Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 46. SIAPA DIA


Bagaimana pun Dita menolak, hasilnya akan tetap sama. Dita sebagai seorang wanita tidak bisa menolak sebuah perjodohan yang sudah ditetapkan oleh kedua orang tuanya.


"Dita, kenapa kamu bengong?"


Nyonya Sekar menghampiri putrinya yang masih berdiam diri di depan cermin rias. Wajah ayu Dita nampak murung saat ini. Penjagaan yang ketat dari ayahnya membuat kebebasan Dita seperti terkekang.


Nyonya Sekar menepuk pelan bahunya, hingga membuat Dita tersentak.


"Ibu, a-ada apa?"


"Di depan sudah ada Yudistira, katanya dia sudah membuat janji denganmu."


"Tapi, Bu--"


"Nggak baik membuat calon suami menunggu lama."


"Ke-kenapa harus Dita, Bu?"


"Sebagai putri yang berbakti, kamu harus menuruti semua kemauan Bapak dan Ibu. Lagi pula hanya dengan menikah kembali, setidaknya status kamu tidak akan lagi menjadi janda, kan?"


"Ja-jadi hanya karena hal itu?"


Kedua mata Dita sudah berkaca-kaca. Mungkin saja sesaat lagi tangisnya pecah.


"Mungkin begitu, tetapi Ibu yakin, inilah hal terbaik untuk kamu. Suatu saat kamu akan tahu jika semua ini aku lakukan demi kebaikan hatimu."


"Sudahlah, mau bagaimana lagi aku menolak, itu juga tidak akan berarti apa-apa untuk kalian!"


Dita yang sudah kesal berdiri dan segera pergi. Akan tetapi semarah apa pun Dita, ia tetap pamit pada Nyonya Sekar. Melihat putrinya dalam keadaan sulit, membuat Nyonya Sekar hanya bisa mengelus dadanya. Sesaat kemudian, Dita segera menyusul putrinya ke depan.


Yudistira bangkit dari tempat duduknya. Ia menyambut kedatangan Dita dengan tersenyum manis ke arahnya. Akan tetapi, hal itu sama sekali tidak menyentuh hati Dita atau pun merasa spesial.


"Selamat pagi, Dita?"


"Selamat pagi."


"Sudah siap untuk keluar?" tanya Yudis dengan pandangan yang tidak pernah beralih dari Dita.


Dita mengangguk tanda setuju tanpa harus berkata-kata. Meskipun sikap Dita dingin, Yudis bisa memahami hal tersebut. Seberapa besar penolakan dari Dita, hal itu sama sekali tidak membuat Yudis merasa takut atau berniat untuk mundur.


Kecantikan Dita sejak awal pertemuannya sudah membuat Yudis suka. Entah kenapa ia merasa sangat cocok jika Dita bisa berdiri di sampingnya nanti. Terlebih lagi, semua kriteria wanita idaman versi Yudistira bisa ia temukan di dalam diri Dita.


"Kalau begitu, kami pamit dulu, Bu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam. Hati-hati, ya."


Yudistira mengangguk, sesaat kemudian keduanya segera melangkah pergi menuju mobil. Sesuai rencana, Yudis akan membawa Dita untuk melakukan fitting baju pengantin.


Agar suasana tidak canggung, Yudistira menyalakan musik mp3. Kebetulan lagu yang diputar lagu kesayangan Dita.


"Setidaknya ini lebih baik, daripada aku semakin sesak nafas," ucap Dita di dalam hati.


Rasanya ia bisa mati kutu jika sedari tadi menahan bicara, karena sebenarnya Dita orangnya ramai dan suka bercanda. Hanya saja Dita tidak bisa langsung akrab dengan orang baru.


"Dita, kamu kuliah semester berapa?" tanya Yudistira memulai obrolan.


"Semester tiga," jawab Dita singkat.


"Kuliah jurusan apa?"


"Arsitek."


"Oh."


Yudistira manggut-manggut menanggapi ucapan Dita.


"Setiap hari PP pergi ke kampusnya?"


"Iya, kenapa? Apa ada yang salah?"


"Bu-bukan begitu. Hanya saja jarak kampus dengan rumah kamu begitu jauh, apa tidak lelah?"


