Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 156. BERUSAHA MOVE ON


Jujur ku tak ingin engkau pergi


Tinggalkan semua usai di sini


Mengingat semua yang t'lah terjadi


Ku tahu kau pun sama s'perti aku


Tak ingin cinta usai di sini


Tapi mungkin inilah jalannya


Harus berpisah ho oh ho


Terluka dan menangis tapi ku terima


Semua keputusan yang telah kau buat


Satu yang harus kau tahu


Ku menanti kau tuk kembali


......................


Lagu dari Tak ingin usai dari Keisya Levronka mengalir indah mengiringi perjalanan pulang dari Dita dari pondok pesantren. Mengiringi derai air mata Dita yang terus mengalir sejak masuk mobil.


Bagaimana ia bisa menyakiti hati lelaki yang sangat baik itu. Akan tetapi hal ini lebih dipilih oleh Dita daripada ia terus menyakiti hati kedua orang tua dan orang-orang yang sangat ia cintai.


Di sisi lain, Danu masih termenung di teras pondok pesantren. Kebetulan ada Pak Kyai pemilik pondok yang melihatnya di sana. dengan langkah hati-hati, Pak Kyai menyapa Danu.


"Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikum salam ...."


Danu menoleh, "Pak Kyai ...."


Seketika Danu berdiri dan menyalami tangan Pak Kyai sebagai tanda hormat kepadanya.


"Ada apa, kenapa sepertinya kamu melamun?"


"Maaf, Pak Kyai, saya lagi banyak pikiran."


"Apa karena gadis bercadar tadi?"


Danu mengangguk, "Iya."


"Danu kamu harus tahu, kalau cinta itu memang sebuah misteri. Akan tetapi cinta akan datang ketika Allah berkehendak."


"Ikatan keimanan yang paling kuat adalah ketika mencintai seseorang karena Allah Swt. Apakah kamu tahu dalil tentang hal ini?"


Danu menggeleng, sementara Pak Kyai mulai mengatakan sesuatu yang membuat minset Danu lebih terbuka lagi.


Salah satu hadits Rasulullah yang berbunyi:


“Tali iman yang paling kokoh adalah saling menolong (setia) karena Allah, saling bermusuhan karena Allah, dan saling benci karena Allah Swt.” (HR. Thabrani)


"Cinta karena Allah bisa mengantarkan seorang Muslim menuju surga-Nya. Mereka akan menempati derajat yang mulia, setara dengan kedudukan pemimpin yang adil di dunia."


"Di dalam hadits lain ditegaskan bahwa dua orang yang mencintai karena Allah kelak akan dipertemukan lagi di hari kiamat. Apakah kamu mau menjadi golongan orang yang beruntung? Atau lebih memilih golongan yang merugi?"


Danu menjawab, "Tentu saja menjadi golongan orang yang beruntung, Pak Kyai."


Pak Kyai tersenyum, "Kalau begitu berusahalah."


"Perbaiki dulu akhlakmu, sukseskanlah dirimu, bahagiakanlah kedua orang tuamu. Lalu siapa yang tidak suka dengan dirimu?"


Danu tertegun akan ucapan Pak Kyai barusan.


"Perasaan yang tulus akan membawa seseorang pada kemurnian cinta. Ia tidak lagi melihat pasangannya dari segi fisik, materi, ataupun keturunan. Jika kamu menerapkan semua itu, Insya Allah hidupmu akan lebih tenang."


"Aamiin."


Memikirkan ucapan dari Pak Kyai, Danu merasa malu terhadap dirinya sendiri.


"Terima kasih untuk nasehatnya, Pak Kyai. InsyaAllah saya akan lebih fokus untuk memperbaiki diri saya sebelum saya mulai mencintai dirinya. Doakan semoga saya segera menemukan jodoh terbaik. Aamiin."


"Aamiin."


Ia pun lebih memilih untuk segera pergi dan kembali ke rumah. Meskipun pikirannya kalut, tetapi setelah mendengar semua nasihat dari Pak Kyai ada sebuah harapan yang tersirat di dalam wajah Danu.


"Jika kita berjodoh, maka Allah akan mempermudah jalanku untuk mencintaimu, Dita."


Sementara itu, untuk menenangkan dirinya Dita lebih memilih pergi ke pemakaman para suaminya yang telah meninggal. Tidak lupa ia membeli beberapa bunga untuk ditaburkan di atas makam suaminya.


Alhamdulillah, cuaca hari itu begitu mendukung. Dita segera turun dari mobil dan membeli beberapa bunga, lalu setelah itu ia pun mulai mendatangi makam mendiang suaminya satu persatu.


Di setiap makam yang ia kunjungi, tidak lupa Dita selalu meminta maaf untuk semua kesalahan selama bersama. Setelahnya ia pun mulai melanjutkan langkahnya untuk kembali ke rumah.


"Maafkan aku, Mas. Semoga kalian tenang di alam sana. Aamiin."


Saat Dita masih di pemakaman, ia merasa jika ada yang mengawasi. Saat Dita menoleh ia tidak mendapati siapapun, namun hatinya mengatakan jika ada yang salah dengan hal itu.


"Ya Allah, lindungilah setiap langkahku dalam menggapai ridhomu."


