Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 117. TAWARAN


"Kenapa aku malah terjebak di sini?"


Danu bergumam pada dirinya sendiri saat itu. Keinginannya untuk mengunjungi Dita harus berakhir, saat sepeda motornya terjebak di dalam hutan yang sama, saat Fano terjatuh di jurang.


Danu memang sengaja berangkat sore hari sepulang kuliahnya. Ia juga lupa dengan larangan yang tidak memperbolehkan orang biasa lewat hutan tersebut ketika di malam hari.


Kondisi jalanan yang sepi membuat Danu sama sekali tidak bisa melihat dengan jelas kondisi hutan di malam hari. Penerangan yang minim membuat Danu harus menyipitkan kedua matanya agar bisa melihat dengan jelas apa yang sedari tadi mengintipnya dari balik pohon.


"Siapa di situ?" teriaknya di tengah kesunyian hutan.


Bagaimana tidak sepi, satu kendaraan pun sama sekali tidak ada yang melintas, sehingga membuat bulu kuduk Danu meremang seketika.


"Nyariin siapa, Mas?"


Sontak saja Danu menoleh ke arah sumber suara, lagi dan lagi ia sama sekali tidak bisa menemukan siapa pun. Hanya saja bau yang sangat busuk menyeruak memenuhi rongga hidungnya.


"Astaghfirullah, apa lagi ini?"


Tiba-tiba saja ada yang bermain ci-luk-ba dengan Danu. Sontak saja Danu mengikuti sosok yang samar-samar berwarna putih itu.


Hingga ia menyadari ada yang salah dengan hal itu. Sosok wajah yang buruk rupa dan gosong tersenyum menyeringai ke arahnya. Sosok tersebut berbalut kain kafan yang lusuh dan kotor, serta bagian atasnya kepala seperti diikat.


"Nyariin saya, Mas?"


"Aarghhhh ... po-pocooong!"


Sontak Danu berlari sekencang-kencangnya hingga ia tidak secara tidak sengaja menabrak sebuah pohon dan kemudian ambruk.


Keesokan harinya, Dinda terbangun dengan rasa letih yang terasa sangat amat menganggu. Bagaimana tidak, rasanya tubuhnya terasa sangat berat, bahkan untuk melangkah saja rasanya sangat sulit.


Kenapa seperti ada yang memberatkan langkahku? Dita melihat ke bawah dengan sangat teliti. Diperhatikan dengan seksama kedua kakinya tetapi ia tidak bisa menemukan apapun di sana. Hingga ia segera menutup kembali kakinya dengan rok panjang yang ia pakai.


Nyonya Sekar yang melihat Dinda berjalan tertatih segera menoleh dan menanyakan keadaannya.


"Ada apa dengan kakimu, Nak. Apa itu luka akibat kecelakaan kemarin?" tanya Nyonya Sekar tampak khawatir.


"Entahlah, Bu. Akan tetapi rasanya sangat berat jika digunakan untuk melangkah."


Sosok makhluk menyeramkan itu memang tidak bisa memasuki tubuh Dita. Oleh karena itu ia memeluk salah satu kali Dita hingga membuatnya kesulitan berjalan. Namun, dalam mata yang normal kaki Dita nampak sehat dan tidak terjadi apa-apa.


Mbok Nem yang notabene mempunyai mata batin segera menghentikan langkahnya saat melihat Dita.


"Astaga, Den Ayu ... Kenapa bisa ada makhluk yang menempel di kakimu ...."


Sontak Dita menjejakkan kakinya ke lantai.


"Apa Mbok bilang? Di kakiku ada apa, Mbok?"


"I-itu anu, Mbok."


"Katakan yang jelas, Mbok!"


Nyonya Sekar nampak tidak sabar ketika melihat ada masalah pada putrinya. Ia bahkan bangkit berdiri dan mendekati Mbok Nem untuk memastikan ucapannya.


"Ia bahkan menyeringai ketika saya mengusirnya pergi."


"Lalu saya harus bagaimana, Mbok?" tanya Dita khawatir.


"Kenapa harus saya yang diikuti makhluk tersebut?"


"Sebenarnya makhluk itu tidak menganggu, hanya saja ia meminta tolong agar Den Ayu membantu membalaskan dendamnya."


"Ha-ah, dendam?" ucap Dita dan Nyonya Sekar hampir bersamaan.


"Lalu, kenapa harus saya?"


"Dia juga berjanji sebagai imbalannya akan membantu Non Dita untuk menyelidiki masalah yang selalu terjadi di setiap pernikahannya?"


Dita dan Nyonya Sekar saling memandang satu sama lain. Sebenarnya Dita sangat ingin tau, sebenarnya apa yang salah dengannya hingga setiap lelaki yang menikah atau dekat dengannya menjadi sial.


Namun, Dita tidak bisa mengatakan keinginannya dengan buru-buru. Apalagi Dita belum yakin akan janji yang diberikan oleh makhluk itu.


"Lalu kalau saya tidak mau gimana, Mbok?"


Mbok Nem tampak menggeleng.


"Saya tidak tahu, Den Ayu. Saya hanya menyampaikan sesuai dengan apa yang saya lihat. Sebagai perantara saya tidak bisa memaksa salah satu pihak. Terkecuali dengan sesuatu ...."


"Apa itu, Mbok, katakan!"


"I-itu ...."


Belum sempat Mbok Nem mengatakan rencananya, pot bunga di ruang makan terbanting dengan keras. Hingga membuat ketiga wanita itu terkejut.


"Innalilahi ...."


.


.


BERSAMBUNG


Sambil nunggu up jangan lupa mampir ke sini kak.


David Walker tewas di tangan paman dan sepupunya sendiri yang serakah akan peninggalan harta kekayaan keluarga Benjamin dari pihak ibu.


David tewas di tepi danau Ray Hubbard, Dallas. Karena kesalahan Brayan, David kembali hidup ke 336 jam sebelumnya.


Ada harga yang harus di bayar oleh David untuk kehidupan keduanya. Dia harus menjaga Elaina, yang tak lain adalah salah seorang maid di mansion miliknya.


Apa kaitannya Elaina dengan kehidupan kedua David?


Akankah David kembali tewas jika gagal melindungi Elaina?