Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 183. BALAS BUDI


"Ma-maaf, saya tidak bisa Pak Kyai. Saya hanya mencintai istri saya."


"Bukankah Tuan Handoko ingin balas budi kepada saya? Bukankah lebih baik jika menerima tawaran dari saya?"


Dari nada bicaranya, terlihat sekali Pak Kyai Saleh memaksa. Di dalam lubuk hati yang terdalam, Tuan Handoko yakin jika ini hanyalah sebuah mimpi.


"Tidak mungkin Pak Kyai mempunyai sifat memaksa? Karena yang aku tahu saat ini hanyalah orang-orang yang biasa yang mempunyai sikap memaksa. Sejauh aku bersahabat dengan beliau sikapnya selalu ramah."


Melihat jika tamunya meragukan ucapannya, Pak Kyai segera meminta putrinya untuk memberikannya minuman untuk melegakan tenggorokan.


Entah sengaja atau tidak rupanya langkah kaki putri Pak Kyai terlihat aneh di dalam pandangan mata Tuan Handoko. Seolah kakinya tidak bersentuhan dengan tanah. Meskipun ia memakai jubah tetapi seharusnya jika manusia pasti akan terlihat bekas gerakan kakinya.


"Aneh, kenapa langkah kakinya sama sekali tidak terlihat. Berbeda sekali dengan ketika melihat Dita yang memakai gamis tempo hari?"


Leluhur Dita yang mengetahui jika anak cucunya diganggu oleh bangsa Jin segera mendatangi pondok pesantren milik Pak Kyai Saleh.


Saat lantunan ayat suci Al-Quran berkumandang di masjid milik Pak Kyai Saleh, hembusan angin dari arah utara berhembus dengan kencangnya. Tirai-tirai kain berwarna hijau muda itu menari-nari diterpa olehnya.


Lalu sejenak kemudian terdengar ucapan, "Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikumsalam, siapa yang datang?"


Pak Kyai menghentikan kegiatan mengajinya. Lalu ia bergegas ke depan masjid. Tampak olehnya sosok wanita berpakaian kebaya lengkap dengan sanggulnya membelakangi dirinya.


"Siapa kamu?"


Sosok wanita tersebut menoleh lalu tersenyum, "Saya, Pak Kyai."


"Ada perlu apa datang kemari?"


"Saya ingin menemui cucu sayang yang Anda rawat di kamar tamu."


"Tapi rumah kamu bukan di sini? Mana mungkin cucumu ada di sini?"


Sosok wanita itu tersenyum.


"Maaf jika kedatangan saya lancang, akan tetapi memang cucu saya Anda yang merawatnya. Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada Anda."


"Katakanlah jangan berbelit-belit."


"Tubuh cucu saya memang Anda yang merawatnya. Akan tetapi jiwanya terjebak oleh ulah Jin Muslim yang menyerupai Anda? Menurutmu apakah kau sudah merasa benar jika tetap bertindak seperti dia?" ucap leluhur Dita sambil mengarahkan jari telunjuknya ke tempat aula sekolah


"Dia berada di sana?" tanya Pak Kyai Saleh dengan wajah terkejut dan tidak percaya akan hal itu.


"Benar, Pak Kyai."


"Ma-maksudnya adalah orang yang aku rawat tetapi sampai hari ini belum juga siuman?"


Sosok wanita itu semakin mendekat.


"Bukankah itu artinya sebagai manusia harus punya rasa solidaritas yang tinggi untuk saling tolong menolong dalam kebaikan?"


Pak Kyai Saleh mengangguk.


"Coba buktikan jika ucapanmu itu benar," ucap Pak Kyai kemudian.


Dalam sekejap, salah satu tangan wanita itu bergerak ke arah atas, memutar lalu sesaat kemudian ia seolah meniupkan sesuatu yang ia arahkan tepat di tubuh Pak Kyai.


Pak Kyai Saleh memejamkan mata untuk sesaat, tidak lupa ia berdzikir sambil membuka matanya. Beliau tampak memundurkan langkahnya beberapa saat karena terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini.


"Kenapa mereka berwujud sama persis denganku?"


"Entahlah, kalau soal itu saya tidak mengetahuinya. Jika Pak Kyai menginginkan hal yang lebih detailnya bisa Anda tanyakan sendiri kepada Jin muslim yang menyamai bentuk Anda."


"Astaghfirullahaladzim ...."


