
Ada kalanya kita harus bisa hidup berdampingan satu sama lain. Menghormati keberadaan masing-masing tanpa menyakiti mereka.
Sama seperti yang dilakukan oleh Danu, ketika ia menyadari ada makhluk yang sedang mengawasinya, tidak ada niatan sama sekali untuk menggertaknya atau bahkan membuatnya tersakiti.
"Kamu masih diikuti makhluk itu, Dan?"
Danu tampak mengangguk setuju. Ia memang tidak bisa mengatakan hal yang sejujurnya. Padahal jauh sebelum ini makhluk itu tidak pernah mau lepas atau berjauhan dengan Danu.
Akan tetapi sejak ia berguru pada kakeknya, makhluk itu jarang sekali mengganggunya. Bahkan bisa dikatakan tidak pernah. Mungkin itu yang dimaksud dengan keberuntungan.
Sementara itu, kesehatan Fano sudah terlihat mendingan daripada beberapa waktu yang lalu. Dokter sudah memperbolehkan Fano untuk kembali.
"Terima kasih banyak, dok."
"Sama-sama, semoga kesehatan selalu menyertaimu."
"Terima kasih."
Kini Fano dengan didampingi oleh Ibunya yaitu Nyonya Kirana telah bersiap untuk kepulangan mereka. Anehnya Fano seolah mengungkit kehadiran Dita.
"Kenapa Dita lama tidak terlihat, Ma?"
Nyonya Kirana hanya tersenyum ke arah putranya.
"Dita sepertinya sedang banyak pikiran. Oleh karena itu ia sudah lama tidak datang ke sini, jadi kamu tidak boleh bersedih."
"Baiklah kalau begitu."
Ketakutan karena saat ini teman satu ruangan Fano sudah kembali lagi, membuat Fano semakin ingin segera pergi keluar rumah hanya demi seorang wanita dan untuk menemui Dita.
Nyonya Kirana sangat khawatir karena Fano tetap saja mengungkit keberadaan Dita. Padahal ia sudah bahagia karena Dita sama sekali tidak mungil dalam beberapa hari ini.
"Bagaimana ini, Yul?"
"Biarkan saja kalau Fano ingin menemui Dita, bukankah ini sudah menjadi garis takdirnya?"
"Jadi kamu akan membiarkan Fano merasakan hal yang menyakitkan dan membahayakan tubuhnya?"
Nyonya Kirana tidak habis fikir dengan apa yang dipikirkan oleh adiknya itu. Sebagai seorang ibu ia tidak mau anaknya terluka meski hanya seujung kuku.
Di sisi lain, ayah Dita, Tuan Handoko sudah berada di kediaman Kyai Saleh selama beberapa hari. Dirinya diketemukan tidak sadar di pinggir jalan beberapa meter dari pondok pesantren.
Mereka tidak bisa memberikan kabar kepada keluarganya karena ponsel Tuan Handoko hilang. Ditambah lagi, orang-orang pondok pesantren jarang yang memiliki ponsel membuat mereka harus mengambil jalan satu-satunya yaitu merawat hingga Tuan Handoko siuman.
"Iya, juga sih. Akan tetapi kita tidak mempunyai pilihan lain kecuali membiarkannya istirahat di sini. Pak mantri sudah memeriksanya kembali, bukan?"
Salah seorang santri itu mengangguk setuju. Mereka memang telah memanggil seorang ahli kesehatan untuk membantu merawat Tuan Handoko. Meskipun dari luar tubuhnya tampak tidak kenapa-napa, akan tetapi Pak Kyai Saleh yakin ada yang tidak beres dengan jiwa Tuan Handoko.
Ia beranggapan jika jiwa Tuan Handoko sedang berkelana di alam lain. Menurutnya ia bisa kembali jika sudah menemukan jalan terangnya. Hampir setiap hari untaian doa mengalir untuk menyembuhkan Tuan Handoko.
Selama kurang lebih tiga hari ini, para santri selalu mengirimkan doa kepadanya. Anehnya, pihak keluarganya sama sekali tidak ada yang mencarinya.
"Jangan lupa selalu lap tubuhnya agar keadaannya tetap bersih."
"Iya Pak Kyai, kalau begitu kamu permisi."
.....................
Di alam lain.
Sesuai dengan prediksi Pak Kyai Saleh, jiwa Tuan Handoko memang sedang berkelana di alam ghaib. Saat ini ia bahkan sedang bertamu di Kediaman Pak Kyai Saleh dalam versi lain. Sehingga tidak timbul rasa ragu di dalam hati Tuan Handoko saat itu.
Ia bahkan berbincang-bincang dengan pemilik pondok pesantren itu saat ini. Lantunan doa yang terdengar di telinga Tuan Handoko justru membuat ia semakin nyaman tinggal di sana.
"Apa Tuan sangat betah tinggal di sini?"
"Ha ha ha, Pak Kyai bisa saja. Kalau dibilang tidak betah ya tidak mungkin. Buktinya saya masih menikmati alunan doa yang mengalun indah sedari tadi."
"Syukurlah kalau begitu, semoga perkataan dari Tuan sama sekali tidak bohong."
"Memangnya kenapa Pak Kyai?" tanya Tuan Handoko penasaran.
"Saya ingin menikahkan salah satu putri saya kepada Anda, bagaimana apa Anda setuju?"
"Ha-ah? Ma-maksudnya?"
Tidak berapa lama kemudian muncullah seorang gadi cantik bercadar yang tersenyum kepadanya.
"Cantik sekali ...."
"Ya, dia memang cantik. Anak gadisku baru saja pulang dari studynya di Kairo. Bagaimana, kalau Tuan mau saat ini juga saya bisa menikahkan anak saya dengan Tuan?"
"E-eh, itu ...."