BELUM REVISI


Jujur ku tak ingin engkau pergi


Tinggalkan semua usai di sini


Mengingat semua yang t'lah terjadi


Ku tahu kau pun sama s'perti aku


Tak ingin cinta usai di sini


Tapi mungkin inilah jalannya


Harus berpisah ho oh ho


Terluka dan menangis tapi ku terima


Semua keputusan yang telah kau buat


Satu yang harus kau tahu


Ku menanti kau tuk kembali


................


Lagu dari Tak ingin usai dari Keisya Levronka mengalir indah mengiringi perjalanan pulang dari Dita dari pondok pesantren. Mengiringi derai air mata Dita yang terus mengalir sejak masuk mobil.


Bagaimana ia bisa menyakiti hati lelaki yang sangat baik itu. Akan tetapi hal ini lebih dipilih oleh Dita daripada ia terus menyakiti hati kedua orang tua dan orang-orang yang sangat ia cintai.


Di sisi lain, Danu masih termenung di teras pondok pesantren. Kebetulan ada Pak Kyai pemilik pondok yang melihatnya di sana. dengan langkah hati-hati, Pak Kyai menyapa Danu.


"Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikum salam ...."


Danu menoleh, "Pak Kyai ...."


Seketika Danu berdiri dan menyalami tangan Pak Kyai sebagai tanda hormat kepadanya.


"Ada apa, kenapa sepertinya kamu melamun?"


"Maaf, Pak Kyai, saya lagi banyak pikiran."


"Apa karena gadis bercadar tadi?"


Danu mengangguk, "Iya."


"Danu kamu harus tahu, kalau cinta itu memang sebuah misteri. Akan tetapi cinta akan datang ketika Allah berkehendak."


"Ikatan keimanan yang paling kuat adalah ketika mencintai seseorang karena Allah Swt. Apakah kamu tahu dalil tentang hal ini?"


Danu menggeleng, sementara Pak Kyai mulai mengatakan sesuatu yang membuat minset Danu lebih terbuka lagi.


Salah satu hadits Rasulullah yang berbunyi:


“Tali iman yang paling kokoh adalah saling menolong (setia) karena Allah, saling bermusuhan karena Allah, dan saling benci karena Allah Swt.” (HR. Thabrani)


"Cinta karena Allah bisa mengantarkan seorang Muslim menuju surga-Nya. Mereka akan menempati derajat yang mulia, setara dengan kedudukan pemimpin yang adil di dunia."


"Di dalam hadits lain ditegaskan bahwa dua orang yang mencintai karena Allah kelak akan dipertemukan lagi di hari kiamat. Apakah kamu mau menjadi golongan orang yang beruntung? Atau lebih memilih golongan yang merugi?"


Danu menjawab, "Tentu saja menjadi golongan orang yang beruntung, Pak Kyai."


Pak Kyai tersenyum, "Kalau begitu berusahalah."


"Perbaiki dulu akhlakmu, sukseskanlah dirimu, bahagiakanlah kedua orang tuamu. Lalu siapa yang tidak suka dengan dirimu?"


Danu tertegun akan ucapan Pak Kyai barusan.


"Perasaan yang tulus akan membawa seseorang pada kemurnian cinta. Ia tidak lagi melihat pasangannya dari segi fisik, materi, ataupun keturunan. Jika kamu menerapkan semua itu, Insya Allah hidupmu akan lebih tenang."


"Aamiin."


Memikirkan ucapan dari Pak Kyai, Danu merasa malu terhadap dirinya sendiri.


"Terima kasih untuk nasehatnya, Pak Kyai. InsyaAllah saya akan lebih fokus untuk memperbaiki diri saya sebelum saya mulai mencintai dirinya. Doakan semoga saya segera menemukan jodoh terbaik. Aamiin."


"Aamiin."


Ia pun lebih memilih untuk segera pergi dan kembali ke rumah. Meskipun pikirannya kalut, tetapi setelah mendengar semua nasihat dari Pak Kyai ada sebuah harapan yang tersirat di dalam wajah Danu.


"Jika kita berjodoh, maka Allah akan mempermudah jalanku untuk mencintaimu, Dita."


Sementara itu, untuk menenangkan dirinya Dita lebih memilih pergi ke pemakaman para suaminya yang telah meninggal. Tidak lupa ia membeli beberapa bunga untuk ditaburkan di atas makam suaminya.


Alhamdulillah, cuaca hari itu begitu mendukung. Dita segera turun dari mobil dan membeli beberapa bunga, lalu setelah itu ia pun mulai mendatangi makam mendiang suaminya satu persatu.


Di setiap makam yang ia kunjungi, tidak lupa Dita selalu meminta maaf untuk semua kesalahan selama bersama. Setelahnya ia pun mulai melanjutkan langkahnya untuk kembali ke rumah.


"Maafkan aku, Mas. Semoga kalian tenang di alam sana. Aamiin."


Saat Dita masih di pemakaman, ia merasa jika ada yang mengawasi. Saat Dita menoleh ia tidak mendapati siapapun, namun hatinya mengatakan jika ada yang salah dengan hal itu.


"Ya Allah, lindungilah setiap langkahku dalam menggapai ridhomu."