Semakin lama semakin masuk semakin mencekam.


Sosok wanita cantik itu kini berubah menjadi buruk rupa kembali. Wajah yang semula cantik semakin mengelupas di kanan kiri hidungnya. Menimbulkan bau anyir bercampur na-nah yang sangat busuk. Kulit tubuhnya sebagian melepuh lalu tersenyum menyeringai.


"Karena kamu menolak saat aku minta nyawamu, maka saat ini aku akan meminta pertolongan secara langsung darimu."


"Pertolongan seperti apa yang Nyai inginkan?"


Setelah cukup lama mengikutinya, akhirnya wanita tua itu minta dipanggil dengan sebutan Nyai.h


"Hanya sebuah keinginan kecil saja katamu, memangnya seperti apa?"


Fano sudah merasa sangat kesal dengan wanita tua itu. Sejak tadi ia sama sekali tidak membawanya kembali ke dunia nyata. Terakhir kali teringat saat ia sedang dalam perjalanan ke rumah Dita, hingga nenek tua ini datang menggangu.


"Bantu aku membalaskan dendam pada orang yang telah membunuh keluargaku!"


"Bagaimana caranya, Nyai?"


"Hanya gadis itu yang akan menuntun jalanmu ke sana."


Nenek tua itu kembali menoleh dan memperingatkan Fano akan sesuatu.


"Setelah itu, aku akan membantumu untuk mendapatkan gadis itu, bagaimana apa kau setuju?"


"Ya ampun, Nyai. Kalau untuk mendapatkan Dita, tanpa bantuan Nyai pun aku bisa mendapatkannya dengan mudah."


"Dasar pemuda bo-doh! Gadis itu berbeda dengan para gadis lainnya. Apa kau akan memberikan secara gratis nyawamu kepada sosok yang selalu mengikutinya?"


Kening Fano berkerut ketika mendengarnya.


Wanita tua itu tersenyum menyeringai. Lalu entah sejak kapan ia sudah berdiri di hadapan Fano dengan wajah yang sangat mengerikan.


Kulit wajahnya tinggal sepotong di bagian hidung, bola mata yang hampir keluar dari tengkorak. Belum lagi aroma anyir bercampur na-nah dan be-la-tung yang tergelincir dari rambut wanita tua itu.


"Hoek!"


Seketika perut Fano seolah diaduk-aduk ketika berdekatan dengan sosok yang dipanggil Nyai tersebut.


"Maaf, Nyai. Bisakah kau mengubah wajahmu menjadi cantik kembali saat bertemu denganku? Aku sungguh tidak kuat dengan kondisimu yang sekarang ini!"


Bukannya menjawab, wanita tua tersebut justru tertawa.


"Tapi, berjanjilah kau akan membantuku, maka akan aku penuhi janjiku kepadamu!"


"Baik, baik Nyai. Aku akan membantumu!"


Benar saja setelah itu wanita tua tersebut telah kembali dengan rupa yang cantik. Lalu sesuai dengan janjinya ia mengembalikan roh Fano ke dalam tubuhnya.


"Hosh, host ...."


Nafas Fano tampak terengah-engah ketika siuman. Tubuh yang semula hanya tersisa kulit dan memucat tersebut kini sudah kembali sehat dan bugar, seolah tidak pernah terjadi apa-apa kepadanya. Suster yang kebetulan hendak mengecek kondisi Fano terkejut dan tanpa sengaja menjatuhkan vas bunga yang berada di sudut kamar Fano.


Prang!


Pecahan kaca vas tersebut mengenai kaki suster hingga membuatnya mengaduh. Fano yang baru saja siuman menoleh ke arahnya.


"Suster tidak kenapa-napa?"


Suster itu menggeleng dengan cepat, "Sa-saya tidak kenapa-napa. Saya permisi!" ucapnya sambil berlari.


Dalam pandangan suster itu wajah Fano terlihat menyeramkan, hingga saat ia hendak mendekatinya suster itu justru berlari keluar kamar karena ketakutan.


"Astaga, apa aku salah kamar, ya?"


"Kenapa wajah pasien tadi justru menakutkan?"


Sementara itu sosok wanita tua yang berada di dalam tubuh Fano memang membuat hal demikian agar tidak ada wanita lain yang menyukai Fano kecuali Anindita.


Dengan berbuat begitu, saat pembalasan dendam terjadi maka tidak akan ada yang menyalahkan keluarga Fano untuk hal itu.


Lalu apakah Fano berhasil menjalankan misinya? Ataukah Dita justru menjauhinya?"


BERSAMBUNG


.


.


Sambil nunggu up, yuk mampir ke Novel kak Uma bie dengan judul Pernikahan Penuh Luka, ditunggu reader kesayangan.