Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 28. SAMPAI JUMPA


"Daerah ini sebenarnya perbatasan dunia manusia dan dunia hantu, jadi kalau dia nggak menghendaki manusia itu untuk melewatinya, maka ia nggak bakalan bisa lewat."


Dita terkekeh karena hal itu.


"Kamu becanda, ya. Mana ada daerah seperti itu? Lagi pula aku tidak terlalu mengenal kamu, bagaimana bisa aku percaya sama omongan kamu barusan."


Pemuda itu mengulurkan tangannya ke arah Dita. "Namaku Bagas, kalau kamu?"


"Anindita tetapi sering dipanggil Dita," ucap Sam yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Dita.


Tentu saja Dita menoleh ke arah Sam sambil menatap tidak suka. Sedangkan Bagas hanya tersenyum sejenak. Sementara Sam memandang tidak suka akan kehadiran Bagas.


"Dit, kamu duduk sama kita aja ke sebelah sana!," ajak Sam.


"Bentar, Sam. Aku masih ingin bertanya padanya tentang lokasi kita sekarang, kamu kesana aja!"


Dita mengusir halus keberadaan Sam. Sam yang semula sudah memegang tangan Dita segera melepaskannya. Entah kenapa saat Bagas datang, aroma bunga kantil yang tadi terasa begitu pekat kini menghilang.


Namun, bulu kuduk Dita masih meremang. Suhu tubuhnya menjadi dingin tetapi Dita tidak sakit. Bagas lalu memberikan air putih pada Dita. Seketika Dita bisa melihat makhluk tidak kasat mata yang berada di sekelilingnya.


"Ka-kamu, kenapa tubuh kamu bersinar?" ucap Dita tidak percaya.


"Jangan takut Dita, aku akan menuntunmu keluar dari sini, tetapi ajaklah teman-temanmu untuk meminum air ini."


Bagas segera memberikan dua gelas air putih yang sama dengan yang tadi ia minum. Saat itu Dita harus berdesakan dengan makhluk-makhluk lain itu agar bisa sampai di tempat Sam dan Rani duduk.


Saat ini mereka masih asyik memakan cacing di sana. Seketika Dita merasa mual, tetapi ia ingat tujuannya.


"Sam, Rani ini aku bawa minum buat kalian."


Keduanya segera menoleh pada Dita dengan mulut yang masih tersisa cairan da**h yang berasal dari cacing yang mereka makan hidup-hidup.


"Dit, kenapa sih Lu, nih mie ayamnya enak banget tau, serius!" ucap Rini sambil meminum air yang diberikan dari Dita.


Namun, efek yang mereka dapat lain daripada yang dirasakan oleh Dita. Saat Dita kebingungan, Bagas menarik lengan Dita agar bisa keluar dari lingkaran para hantu dan kembali ke dunia manusia.


Sesaat kemudian, mereka berempat sudah berada di dalam mobil. Bagas segera menyuruh Dita untuk menginjak gas mobilnya.


"Cepat lajukan mobilnya, Dita!" seru Bagas seolah menggertak.


Dita yang masih setengah panik segera menginjak gas mobilnya hingga kembali melaju di jalanan. Beruntung saat Dita berhasil keluar dari hutan tersebut, pagi sudah tiba. Terlihat di ufuk timur, matahari sudah mulai memancarkan cahaya emasnya.


"Alhamdulilah sudah pagi," ucap Dita bersyukur.


"Terima kasih Bagas, karena kamu aku berhasil keluar dari hutan terlarang ta--"


"Loh, di mana Bagas?" tanya Dita kelimpungan.


Bagas yang sedari tadi duduk di samping Dita tiba-tiba saja menghilang. Dita sampai menepikan mobilnya sementara waktu. Hingga ia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya untuk beberapa saat, tetapi ia tidak juga menemukan keberadaan Bagas.


Dibagian belakang, Rani dan Sam sudah siuman. Tadi keduanya memang tertidur untuk sementara waktu, dan saat ini mereka sudah siuman.


"Loh, kok udah pagi aja?"


"Iya, kalian sih enak-enakan tidur."


"Ya, maaf Dit, abis kekenyangan semalam," ucap Rani tidak enak hati.


Sementara itu, Sam merasa janggal dengan apa yang terjadi tadi.


"Kenapa kepalaku pusing sekali, lalu sejak kapan aku tertidur?" gumamnya.


Di ujung pohon, seorang lelaki memandang kepergian Dita. Ia tersenyum ke arah mobil yang dikendarai Dita. "Sampai ketemu lagi, Anindita ...."