Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 168. TARGETKU


Sebuah usaha pasti akan terasa lebih indah ketika kita sampai di garis Finish. Apalagi ini menyangkut perjuangan dan cinta. Manakala kedua insan telah ditakdirkan untuk bersama, sejauh apa usaha kalian untuk memisahkan sama saja dengan menentang takdir.


Dita memandangi kamar inap Fano. Ingin rasanya ia menyelinap masuk, tetapi apa daya ia tidak mempunyai akses untuk ke sana. Orang tua Fano telah membuat sebuah penjagaan yang sangat ketat untuk putranya.


"Mas, ini adalah aku, Dita," ucapnya sambil mengusap jendela.


Berharap jika Fano mau menyadari keberadaannya saat itu. Seperti terkena sirep, semua penjaga Fano keluar satu persatu dan meninggalkan Fano sendirian. Padahal pada kenyataannya memang benar, Mbok Nem sedang membantu Dita.


Dita yang mendapatkan kesempatan segera masuk ke dalam ruang rawat Fano. Sesekali melihat ke kanan kiri memastikan jika keadaannya aman atau tidak.


"Mas, maaf."


Sosok Fano masih enggan untuk membuka kedua matanya, hingga salah satu usapan dari Dita membuat grafik perkembangan kesehatan Fano bergerak naik turun dengan cepat.


"Mas, kamu merespon sentuhan dariku?" ucapnya senang.


Dari ruang monitor terlihat jelas jika Fano sudah hampir melewati masa kritis. Beberapa kali Dita memanjatkan doa yang ia bisikan di salah satu telinga Fano mampu membuat jemari tangannya mulai bergerak perlahan.


Menyadari ada seseorang yang memasuki kamar Fano, seorang perawat datang menghampirinya.


"Maaf, Anda siapa?"


Seketika Dita menoleh, "Sa-saya ...."


Dita merasa ketakutan karena tatapan menyelidik dari suster tersebut. Baru setelah beberapa saat suster justru tersenyum ke arahnya.


"Kenapa Mbak seolah takut pada saya? Padahal saya cuma mau mengucap terima kasih karena telah membantu pasien untuk segera siuman."


Kening Dita berkerut, ia tidak tahu apa yang dimaksud oleh suster tersebut. Baru ketika ada sebuah tangan yang menyentuh jemarinya hingga membuat Dita menoleh.


"Dita, kamu datang?" ucap Fano masih dengan nada lemah.


Tentu saja Dita menoleh kemudian.


"Ma-mas Fano?" ucapnya terbata.


Fano mengulas senyum untuk Dita. Melihat pasien sudah siuman, maka suster itu segera menghubungi dokter agar datang ke ruangan rawat Fano.


Sebelum memperbolehkan para anggota keluarga masuk, para tenaga medis harus memastikan kesehatan Fano.


"Mohon maaf, kami hanya ingin memeriksa apakah pasien benar-benar membaik kondisinya atau tidak. Jadi kami meminta Nona untuk keluar sebentar."


"Iya, Pak, saya permisi."


Melihat jika sedari tadi Fano terus memperhatikan dirinya, Dita pun tersenyum ke arah Fano. "Mas, aku keluar dulu."


"Ya ...."


Para suster dan tenaga medis segera memeriksa kondisi kesehatan Fano. Hingga lima belas menit kemudian, mereka sudah selesai melakukan pemeriksaan.


Pada saat itu, Dita masih melakukan sambungan telepon dengan Mbok Nem. Tidak lupa ia mengucapkan banyak terima kasih karena beliau telah membantu Dita secara tidak langsung.


"Terima kasih banyak, Mbok. Selama ini Mbok selalu membantu Dita."


"Sama-sama, Den Ayu. Apapun yang Den Ayu butuhkan dari Simbok langsung bilang saja."


Sesaat kemudian seorang suster menghampiri Dita.


"Maaf Nona, pasien di kamar 202 ingin menemui Anda."


Dita lalu menoleh, "Oh iya suster sebentar lagi."


"Mbok sepertinya aku harus segera masuk ke kamar Fano sekarang, sekali lagi terima kasih, Mbok."


"Sama-sama, Den Ayu."


"Mau ke mana, Mbak ... kenapa buru-buru?"


