Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 139. PERTARUNGAN GHAIB


Mbok Nem memang seorang indigo, ditambah lagi beliau juga menguasai ilmu kejawen. Mungkin karena ia yang berbeda maka banyak makhluk ghaib berusaha menyerang ketika Dita dan dirinya memasuki wilayah di tengah perkebunan teh.


Di sana memang ada sebuah pohon beringin yang sangat besar. Bahkan ia menyakini jika jasad Tito dikubur di antara akar pohon itu. Sayangnya di sana ada penunggu yang mempunyai kekuatan besar.


Seketika, Dita bisa mencium bau yang sangat busuk dari makhluk menyeramkan itu. Bau lebus seperti sayuran yang direbus, tapi sangat menyengat.


"Apa itu genderuwo?" tanya Dita dalam hatinya.


Setelah makhluk penuh bulu itu membanting tubuh Mbok Nem dengan cukup keras, kini matanya menatap tajam ke arah Dita.


"Ada perlu apa kalian kemari dan kau ...."


Makhluk itu tersenyum menyeringai, lalu menoleh ke arah Dita.


"Andai aku laki-laki, pasti aku mau ber-se-tu-buh denganmu wahai wanita muda, ha ha ha ...."


Tentu saja Tito marah mengetahui hal itu.


"Enak saja, Ayu itu istriku!" hardik arwah Tito yang sudah berdiri di hadapan Dita.


Meskipun ia hanyalah arwah gentayangan, tetapi ia juga tidak akan rela jika istrinya dipermalukan.


"Mas, tahan. Kita bukan lawan yang sebanding dengannya."


"Tapi, Ayu ...."


Makhluk itu melesat mendekati Dita. Tatapannya menelisik dengan sangat dalam. Seolah ingin menguliti Dita di sana.


"Jangan sakiti mereka, Nyi. Kami hanya ingin meminta pertolonganmu."


Mbok Nem ternyata cukup tangguh, ia segera bangkit setelah mengusap sudut bibirnya yang ber-da-rah.


"Aku datang ke sini baik-baik, Nyi. Kenapa justru kau menyerangku lebih dulu?"


Kini Mbok Nem sudah berdiri tegak. Makhluk menyeramkan itu segera mengubah wujudnya menyerupai manusia cantik. Rambutnya disanggul, tubuhnya dibalut kain kemben berwarna hijau.


Sementara itu bagian bawahnya memakai jarik Sidomukti. Kedua bahunya ditutupi dengan selendang berwarna hijau pupus.


"Aku tidak menyerangmu, justru aku sedang menyambutmu, apa kau tidak bisa merasakannya?" tanya Nyi Laksmi penunggu pohon beringin itu.


"Ini adalah daerahku, harusnya kamu permisi terlebih dahulu sebelum menginjakkan kakimu di sini!"


"Benar, Nyi. Barang bawaan yang aku persiapan untukmu saja belum sepenuhnya aku pasrahkan, tetapi kamu justru menyambutku dengan cara seperti ini."


"Apa itu, Nyi. Tolong katakan pada kami?" pinta Mbok Nem dengan sorot mata memohon.


"Aku menginginkan lelaki itu menjadi budakku. Ia juga harus melepaskan ikatan dengan wanita itu."


Mata Dita terbelalak karena ucapan makhluk itu. Ingin rasanya ia menyerangnya tetapi sayang kekuatannya tidak sebanding.


"Apa yang harus aku lakukan?" batin Dita.


Sementara itu Tito menggenggam tangan Dita. Ia tidak ingin berpisah dengan istrinya itu, kecuali jika memang itu takdir Tuhan.


"Kenapa harus dia, Nyi. Padahal aku bisa memberikan lelaki yang lebih tangguh dan tampan darinya."


"Aku tidak menerima penawaran darimu, silakan pergi dan cari bantuan dari orang lain saja!"


Dita sudah merasa tidak nyaman di sana. Terlebih lagi situasinya kurang kondusif. Tidak ada yang bisa membantu mereka saat ini.


Tiba-tiba saja, suara angin bergemuruh datang menghampiri area pohon beringin itu. Awan gelap mengiringi kedatangannya.


Nyi Laksmi menoleh dan segera bersiap-siap untuk melawan kekuatan yang baru saja datang.


"Dia datang kemari? Siapa yang menuntunnya ke sini?" ucapnya penuh amarah.


Namun sosok yang dimaksud Nyi Laksmi tidak kunjung menampakkan wujudnya. Sementara itu Mbok Nem tersenyum.


"Terima kasih untuk kedatangannya Kanjeng Nyai," gumamnya perlahan.


"Den Ayu jangan khawatir, kita akan selamat."


Tubuh Nyi Laksmi terasa panas. Ia pun mengerang kesakitan.


"Aaargh! Siapa sebenarnya kalian ini, ha-ah!" gertaknya sambil menatap nyalang ke arah Dita dan Mbok Nem.


"Katakan!" teriaknya sekali lagi.


......................


Maaf upnya dikit, othor lagi kurang sehat, maaf ya 🙏


Sambil nunggu up mampir ke sini ya bestie😘