
Berkali-kali mencoba untuk memasuki tubuh saudara kembarnya namun ternyata hal itu tidak bisa dilakukan. Seperti ada jarak yang membuat Tito tidak bisa masuk ke dalam tubuh Tiyo.
"Kenapa rasanya sangat susah sekali memasuki tubuh Tiyo, ada apa ini?"
Perasaan Tito semakin cemas, terlebih saat melihat Dita yang tidak kunjung siuman membuat ia semakin khawatir. Belum lagi kesulitan yang dialami saat masuk ke dalam tubuh saudara kembarnya.
"Ternyata dia ada di sini," ucap makhluk itu.
Sosok menyeramkan dan berbau busuk itu kini sudah berada di belakang Tito dan siap menebas leher Tito. Makhluk itu menyeringai.
"Kau tidak akan bisa masuk ke dalam tubuh saudaramu sebelum kamu mengalahkan aku, ha ha ha ...."
Sontak Tito menoleh, dilihatnya sosok menyeramkan dan berbau busuk itu hendak menerkam tubuhnya. Tidak ada raut ketakutan yang nampak.
"Rasakan ini!"
SRASH ....
Cakaran pertama gagal mengenai tubuh Tito.
Namun ia tetap mencoba sekali lagi.
"Saat ini kau bisa selamat, tetapi tidak dengan seranganku yang kedua."
Cakaran kedua yang diberikan makhluk itu juga gagal. Serangan itu juga tidak berhasil mengenai roh Tito. Gerakan yang gesit membuat makhluk itu kesusahan saat menyerang.
Sejenak mahluk itu seolah kehilangan kemampuannya. Apalagi saat melihat Ditam.
Harum tubuh Dita yang menguar membuat kemarahan makhluk tadi berangsur menurun dan mengalihkan perhatiannya pada tubuh Dita yang terbaring lemah di atas tempat tidur.
"Permaisuri hatiku, kamu kenapa?" ucap makhluk tersebut dengan suara parau.
Melihat makhluk itu lemah, Tito memanfaatkan hal itu dengan menyerangnya.
SRASH ....
Da-rah berwarna hitam bercampur bau anyir itu muncrat mengenai bajuna Tito. Ternyata kekuatan makhluk itu akan melemah jika ia sedang berada di dekat Dita.
Beruntung Tito menyadari hal itu dan saat ia melihat garam krasak, seketika langsung menaburkannya pada sosok makhluk itu hingga keberadaannya menghilang seketika.
BLAM
Nafas Tito masih terengah-engah. Tubuhnya melemah seiring kekuatan yang ia paksakan untuk keluar. Mata Dita mengerjap, mungkin saja setelah ini ia akan siuman.
Tanpa Tito sadari, rohnya tersedot dan masuk kembali menggantikan roh Tiyo yang entah berada di mana. Dita memegangi kepalanya yang berdenyut kencang.
Meskipun masih lemas, ia berusaha bangkit. Betapa terkejutnya Dita ketika melihat suaminya tergeletak di lantai sementara itu dirinya yang tidur di tempat tidur.
Dita segera berhambur mendekati tubuh Tito. Anehnya suhu tubuh Tito sudah tidak sedingin tadi. Dengan tangan bergetar, Dita memeriksakan nafas Tito.
"Alhamdulillah ...."
Akhirnya Dita bersyukur karena suaminya masih bernafas. Ketukan dari pintu membuat Dita terkejut.
"Sayang, ini Ibu. Kita sarapan dulu ya."
"I-iya Bu. Sebentar lagi Dita sama Mas Tito keluar."
Nyonya Sekar tersenyum ketika mendengar suara putrinya. Apalagi saat ia mendengar jika menantunya juga akan ikut keluar.
"Mas, bangun," ucap Dita lirih.
Namun sentuhan tangan Dita membuat kedua mata Tito terbuka. Sebuah senyuman terukir di wajah Tito dan hal itu sukses membuat Dita bahagia.
Dita membantu tubuh Tito untuk bangkit.
"Kenapa tiduran di lantai, Mas?"
"Em, enggak tau, lupa Sayang."
"Ya sudah, sebaiknya kita segera mandi, seluruh anggota keluarga sedang menunggu kita untuk sarapan."
"Asiap!"
"Semoga kutukan itu sudah berakhir," ucap Dita sambil terus mengucap syukur.
Seluruh anggota sedang menunggu kedatangan Dita dan Tito. Mereka tidak sabar mendengarkan cerita malam pertama mereka.
Saat pengantin baru itu muncul, senyum seluruh keluarga terpancar sempurna.
"Wah, pengantin baru baru bangun, pasti tadi malam lembur sampai subuh, ya?"
Tentu saja wajah Dita memerah. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa malunya, padahal semalam mereka tidak melakukan apapun. Namun hal yang paling utama adalah ketika Tito masih hidup sampai saat itu.
"Semoga pernikahan Dita saat ini langgeng, Aamiin," doa Nyonya Sekar dan Tuan Handoko untuk putri satu-satunya itu.
Bersambung.
......................
Sambil nunggu up jangan lupa mampir ke sini ya kakak, ditunggu.