Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 218. BANGUN (Revisi)


Setelah sekian lama terkurung di dalam Alam Ghaib, akhirnya kini Dita mulai membuka matanya. Ia begitu terkejut karena ada banyak makhluk dunia lain yang mengelilingi dirinya.


"Mbok Nem? Kamu dimana?"


Mbok Nem yang sedang mencuci baju segera berlari menuju sumber suara. Dita yang akhirnya bisa melihat Mbok Nem tersenyum bahagia.


"Akhirnya aku bisa melihatmu lagi Mbok," ucap Dita sambil terisak.


Betapa beruntungnya ia bisa kembali lagi ke dalam dunia manusia. Dita sama sekali tidak menyangka jika selama ini ia diajak jalan-jalan dengan sosok hantu yang sudah lama bersamanya.


"Kamu benar-benar ketemu sama Den Arjuna?"


Dita mengangguk setuju. Sosok Arjuna benar-benar menemui Dita di alam lain. Beruntung kali ini Dita sudah sedikit tahu tentang sosok mereka. Sehingga jika ada sebuah kesempatan lain, mungkin saja Dita tidak akan mau bertemu lagi dengannya.


"Ya, sudah ... karena Den Ayu sudah siuman maka ritual akan segera Mbok persiapkan!"


"Iya, Mbok."


Dita tidak mau mengingat masa lalunya lagi. Ia juga sudah kehilangan jejak Arjuna jadi mana mungkin ia bisa bertemu dengannya. Di tambah lagi saat ini ia bisa bertemu dengannya itu artinya Juna mungkin sudah meninggal karena berhasil menemuinya di alam lain.


Tanpa mau menunggu waktu lebih lama lagi, Mbok Nem segera turun gunung. Ia lebih memilih pergi sendirian setelah membentengi gubuk yang dihuni oleh Dita. Daripada harus membawa Dita turun.


Hari yang ditunggu telah tiba. Sebuah kendi berisikan beberapa bunga yang jumlahnya tujuh jenis dan sangat wangi. Bunga-bunga tersebut akan digunakan untuk ritual penyucian jiwa Dita.


Beberapa perlengkapan sesajen dipersiapkan untuk mengelabuhi bangsa lelembut agar tidak menggangu acara ritual tersebut. Di tambah lagi mereka melakukan hal itu di atas gunung di tengah hutan. Sehingga ia tidak mau mengambil resiko.


Ada kopi hitam, teh tanpa gula, air putih matang, dan juga air bunga. Tidak lupa ada kemenyan atau dupa sebagai pelengkap.


Sementara itu, ada sesajen yang spesifik seperti sinjang kawung, sinjang kawung kemplang, desthar daramuluk, desthar udaraga, arta tindih, kampuh paleng, semekan gadung mlati, semekan gadung dan seswangen juga ada di sana. Sebenarnya ada satu lagi akan tetapi Mbok Nem sangat sulit mendapatkannya sehingga barang itu diganti dengan ayam cemani.


Dita sudah memakai kemben, sejenis kain batik yang dipakai sebatas dada dengan rambut terurai. Di bawah sinar bulan purnama Mbok Nem mulai memulai ritual tersebut.


Semuanya tampak seperti sangat sakral karena Mbok Nem sudah membentengi tempat tersebut sehingga hampir tidak ada makhluk lain yang mendekat. Dita sudah pasrah dengan takdirnya.


Dita seolah melepas masalah dunianya dan lebih memilih untuk menjadi seorang penyendiri. Ia lebih suka tinggal di tengah hutan daripada bersama manusia pada umumnya.


"Bagaimana ini? Apakah kamu sudah siap Den Ayu?"


"Sudah Mbok."


Dengan memejamkan kedua matanya Mbok Nem mulai melakukan ritualnya. Hawa dingin tiba-tiba saja berhembus kencang dan membuat mereka berdua seolah kedinginan. Akan tetapi Mbok Nem tetap melanjutkan ritualnya dan menyiram tubuh Dita dengan berbagai macam kembang lalu meminta Dita meminum kopi hitam.


Namun, tiba-tiba saja perut Dita bergejolak dan membuat ia hampir muntah. Dari tempat Dita duduk tiba-tiba terasa goncangan yang sangat dahsyat dan kendi yang berisi kembang tujuh rupa pecah.


PYAR


Mbok Nem menoleh, "Ada apa ini?"