Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 120. BERTEMU TEMAN LAMA


Merasa junjungannya terjatuh, Mbok Nem segera menghampiri Dita. Matanya terbelalak ketika ia melihat tulang manusia di bawah kaki Dita.


"A-apa ini, Den Ayu?"


Dita menggeleng, menandakan jika dirinya tidak mengetahui apakah ini ada hubungannya dengan mimpinya beberapa hari lalu atau tidak.


"Cepat pergi Den, perasaan Mbok Sudah tidak enak."


Langit yang semula masih terang benderang, kini berganti dengan awan gelap menutupi seluruh hamparan langit yang menaungi perkebunan teh itu. Sontak saja Mbok Nem segera meraih tangan Dita dan mengajaknya berlari kencang meninggalkan area perkebunan.


"Ayo, Den Ayu cepat pergi!"


"Iya, Mbok."


Tulang belulang manusia tadi pun ia tinggalkan begitu saja. Namun, langit tidak memberikan kesempatan untuknya berteduh. Hujan yang lebat kini mengguyur tubuhnya. Langit menghitam dengan cepatnya. Derasnya air hujan membuat pandangan mata menjadi terbatas.


Suara petir yang menyambar-nyambar membuat hati Dita ketar-ketir. Meski tertatih, Dita berusaha untuk tetap berlari. Hanya saja kakinya sedikit pincang. Hingga membuat langkahnya tidak bisa lebar.


"Aduh ...."


Mbok Nem yang melihat Dita kesulitan berlari mengajaknya berteduh di bawah pohon.


"Kita berteduh dulu, Non."


Dita mengangguk, ia tidak berbicara karena wajah dan tubuhnya sudah basah kuyup. Mau membuka mulut pasti banyak air yang akan masuk kepadanya.


"Maaf ya, Mbok, karena menemaniku malah kehujanan seperti ini."


"Nggak apa-apa, Den Ayu. Maaf juga Mbok tidak membawa payung tadi."


"Dita menggeleng. Namun ia tersenyum ketika mengingat masa kecilnya yang suka bermain-main dengan air hujan."


Saat itu Dita memang tinggal di rumah yang lama. Di sana tempatnya sangat asri, sehingga untuk bermain-main beberapa anak kecil pun tidak masalah.


"Yuk, Ayu ... ayo kejar aku ...." ucap Tito teman masa kecil Dita.


"Tungguin lah, aku capek! Hosh ... Hosh ... Hosh ...."


Dita yang tidak terbiasa berlari kini justru terjatuh. Kakinya terantuk ajar kayu. Tito yang mengetahui hal itu segera menyuruh Dita untuk naik ke punggungnya.


"Kaki kamu berdarah, Ayu. Sebaiknya kamu aku gendong."


Tito yang tidak tega melihat Dita kesakitan segera menawarkan punggungnya secara cuma-cuma.


Tito hanya mengangguk dan tersenyum ke arah Dita. Dita yang sungkan hanya berdiam di tempatnya. Hingga akhirnya Tito memaksa Dita naik ke punggungnya.


"Akhirnya kita sampai di rumah," ucap keduanya.


"Ya sudah aku pulang dulu, ya?"


Dita mengangguk, tetapi setelah itu ia tidak pernah bertemu dengan Tito lagi. Kabarnya ia pergi pindah keluar negeri bersama kedua orang tuanya. Namun, hanya Tito yang memanggilnya dengan sebutan Ayu.


Dita yang asyik melamun tidak sadar jika di sampingnya ada seorang pemuda tampan duduk tepat di sisi Dita.


"Kamu apakabar?" tanya seorang pemuda yang seusia Dita.


Sontak saja Dita terkejut, namun ia melihat wajah lelaki di sampingnya itu sangat familiar terhadapnya.


"Apa kita saling mengenal?" Tanya Dita penasaran.


Lelaki itu hanya tersenyum. Lalu mengulurkan tangannya ke arah Dita.


"Salam kenal dari Hastito Setiawan."


Deg


"Tito? Lelaki yang aku kenal sejak kecil dan menghilang begitu saja beberapa tahun yang lalu?" gumam Dita tampak berkedip.


Sementara itu Tito yang sejak lama mencari keberadaan Dita hanya bisa tersenyum melihat Dita yang terlihat acuh namun justru menjadi pemilik hatinya.


"Hatchi ...."


Dita yang suhu tubuhnya mulai dingin terlihat memucat. Pandangan matanya mengelap dan Dita kembali pingsan.


......................


Sambil nunggu up boleh ke sini ya


Love is blind. Sebuah quote paling terkenal dan mungkin sesuai untuk Adriano D’Angelo, bos mafia Tigre Nero yang memiliki jaringan terbesar di benua Eropa. Dia telah jatuh cinta kepada wanita bersuami yaitu Florecita Mia. Cinta yang begitu besar tak membuat Adriano mendendam, meskipun Mia telah menembaknya. Dia juga dibuang ke samudera oleh suami wanita itu.


Adriano memilih untuk menghilang dan menutup masa lalunya. Namun, takdir mempertemukan kembali dirinya dengan sang wanita pujaan. Bedanya, saat itu Mia telah menjadi janda. Wanita yang dulu pernah mencoba menghabisi nyawanya, kini menghadap dan meminta bantuan Adriano untuk mengungkap pelaku dari pembunuh sang suami.