
Merasa jika Mbok Nem tidak bisa menolong Dita, maka leluhur Dita secara langsung mendatangi alam ghaib. Meski setelah itu arwahnya akan hancur begitu pula dengan jasadnya, leluhur Dita tidak akan pernah menyesal.
"Mungkin ini memang sudah waktunya aku untuk keluar dan menolongnya. Jika tidak maka aku takut justru ke depannya aku yang akan menyesal."
Leluhur Dita masih memandangi sekitarnya.
"Jika dengan begini aku bisa menyelamatkan dirimu, maka aku akan melakukannya, wahai cucuku."
Malam itu angin berhembus dengan kencangnya. Tidak ada suara berisik dari hewan-hewan malam seperti biasanya. Sunyi, bahkan awan yang biasanya menyelimuti bumi kini sudah hilang. Langit begitu bersih, hanya taburan bintang yang masih menghiasi indahnya malam itu.
Tidak menunggu waktu yang lama, ia segera melesat pergi ke tempat Dita diculik, yaitu alam ghaib. Dinding pembatas antara alam manusia dan alam ghaib sudah sirna, dengan hal itu justru memudahkan leluhur Dita untuk masuk ke alam ghaib.
"Terima kasih, Mbok Nem sudah membuka pintu ini untukku."
Tidak berselang lama, beliau memang sudah sampai di tempat Dita disekap, hanya saja ada sosok makhluk yang selalu menjaganya. Ia tidak jahat, tetapi ingin melakukan sebuah perjanjian ghaib dengan Dita. Ternyata tubuh Dita tidak pernah ditinggal pergi oleh makhluk yang menculiknya.
"Apakah makhluk itu mempunyai sebuah ikatan dengan Dita? Aku rasa tidak."
"Aku merasa jika ia bukanlah sosok yang jahat, akan tetapi karena sudah terpikat dengan Dita, maka aku juga harus menyingkirkannya."
Leluhur Dita tersenyum menyeringai setelah ia mendapat sebuah petunjuk. Diraihnya sebuah ranting pohon lalu ia lemparkan ke arah semak-semak belukar di hadapan makhluk itu.
Tujuan utama agar membuat makhluk itu terkecoh dan pergi dari sana.
Sesuai dugaan, sontak makhluk itu hampir saja terjingkat karena efek dari lemparan ranting yang mengenai tanah itu sudah mengeluarkan kepulan asap dan bunyi yang mengusik perhatiannya.
"Siapa yang berada di sana?" gertak makhluk itu seraya menajamkan penglihatan miliknya ke arah sekeliling.
Samar-samar terdengar suara langkah kaki yang berjalan tidak jauh darinya. Makhluk itu kembali menoleh. Mencoba mencari siapa tahu ia kurang teliti. Kembali tidak mendapatkan apapun, makhluk itu akhirnya mengeluarkan suaranya yang menggelegar.
"Aku paling tidak suka, apabila ada yang datang dan mencoba mengusikku! Apalagi ini di rumahku!" desisnya.
Mata makhluk itu kembali menyisir ke sekeliling, tetapi tidak ada sesuatu yang membuatnya curiga. Merasa cukup aman, ia kembali memandang wajah Dita. Sedari tadi ia sama sekali tidak beranjak ke manapun, entah mengapa dia begitu betah menjaga Dita.
Apalagi saat ini di sampingnya ada sosok manusia yang sangat cantik. Aroma tubuh Dita mampu membuat makhluk itu tunduk seketika dan terpikat salam sekali waktu. Mungkin inilah daya tarik Dita di mata bangsa lelembut. Unik, wangi dan spesial.
Tangan makhluk itu terulur untuk mengusap wajah Dita yang cantik. Kepalanya sesekali ia condongkan ke arah wajah Dita untuk memastikan Dita tetap berada di sisinya.
"Hm, wahai manusia cantik, kapan kamu bangun? Aku sudah merawatmu selama beberapa waktu, tetapi kau sama sekali tidak mau membuka mata!"
"Hmm, berani kau menyentuhnya sekali lagi maka akan aku patahkan kau!" desis leluhur Dita dari arah samping.
Saat ini ia masih belum terlihat, karena luluhur Dita masih menyelimuti dirinya dengan ajian "ora ketok". Sampai di mana ia belum berniat menampakkan dirinya maka hal itu tidak akan pernah terjadi.
