Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 84. AMARAH


"Bagaimana aku bisa mengatakan jika tidak ada kemarahan di dalam hatiku?"


"Sabarlah anakku, karena pembalasan dendammu akan segera aku balaskan!" ucap raja Jin pada anaknya.


"Terima kasih, Ayah, tetapi rasanya sungguh menyakitkan!"


Terlihat sekali kemarahan di dalam matanya, apalagi saat ini, ia sedang dalam keadaan terluka dan hal itu sukses membuatnya semakin memendam dendam kepada manusia, terlebih manusia yang berani mendekati wanita pujaan hatinya.


Mungkin ini yang membuat Dita tidak mudah mendapatkan pasangan hidup meskipun wajahnya sangat cantik. Lagi pula manusia dan jin juga tidak bisa bersatu, tetapi terkadang cinta membutakan mata manusia.


Suasana masih terasa mencekam dan menegangkan di dasar bumi. Beberapa kali kilatan energi besar terlihat di sana. Bercampur dengan letupan-letupan lahar di dasar bumi. Makhluk-makhluk tersebut seolah sedang berpesta di dalam sana sambil menyembuhkan luka-lukanya.


Banyak jin yang keluar masuk dan menceburkan dirinya ke dalam lahar panas agar luka-luka di tubuhnya pulih. Begitulah cara mereka menyembuhkan luka-lukanya.


Mungkin hal itu terasa sangat menyakitkan bagi putra raja jin. Penolakan dari raga Dita semakin membuatnya bertambah marah. Rasa kemarahan semakin membakar pikiran, hati dan menimbulkan percikan-percikan kekuatan yang mempunyai energi besar.


Wajah-wajah mereka sangatlah buruk rupa, belum lagi aroma yang menguar dari tubuh mereka seperti aroma daging bakar bercampur rasa anyir yang menusuk hidung. Tetapi itulah mereka yang tidak akan pernah bisa mati sampai dunia kiamat nanti.


Mereka memang berumur panjang dan tidak bisa mati, tetapi populasinya terus bertambah seperti manusia. Sebagai anak raja jin ia memang mempunyai keistimewaan lebih daripada jin pada umumnya.


Kemarahannya semakin bertambah ketika ayahnya mengatakan jika dalam rentang beberapa hari ini ia tidak bisa berdekatan dengan manusia idamannya, Dita. Namun, di satu sisi tubuhnya masih terluka karena pertempuran kapan hari. Hal itu sukses membuatnya tidak sabar akan untuk kembali mendekati Dita.


"Ingin rasanya aku segera menghabisi lelaki itu, tetapi kenapa ayah mencegahnya?" ucapnya terdengar penuh amarah.


Mengetahui putranya masih marah, ia justru bahagia. Namun, ia seolah memberikan nasehat kepadanya.


"Sebaiknya kamu bersabar karena aku yang menemuinya."


"Berbagai upaya sudah aku kerahkan, kini tinggal dirimu yang melihat bagaimana situasi dalam keadaan di dalam sana atau ...."


"Atau apa, Ayah?"


Raja jin mengisyaratkan agar putranya agat berdiam. Apalagi saat ini di alam manusia, ja masih bisa bertahan dalam waktu yang lama.


"Sabar--"


"Nanti jika kekuatanmu pulih itu akan menjadi sesuatu yang lebih mudah untukmu."


"Baiklah, Ayah."


.


.


Tok... tok... tok


"Kenapa tidak ada orang?"


Danu menoleh ke samping, depan dan belakang. Benar-benar tidak ada apapun, ia pun berbalik ke belakang dan masuk kamar. Namun, saat Danu belum sempat menutup pintu kamarnya, sesaat kemudian angin berhembus dengan kencangnya.


BRAK!


Lampu kamar berkedip-kedip, mengisyaratkan kepadanya jika ada mahluk tidak kasat mata yang datang kepadanya. Suasana terasa sangat menyeramkan saat ini. Bulu kuduk Danu meremang seketika, saat hembusan nafas hangat itu menyentuh tengkuknya ada rasa aneh yang melingkupi hatinya.


Aroma tubuh Dita tiba-tiba menyelinap saat tangan tak kasat mata itu mulai menyentuh tubuh Dita.


"Ini tidak mungkin kamu, bukan?"


Danu mencoba mengatakan apa yang ia rasakan saat ini.


"Tentu saja bukan, karena kamu bersama suamimu!" ucap Danu menghibur dirinya.


Sesaat kemudian, ada sepasang tangan yang datang kepadanya terulur dan meraba dada Danu. Terasa lembut dan memabukkan.


"Lebih baik aku menghapus jejakmu setelah ini, daripada aku terus memimpikan dirimu."


Danu memejamkan mata lalu berkonsentrasi agar dirinya bisa terlepas dari bayang-bayang makhluk itu. Benar saja, suasana kamar yang semula mencekam kini berangsur pulih.


"Alhamdulilah, setidaknya Allah masih menolongku."


Danu memang belum kembali ke rumah kedua orangtuanya. Saat ini ia tinggal di sebuah indekos dan berusaha sekuat dirinya. Memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik mungkin dengan mengisi kegiatan yang lebih bermanfaat.


"Semoga saja semuanya akan terasa lebih baik-baik setelah ini."


Tidak mau berasumsi lebih, Danu memilih segera beristirahat di lantai dengan beralaskan tikar lantai. Ia tidak mau membuat makhluk itu bisa menguasai dirinya.


Kata orang-orang terdahulu, makhluk halus tidak akan bisa mengganggu orang-orang yang mempunyai kelebihan. Danu bukan Indigo tetapi ia menguasai berbagai ilmu tenaga dalam sampai hal religi demi melindungi dirinya, dan calon istrinya kelak.


Sebagai seorang laki-laki ia harus tetap berusaha tegar dan bisa menata masa depan. Padahal Danu itu terlahir di dalam keluarga kaya raya. Namun, ia tidak mau diatur oleh keluarganya sendiri. Sehingga mau tidak mau ia terus bekerja sambil kuliah. Hanya segelintir orang yang tau kehidupan Danu yang sebenarnya.


"Pa, bagaimana keadaan anak kita?" tampak sekali kerinduan yang terpancar dari kedua mata ibunda Danu.


Sementara itu ayahnya masih bersikap wajar.


"Biarkan anak itu dewasa sesuai keinginannya, nanti kalau kangen biar pulang sendiri."


"Bapak!"