
Berharap semua yang telah terjadi adalah sebuah mimpi membuat Dita semakin tenggelam ke dalam dunianya.
"Andaikan aku bisa memilih sudah pasti aku tidak akan melibatkan kalian semua."
Berharap jika semua adalah mimpi dan tidak akan pernah menjadi sebuah kenyataan, nyatanya berhasil membuat Dita jatuh terpuruk ke dalam lubang yang lebih dalam.
"Nak, jangan berkata demikian. Ibu dan Bapak tidak pernah membuangmu. Kamu melakukan hal ini juga demi kebaikan kamu," ucap Nyonya Sekar sebelum benar-benar pergi meninggalkan Dita di sebuah gubuk reyot di tengah hutan.
"Kanjeng Ibu jangan khawatir, selama Den Ayu berada di sini, maka dengan segala maaf biarkan saya yang menemaninya."
Mbok Nem tampak duduk bersimpuh menghadap kedua orang tua Dita. Kedua tangannya mengatup sempurna sampai mereka tidak mampu berkata banyak.
Nyonya Sekar begitu takut jika kata-katanya bisa melukai putrinya. Sudah cukup hinaan yang diterima olehnya hingga sampai saat ini. Bagaimana pun Dita anak satu-satunya dan tidak boleh terluka dengan cibiran masyarakat.
Tuan Handoko tampak memegang pundak istrinya dan meminta maaf kepada Mbok Nem karena harus merepotkannya. Kini keduanya hidup bersama di lereng Gunung Wilis.
Sebuah tempat yang sangat jauh dari pemukiman penduduk. Bahkan akses untuk kesana sangat sulit dilakukan dengan kendaraan.
"Mbok, kami benar-benar minta maaf kepadamu. Bukan maksud kami untuk membuang kalian, hanya saja ini demi kebaikan hati Dita."
"Iya, Kanjeng ... saya juga yakin jika Den Ayu tidak akan pernah merasakan seperti itu. Hanya saja kami yang justru merasa berterima kasih karena masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki keadaan."
Pemikiran Mbok Nem jarang sekali kotor, ia selalu bisa melihat sisi baik dari setiap perbuatan yang dilakukan Keluarga Handoko kepadanya. Kini setelah cukup berpamitan, Nyonya Sekar dan juga Tuan Handoko segera meninggalkan gubuk tersebut.
Mbok Nem menoleh ke arah Dita. Didekatinya perempuan yang terlihat lusuh tersebut.
"Den Ayu, jangan khawatir. Selama tinggal di sini, maka simbol dengan sukarela akan terus menemani. Jika Den Ayu menginginkan untuk berjalan-jalan maka dengan senang hati maka Mbok Nem akan mendampingi."
"Terima kasih, Mbok."
Sejak itu pula terkadang sikap dan perilaku Dita terlihat berbeda. Banyak hal yang tidak bisa dibayangkan oleh orang lain jika terlalu memperhatikan sikapnya.
Rambutnya yang kusut, penampilan yang acak-acakan benar-benar membuat Dita terlihat sangat berbeda. Mbok Nem yang berhasil untuk menemuinya. Sementara itu kedua orang tuanya sama sekali tidak bisa mendekati dirinya atau bahkan hanya untuk sekedar berbicara ataupun menyapa.
Di tambah lagi saat ini Dita sangat sulit di ajak untuk berkomunikasi. Kenyataan bahwa ia ditinggalkan oleh semua mertuanya membuat Dita merasa terbuang. Semua yang dilakukan sampai saat ini ternyata sia-sia. Perjuangannya berakhir bencana.
Bagaikan orang kurang waras, kini Dita tidak bisa berbuat banyak. Dikucilkan, seolah memiliki dunianya sendiri bahkan terkesan tidak pernah diakui sejak kematian Fano benar-benar membuatnya hancur.
Kriet
Pintu kamar Dita terbuka, seberkas cahaya mulai masuk dan menyilaukan kedua matanya. Derap langkah lembut itu adalah langkah kaki Mbok Nem. Selama berada di pengasingan Dita hanya ditemani oleh Mbok Nem.
"Selamat pagi, Den Ayu ...."