Beliau masih mengamati apa yang dilakukan makhluk menyeramkan itu. Mengukur apakah dia hebat atau hanya bangsa lelembut biasa.
"Lihatlah, bahkan tubuhku saja belum juga pulih setelah membantumu!" ucapnya sambil mengamati dirinya sendiri.
"Ini saatnya aku menguji kemampuanmu, wahai bangsa lelembut tidak tahu diri!"
Melihat makhluk itu lengah, leluhur Dita segera menyerangnya.
...SRASH...
Sebuah sabetan cahaya berwarna putih mengenai tubuh makhluk tersebut. Sontak saja cairan kental berwarna hitam pekat mengucur deras dari hidung dan mulut makhluk itu.
"Arghhhh!"
"Kamu bukanlah tandingan untukku, maka jangan sekali-kali mengujiku dengan hal yang akan membuatmu hancur!" gertak leluhur Dita dari tempat berdirinya.
Senyuman dari leluhur Dita membuat makhluk itu beringsut mundur. Begitu pula dengan suasana yang terjadi saat ini sudah diluar batas kemampuannya.
"Sial, wanita tua ini cukup tinggi ilmunya, bahkan dengan segera ia menggunakan senjata miliknya ke arahku ketika lengah!"
"Aku harus waspada!"
Sepertinya gerwo takut dengan ancaman dari leluhur Dita. Bahkan terlihat sekali jika makhluk itu baru saja menggunakan kekuatannya yang kini belum sepenuhnya pulih. Mungkin karena itu ia terlihat lemah dan sangat mudah untuk ditaklukan.
Kelemahan bangsa gerwo adalah ketika ia baru saja menggunakan kekuatan tenaga dalamnya, maka masa pemulihannya akan cukup lama. Kecuali jika ia sudah melampiaskan na*sunya, mungkin itu akan mempercepat masa pemulihan untuknya.
"Meskipun kau menggunakan wujud manusia, tetapi kau tidak bisa menipuku wahai genderuwo!"
Sontak saja makhluk itu menoleh dan menyeringai ke arahnya.
"Apapun wujudku, apa yang menjadi masalah untukmu? Apa aku mengganggumu? Kau justru tidak mempunyai tata krama. Sudah tua tapi datang bertamu tidak permisi terlebih dahulu!"
"Cih!"
"Ya, kau juga sama saja, dan sangat mengangguku. Lihatlah manusia di dekatmu itu. Perlu kamu ketahui jika dia adalah cucuku satu-satunya."
"Aku tidak perduli. Bagiku siapa saja yang menemukannya maka sudah pasti dia akan menjadi milikku. Aku tidak peduli dengan ucapan dan status kalian!"
Sontak terdengar tawa renyah dari makhluk itu. Ia kemudian berdiri dan segera berubah menjadi sosok makhluk yang sangat besar dan menyeramkan.
"Jangan sekali-kali mengaku jika wanita cantik ini adalah cucumu! Dia ini milikku!"
Suara yang menggelegar itu sangat mengganggu di dalam indera pendengarannya. Namun, sebesar apapun leluhur Dita bertahan, tetap ada nilai lebih dari setiap usahanya kali ini. Kekuatannya jauh lebih unggul. Sepertinya beliau datang di saat yang tepat.
"Tidak apa-apa, biarkan saja kau terus berkoar-koar. Aku tidak peduli, asal apa yang kau lakukan tidak melukai cucuku, itu sudah lebih cukup!"
"Hei nenek tua, kemarilah! Biar aku tunjukkan bagaimana caranya agar kau bisa bertahan hidup di sini!"
Seketika gerwo mengeram dengan tangan bersiap untuk mencengkeram.
"Bed*bah, beraninya kau mengancamku!" desis leluhur Dita.
Gerwo menyeringai, kekuatannya memang kalah jauh. Akan tetapi ia tetap wajib mempertahankan dirinya.
Keputusan untuk keluar dari sukunya membuat gerwo terpisah dengan keluarganya. Hanya demi bisa memiliki Dita seutuhnya.
Secepat kilat leluhur Dita melakukan penyerangan. Begitu pula makhluk tersebut juga melakukan hal yang sama, hingga salah satu dari mereka terpental cukup jauh dan menabrak sebuah pohon hingga beberapa ranting.
Brak
Brak
Brak
Tubuhnya terhempas hingga membuat tumbang beberapa pohon Pinus.
"Arggh, sia-lan!"