"Fano sudah siuman, Yul. Ayo kita ke Rumah Sakit."


"Baik, aku panggil Pak Mamang dulu."


Nyonya Kirana mengangguk. Sepertinya mereka tidak tahu jika di kamar ruang Fano ada Dita. Sosok wanita yang berhasil membangunkan Fano dari tidur panjangnya. Jika nanti Nyonya Kirana tahu, entah seperti apa kejadian di dalam ruang rawat Fano.


Setelah dokter memastikan keadaan Fano, keduanya memberikan waktu kepada Dita dan Fano untuk saling berbicara satu sama lain. Tidak lupa dokter mengucapkan terima kasih kepada Dita karena telah membangunkan Fano dan membuat grafik kesehatannya semakin membaik.


"Sekali lagi atas nama Keluarga Besar Tuan Refano kami mengucapkan banyak terima kasih."


"Sama-sama, Dokter."


Selepas dokter pergi, Fano menggenggam tangan Dita. Sementara itu Dita memberanikan diri menatap Fano. Lelaki angkuh saat pertama kali bertemu dengannya.


Dulu, ia sangat arogant dan selalu mengejar cinta dari Dita. Sayang, Dita terlihat sangat manis hingga tanpa ia sadari mampu membuat Fano bertekuk lutut.


"Dita, terima kasih sudah datang menjengukku."


"Sama-sama, Mas. Aku sangat bersedih ketika mendengar kabar kamu sakit."


"Maaf karena keegoisan dariku justru membuatku mengalami kecelakaan."


"Jangan sekali-kali Mas nekad untuk mendekatiku, Mas sudah tahu bagaimana kisah kelamku bersama para suamiku."


Fano mengalihkan pandangannya, Dita semakin mengatakan isi hatinya. Ia tidak mau jika nantinya Fano akan celaka karena nekad ingin mempersunting dirinya.


"Mas ... tolong lihat aku."


Fano tidak bisa menahan kegundahan hatinya, apalagi Dita satu-satunya wanita yang mampu mengalihkan dunianya.


"Aku akan tetap mengejarmu, Dita. Bagaimana pun resikonya aku akan tanggung sendiri."


"Mas! Jangan buat diriku frustasi. Kamu tidak tahu bagaimana caranya aku bertahan dari semua ujian dalam pernikahanku. Aku selalu menghindari semuanya tetapi apa ...."


Di sisi lain perjalanan Nyonya Kirana dan Yuli mengalami kemacetan sehingga mereka tidak dapat sampai ke Rumah Sakit dengan cepat. Mereka terjebak macet di jalanan karena terjadi kecelakaan.


Firasat Yuli mengatakan ada sesuatu yang sedang terjadi di ruang rawat Fano, tetapi ia tidak mau mengatakan jika Dita ada di sana. Insting Yuli mengatakan jika Fano bangun karena kedatangan Dita.


Namun, ia tidak akan membuka sesuatu yang belum dapat dipastikan secara langsung. Lagi pula jika saat ini ia mengatakan kepada kakaknya, Nyonya Kirana takutnya ia akan meminta Yuli untuk segera menerobos kemacetan saat itu.


"Sebaiknya aku tidak mengatakan hal yang membuat emosi kakak, semoga Fano baik-baik saja. Aamiin."


Di dalam mobil, ponsel Nyonya Kirana berdering.


"Hallo, Mas. Ada apa?"


"Katanya Fano sudah siuman?"


"Iya, Mas. Alhamdulillah, sebentar lagi aku sampai. Setelahnya aku akan segera menyusul ke Rumah Sakit."


"Hati-hati di jalan ya, Mas."


"Iya."


Sementara itu di sudut ruang rawat Fano, sosok hitam yang berbau lebus itu sudah menginginkan jiwa Fano. Harum wangi tubuh Dita yang membuatnya dengan mudah menemukan calona mangsa baru untuknya.


Lidahnya bermain ke kanan dan ke kiri, seolah bersiap untuk menyantap makanan lezat di hadapannya kali ini.


"Kapan kalian akan menikah, aku sudah tidak sabar menikmatimu, ha ha ha ...."


Seketika Dita merasakan jika bulu kuduknya merinding. "Makhluk ini mengikutiku, astaga ... semoga ia tidak menyakiti Fano ...."