"Maafkan karena tadi aku sudah suudzon dengan kedatanganmu."


"Tidak mengapa Pak Kyai, yang terpenting adalah Pak Kyai berkenan membantu saya untuk menyelamatkan cucu saya."


Pak Kyai Saleh mengangguk perlahan, "InsyaAllah."


Sosok wanita yang mengaku sebagai leluhur Dita sangat berterima kasih kepadanya. Tidak berapa lama kemudian, keduanya mulai melakukan ritual dengan keyakinan masing-masing.


Tampak Pak Kyai terus membacakan ayat kursi sementara itu leluhur Dita tampak menggunakan tenaga dalamnya untuk memasuki alam ghaib. Merasa jika keberadaan mereka mulai diketahui oleh manusia, sosok pemimpin dari jin muslim itu segera membuat benteng pertahanan.


"Bagaimana, Nak. Apa kau masih meragukan kemampuan putri saya?"


"Aduh, kenapa Pak Kyai tampak memaksa, harus dengan cara apalagi aku menolaknya?"


Dalam hati Tuan Handoko bergejolak. Ingin sekali beliau menolak dengan cara halus, akan tetapi ia masih ingat dosa sehingga Tuan Handoko hanya mencoba mengulur waktu agar ada seseorang yang datang untuk menolongnya.


Suasana yang tadinya tenang dan damai kini berubah menjadi sedikit mencekam. Terlihat sekali jika langit yang semula cerah kini perlahan menghitam.


Angin semilir yang semula hangat kini berubah menjadi dingin. Burung-burung yang semula bertengger di dahan pohon kini mulai beterbangan dan kembali lagi ke sarangnya.


Dengan sorot matanya, Pak Kyai Saleh yang palsu memberikan isyarat kepada kaumnya untuk bersiap-siap.


"Berhati-hatilah, karena sebentar lagi ada seseorang yang datang dan mengganggu kita!" begitulah kira-kira arti dari sorot matanya barusan.


Tidak berlangsung lama, apa yang mereka takutkan terjadi. Terdengar lantunan ayat kursi yang sangat keras dan tidak hanya dilakukan oleh satu orang melainkan hampir seluruh warga pondok pesantren milik Pak Kyai Saleh. Bukan hanya lantunan ayat kursi yang terucap melainkan juga surat Jin dan surat-surat pendek lainnya.


Hal ini dilakukan sebagai tameng agar langkah penyelamatan kali ini berhasil. Apalagi yang mereka hadapi kali ini adalah jin muslim yang justru tidak merasakan apapun ketika dibacakan ayat-ayat Al Qur'an.


"Tenang saja, Pak Kyai. Lakukanlah dengan tenang dan terus menerus hingga kita bisa keluar lagi dari alam ghaib."


Pak Kyai Saleh tampak mengangguk. Ketika Tuan Handoko hendak menyeruput teh miliknya terdengar bisikan yang mengatakan jika ia tidak boleh meminum air teh itu atau sebagai penggantinya Tuan Handoko tidak akan bisa kembali lagi ke alam manusia.


Sontak saja leluhur Dita bertindak terlebih dahulu daripada ia kehilangan cucunya yaitu Tuan Handoko.


"Bagaimana ini? Sepertinya tidak ada cara lain lagi."


"Jangan menatap matanya, Pak Kyai."


Pak Kyai Saleh mengangguk. Tangan yang hendak dipakai untuk mengambil cangkir berisikan air teh tersebut gemetar hingga membuat airnya tumpah.


"Erghhh!"


Sosok Pak Kyai Saleh palsu tampak menggeram.


"Bisa-bisanya kamu menumpahkan air teh itu. Apakah itu sikap yang kau tunjukkan ketika bertamu?"


Terlihat api kemarahan di dalam bola mata Pak Kyai Saleh. Sesaat kemudian api di depan Tuan Handoko padam hingga membuat suasana menjadi gelap.


Tuan Handoko berjingkat lalu melompat. Ia seolah telah mendapatkan jawaban kenapa dirinya tidak kenapa-napa


Ternyata dar-ah makhluk itu sudah pernah mengalir di dalam tubuhnya, sehingga Dita bisa melihat hal yang tidak kasat mata. Tidak ada rasa ketakutan di dalam wajah Pak Kyai Saleh, apalagi setelah melihat putrinya sudah menemukan jodohnya.