Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 134. AKU KEMBALI


Ternyata apa yang ditakuti Dita terjadi. Makhluk yang biasa menyerang suaminya kembali muncul di hadapannya dan saat ini sedang mengancam kehidupan Dita dan Tito.


Apalagi keadaan saat ini kekuatannya sedang melemah. Dikarenakan Ibunda Tito tidak kunjung kembali membuatnya harus berlama-lama meminjam tubuh Tiyo.


"Kenapa Ibu lama sekali? Apa mereka sengaja membuatku musnah?"


Tito terlihat geram akan hal ini. Bagaimana pun caranya, ia akan tetap bertahan di dekat Dita. Tanpa ia sadari, ternyata istrinya melihatnya sedang gelisah. Dita pun berinisiatif untuk segera mendekatinya.


"Ada masalah, kah, Mas?"


"Ehm, bukan masalah besar, tetapi cukup aku saja yang menyelesaikan hal ini. Percayalah padaku."


Tito memegang tangan Dita lalu menciumnya sejenak. Entah kenapa dengan begitu pikirannya sedikit lebih nyaman. Dita pun membiarkan suaminya melakukan apapun yang ia suka.


"Jika waktu bisa aku putar, mungkin kita bisa bersama lebih lama, Mas."


"Dita, memang hanya kaulah wanita yang paling mengerti untukku."


Sepasang suami istri itu saling menyelami perasaan satu sama lain. Namun, pikiran Tito kembali saat ia melirik ke arah tempat tidur. Di mana di atasnya ada raga Tiyo tanpa jiwanya.


"Seharusnya aku masih hidup dan jauh lebih baik darimu, Tiyo. Kenapa kau merampas semua kebahagiaan yang harusnya aku dapatkan!"


Tito terlihat geram ketika semua gerakannya terbatas. Belum lagi ilmunya akan melemah karena sudah lama meminjam raga kakanya.


Padahal pada perjanjian awal, Tito tidak bisa berada di dalam tubuh saudara kembarnya lebih dari lima hari. Konsekuensi yang akan didapatkan jika meminjam raga Tiyo maka ia akan musnah. Begitulah ucapan Ibunda Tito saat ia mengajukan keinginannya untuk mempersunting Dita.


Saat ini kedua orangtua mereka juga belum kembali dari kota, sehingga di dalam rumah itu hanya ada Tito dan hanya Dita. Hal tidak terduga tiba-tiba saja terjadi.


Sebuah kilatan cahaya membuat Tito dan Dita beringsut mundur. Sosok menyeramkan itu kembali datang dan mengganggu rumah tangga Dita.


SRASH ...


Sebuah cakaran tepat mengenai bahu Tito. Kurangnya persiapan membuat Tito jatuh tersungkur.


"Mas, ada apa?"


"Lari, Sayang. Cepat lari!" teriaknya.


Salah satu tangannya mengepal dan bersiap untuk memukul makhluk menyeramkan itu.


Dita yang tidak bisa melihat makhluk itu hanya bisa berdoa untuk keselamatan putranya.


Tidak lama kemudian, Tito jatuh kembali. Tubuhnya membentur sudut meja, tetapi karena ia hantu, terlihat ia justru menembus meja tersebut.


Dita hanya bisa menutup mulutnya, lalu mengabaikan rasa takutnya dan mendekati Tito.


"Mas, tidak kenapa-napa, kan?"


BRAK


Kini justru Dita yang kesakitan karena kepalanya membentur meja rias. Makhluk itu tertawa menyeringai.


Tidak lama kemudian makhluk itu kembali menyerang Tito.


Mencakar dengan kuku-kuku panjangnya hingga membuat Tito benar-benar tidak berdaya.


Dari tempat tinggalnya Danu bisa merasakan apa yang sedang di alami oleh Dita.


"Aku harus menemui Dita!" teriaknya penuh amarah.


Nenek Maemunah terkejut melihat Danu hendak pergi dari rumahnya, segera berlari.


"Loh, Le, kamu mau pergi kemana?"


"Pulang, Nek. Calon istriku terancam, apa aku boleh pergi?"


Tangan Nenek Maemunah melambai-lambai.


"Tunggu dulu, tapi ini sudah memasuki waktu senja kala, Nak. Sebaiknya kamu pergi besok pagi saja."


"Memangnya kenapa, Nek?"


"Senjakala itu waktunya dedemit keluar! Sudah ayo masuk!" ajak Nenek Maemunah dengan sungguh-sungguh.


Mau tidak mau Danu harus mengurungkan niatnya dan ikut masuk. Dengan lesu, Danu mendudukkan kembali dirinya di atas tempat tidur. Ingatannya membawa Danu kembali ke tempat di mana ia bisa kecelakaan kapan hari.


Tergambar jelas di sana, saat ia kecelakaan dan masuk jurang. Hal itu juga terjadi tepat saat senjakala tiba.


"Aku ingat, waktu itu memang senja, berarti saat itu juga jiwaku terjebak di alam lain?"


Nenek Maemunah tersenyum. Sambil mengunyah sirih ia mendekati Danu.


"Apa kamu juga tidak takut denganku? Hi hi hi ...."


Tiba-tiba saja wajah dan tubuh Nenek Maemunah berubah menjadi sosok wanita yang sangat menyeramkan. Baju yang ia kenakan kedodoran dan bagian da-danya melorot ke bawah.


"Astaghfirullah, ka-kamu---"


BERSAMBUNG


Kira-kira siapa yang menolong Danu ya, manusia atau bukan sih. Daripada bingung, sambil nunggu up mampir ke sini ya bestie, makasih 😘