Mbok Nem tampak meletakkan sebuah piring berisikan singkong rebus dan juga satu gelas teh hangat untuk putri dari junjungannya tersebut. Selama di perasingan Dita hanya mengkonsumsi makanan itu untuk memberinya energi.
"Tentu saja untuk menemani Den Ayu dan mengantarkan makanan ini. Memangnya tugas Mbok masih ada yang lain?"
Dita yang semula berbaring kini mulai duduk. Meski penampilan acak-acakan tetapi tubuh Dita mengeluarkan aroma tubuh yang wangi seperti bunga kantil yang menguar.
Hanya Mbok Nem yang bisa mencium aroma tersebut. Sementara itu jika manusia biasa maka tubuh Dita akan tercium bau lebus. Di tambah lagi dengan penampilannya seringkali anak kecil yang melihat menyamakan Dita dengan orang kurang waras yang seringkali berjalan mengelilingi desa.
"Kalau urusanmu sudah selesai, maka pergilah! Aku hanya ingin berada di duniaku sendiri tanpa ada yang menemani, kamu mengerti!"
"Mengerti Den Ayu. Kalau begitu saya permisi."
Sepeninggal Mbok Nem, Dita tampak bergerak mendekati makanan yang ditaruh oleh Mbok Nem di lantai. Tidak ada barang apapun di dalam gubuk tersebut. Hampir semua barang yang tersentuh oleh Dita akan hangus terbakar. Sehingga hanya kayu lapuk itulah yang masih tersisa untuk menjadi alas tidur baginya.
Semenakutkan itukah Dita saat ini? Ya, semuanya tampak berubah sejak kematian Fano. Ada kekuatan lain yang berhasil menguasai tubuh Dita. Sebenarnya tubuhnya masih baik-baik saja. Hanya hal itulah yang membuat dirinya di ajak ke dalam gubuk pengasingan.
Sebenarnya tujuan Mbok Nem mengunjungi Dita adalah mengajaknya untuk mandi penyucian jiwa yang akan dilakukan olehnya nanti malam. Ada sebuah ritual khusus yang akan dilakukan Mbok Nem untuk menghilangkan hal-hal aneh yang terjadi pada tubuh Dita.
Mulutnya kini penuh dengan singkong rebus. Rasa kenyang kini telah dirasakan olehnya.
"Terima kasih, Mbok. Rupanya aku merasa lebih baik setelah kamu memberikan aku makanan."
Sejak Dita bisa membakar barang-barang yang di sentuhnya, maka sejak saat itu pula Mbok Nem mendirikan gubuknya. Di sekelilingnya terdapat sebuah aliran sungai kecil yang sangat bersih dan bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Setelah makan dan minum, kini ia kembali berbaring di lantai kayu. Hingga hanya dalam sekejap mata Dita mulai tertidur. Mbok Nem senagaja melakukan hal itu demi ritual yang akan dilakukan nanti malam tepat di bawah sinar bulan purnama penuh.
"Maafkan saya, Den Ayu jika sikap saya justru seolah membuat Anda seperti ini. Tapi simbok berharap Den Ayu mau melakukan hal ini, dengan catatan ia yang mengawasi ritual tersebut."
Pintu kamar Dita terbuka. Mbok Nem mengambil baki aluminium itu lalu berjalan menjauhi tubuh Dita. Sebelum sampai di ambang pintu, Mbok Nem sempat menoleh.
"Maafkan saya, Den Ayu."
Di dalam alam mimpi Dita. Saat ini ia sedang berjalan-jalan mengelilingi sebuah taman bunga kamboja. Harumnya bunga kamboja yang warna warni itu membuat Dita nyaman berada di taman tersebut.
Semuanya tampak nyaman sampai ketika ada derap langkah yang mendekatinya. Sosok lelaki tinggi dan tampan itu mengingatkan dirinya pada sosok lelaki yang tidak jadi menikah dengannya karena ia tidak mampu bertahan saat melalui ujian yang dilakukan oleh bangsa lelembut.
Saat itu sosok yang menemani Dita sangatlah banyak, bahkan lelaki yang baru mendekatinya saja sudah sakit. Akan tetapi jika mereka menjauhinya maka dia akan selamat.
Kira-kira sosok lelaki itu siapa ya? Apakah lelaki itu bisa menyelamatkan Dita? Simak di dalam update selanjutnya ya.