"Seperti yang Mas lihat, aku biasa saja."


Nada suara Dita terdengar tidak suka jika Yudistira mengorek semua informasi tentang dirinya.


"Dita, maaf jika aku mencoba dekat denganmu, tetapi hal ini aku lakukan karena sebentar lagi kita akan menjadi suami istri."


Pandangan Wisnu sama sekali tidak berubah, hanya saja Dita yang merasa hal ini bukan hal yang baik tidak menyukai arah pembicaraan ini.


"Percaya diri sekali kamu, Mas. Siapa bilang aku mau jadi istrimu!"


Sontak Dita menoleh ke arah Yudistira.


"Tapi Bapak tidak mengatakan hal itu padaku?"


Yudistira tidak menanggapi perkataan Dita, tetapi memperhatikan arah laju kendaraannya. Dita yang merasa diabaikan semakin marah. Ia mengerucutkan bibirnya karena kesal.


"Dasar semua lelaki sama saja, tidak ada yang peka sama sekali!" Dita terlihat menggerutu.


Beberapa saat kemudian, mobil yang mereka kendarai sudah sampai di butik. Yudistira mengajak Dita untuk turun.


"Ayo turun!"


"Nggak mau, Mas aja yang turun."


Yudistira bukannya turun, tetapi ia mengerjai Dita. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Dita seolah ingin menciumnya. Tentu saja Dita mengelak. Ia mencondongkan dirinya ke arah samping.


"Ma-mau apa kamu, Mas?"


"Menurutmu?" ucap Yudis sambil menaik turunkan alisnya.


Harum nafas mint dari mulutnya saja sampai tercium dari tempat duduk Dita.


"Menjauh nggak, atau aku teriak!"


"Oke, oke. Aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu, kok. Aku cuma pengen bantu kamu buat lepas seat belt kamu aja, kok."


"Nyebelin!"


Akan tetapi cara itu ternyata mampu membuat Dita menuruti perkataan dari Yudistira untuk keluar dan masuk ke dalam butik.


"Selamat datang, Tuan Yudis, Nona Dita," sambut para pramuniaga di butik tersebut.


"Pagi."


Dita hanya tersenyum sambil menunduk. Ada kekaguman yang terselip di hati Dita untuk Yudistira.


"Sebenarnya siapa, dia?" batin Dita.


"Kenapa semua karyawan seolah menghormati lelaki ini?"


Dita merasa tidak nyaman dengan keadaan saat ini. Di saat ia hampir sampai di dalam deretan baju-baju pengantin, sebuah tepukan di bahu Dita mengagetkannya.


"Dita, ayo kita masuk dan memilih baju yang cocok denganmu," ajak Yudis.


Dita mengangguk lalu mengikuti kemana Yudis melangkah.


"Tuan, ini ada beberapa baju yang sudah kami siapkan untuk Anda."


Barisan beberapa karyawan yang membawa gaun pengantin membuat Dita tercengang, jumlahnya lebih dari lima orang dan hampir semua gaun yang dibawa oleh mereka bagus-bagus.


"Hm, coba gaun yang berwarna gold itu bawa kemari, Mbak!"


Salah satu karyawan menghampiri Yudis dengan gaun yang sangat indah.


"Ayo kamu coba dulu yang ini, Dit. Pasti kamu akan terlihat sangat cantik sekali."


Yudistira mendampingi Dita sampai ruang ganti, dengan senang hati ia bersedia berjaga di depan kamar ganti tersebut.


"Ka-kamu ngapain, Mas?" tanya Dita ketakutan karena Yudis seolah ingin masuk.


"Aku juga berjaga di depan, kamu masuk aja!"


Dita sesegera mungkin masuk ruang ganti, akan tetapi baru saja ia masuk, lampu di kamar ganti tersebut tiba-tiba saja mati, hingga membuat Dita berteriak histeris.


"Aaaa ....."


Yudis menoleh dan mencoba masuk ke dalam. Akan tetapi pintu ruang itu sama sekali tidak bisa dibuka dan terkunci otomatis.


"Dita, bertahanlah di dalam, aku akan segera menolongmu!" teriak Yudistira sangat panik.


.


.


Hai othor kembali lagi, jangan lupa mampir ke novel teman literasi Fany ya, ditunggu🥰