
Sebuah kisah masa lalu yang belum pernah usai menang tidak akan pernah ada habisnya. Apalagi ketika ia masih mengejar kita sampai di masa depan.
"Menikahlah denganku, Sekar. Aku mohon dengan sangat kau bisa mengerti aku. Bagaimana caraku bisa bertahan tanpamu?"
Sorot mata penuh cinta itu selalu membayangi setiap langkah Sekar di dalam setiap kali ia berjalan menapaki jalan takdirnya. Ketika suaminya sedang bepergian jauh maka rasa bersalah itu akan selalu menghantui dirinya.
Mbok Nem yang mendengar teriakan dari junjungannya kini mendekatinya. Terlihat sekali jika Nyonya Sekar begitu ketakutan hingga berteriak dengan histeris. Kini wajahnya ia tenggelamkan di kedua lututnya.
Ketakutan terlihat jelas di dalam wajahnya. Ketika ia menoleh, wajah Nyonya Sekar seperti orang lain hingga membuat Mbok Nem memundurkan langkahnya hingga beberapa langkah.
"Ka-kanjeng ibu, a-ada apa?"
"Mbok tolong aku!" rintihnya penuh aura ketakutan.
Dita yang terkejut akan teriakan dari ibunya ingin sekali segera menemuinya. Tubuh Dita yang masih letih menahan keinginannya agar ia tidak leluasa dalam bergerak. Bahkan menggerakkan tangannya saja rasanya amat susah.
"Kenapa dengan tubuhku?" tanya Dita kebingungan.
Mbok Nem masih mencoba menenangkan junjungannya yang terlihat sangat syok. Beberapa waktu yang lalu wajah dan penampilan Nyonya Sekar terlihat jauh menyeramkan dibandingkan saat ini. Beruntung Mbok Nem berhasil membuatnya sedikit tenang. Meski belum sepenuhnya pulih tetapi setidaknya ada rasa percaya yang ia berikan kepada orang di sekitarnya.
"Di minum dulu, Kanjeng Ibu."
Mbok Nem menyodorkan minuman hangat yang baru untuknya.
"Pelan-pelan saja, Kanjeng Ibu."
Selepas minum, Nyonya Sekar baru menanyakan keberadaan putrinya, Dita.
"Bagaimana dengan keadaan Dita, Mbok?"
"Waduh, saya lupa Kanjeng Ibu. Mohon maaf saya permisi dulu mau menengok keberadaan Den Ayu."
Nyonya Sekar tampak mengangguk, tetapi saat ia hendak berjalan keluar tangan Nyonya Sekar tampak menahan langkah kaki Mbok Nem.
"Aku ikut, Mbok."
Mbok Nem mengangguk setuju, lalu kemudian membawanya serta ke kamar Dita.
Meskipun masih terasa letih, tetapi tidak mengurangi niat untuk melihat keberadaan putrinya. Dita yang hanya bisa menatap langit kamarnya merasa sangat sedih. Ia teringat bagaimana para suaminya meninggalkan dirinya.
"Ada banyak kenangan pahit yang sudah aku lewati selama ini. Harusnya aku sadar jika hidup dan mati hanyalah sebuah garis takdir yang harus dilewati oleh setiap manusia."
"Oleh karena itu aku tidak boleh berdiam diri di sini. Aku harus bangkit dan menjadi Anindita gadis pemberani," ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Tidak berapa lama kemudian, terdengar derap langkah kaki dari luar kamar Dita. Bukan hanya satu melainkan terdengar banyak derap langkah yang menuju ke kamar tidurnya.
"Memangnya ada apa? kenapa membuatku cemas saja?" ucapnya dalam hati.
Ingin rasanya ia menoleh ke samping, akan tetapi dirinya terlalu ketakutan hingga tidak bisa melakukan hal itu.
"Semoga ini hanyalah sebuah imajinasi dariku."
Benar saja setelah itu, mulailah muncul dua orang yang sangat dirindukan oleh Dita, yaitu Mbok Nem dan juga ibunya.
"Itu Den Ayu, Kanjeng Ibu. Ia sudah baik-baik saja saat ini. Tenanglah!" ucap Mbok Nem menasehati.
"Syukurlah jika kamu selamat, Nak. Maafkan ibumu yang tidak bisa menolongmu saat ini!" ucapnya penuh sesal.
Bagaimana pun Dita menderita seperti ini pasti ada sangkut pautnya dengan dirinya.
Dita menoleh dan tersenyum, "Ibu, aku kangen?"
Ucapan Dita terdengar lain, seolah yang berada di hadapan mereka saat ini bukanlah Dita. Tangannya yang dingin serta raut wajah yang sangat pucat membuat Mbok Nem seolah bisa melihat dimensi lain didalam pandangannya.
"Kenapa dengan Den Ayu, kenapa auranya sangat berbeda?"
Meskipun ragu-ragu, Mbok Nem tidak berani mengungkapkan hal itu karena masih ada Nyonya Sekar di sana. Ia tidak mau membuat junjungannya kembali ketakutan ataupun merasa khawatir dengan keberadaan Dita.
Sama halnya dengan apa yang dirasakan oleh Mbok Nem. Dita juga merasakan hal lain yang terasa mistis. Meskipun di hadapannya sosok itu sangat mirip dengan Mbok Nem dan ibunya tetapi auranya juga terasa lain. Tidak ada kehangatan yang terpancar di sana, melainkan aura mistis.
Sesungguhnya di antara mereka berdua ada dinding pembatas yang muncul untuk melindungi Dita dari serangan makhluk astral.
"Bagaimana ini, apakah aku akan menghadapi sebuah masalah besar lagi, siapa mereka? kenapa ada banyak makhluk?"