
Merasa ada yang aneh dengan Dita yang tidak kunjung bangun, terpaksa Mbok Nem menggendong Dita. Ia berlari dengan cepat untuk meninggalkan tempat tersebut.
Tidak peduli dengan pandangan orang lain, kini Mbok Nem akhirnya telah sampai di rumah. Dari balik pohon Tito tersenyum melihat Dita telah pulang dengan selamat.
"Kenapa aku merasa merinding?" ucap Mbok Nem sambil mengusap tengkuknya.
Nyonya Sekar yang melihat Dita digendong oleh Mbok Nem segera bergegas.
"Ada apa ini, Mbok?"
"Kenapa baju kalian basah?"
Banyak pertanyaan yang diberikan oleh Nyonya Sekar pada pembantu rumah tangganya itu. Merasa ada yang janggal, Nyonya Sekar segera menyuruh mengganti baju Dita.
"Jangan lupa untuk segera mengganti baju Dita, Mbok. Kasihan dia sudah demam."
"Iya, Kanjeng Ibu."
Melihat bibir putrinya sudah memucat, Nyonya Sekar buru-buru memanggil dokter. Ternyata Tito mengetahui hal itu dengan segera ia merubah dirinya seperti dokter tersebut.
Tidak berapa lama kemudian, pintu rumah diketuk dari luar. Terlihat sekali jika Dita memang demam karena terlalu lama terkena hujan. Tubuhnya menjadi rentan karena banyak sekali beban pikiran yang ia tanggung.
Mbok Nem yang menyadari hal itu segera membuka pintu. Mbok Nem mengamati dokter tersebut dengan seksama.
"Benarkah ini rumah Tuan Handoko?"
Mbok Nem mengangguk. "Iya benar, ada apa ya?"
"Saya dokter yang dipanggil oleh Ibu."
"Oh, Silakan masuk!
"Terima kasih."
Mbok Nem segera membawa Tito masuk ke dalam kamar Dita. Lalu tidak berapa lama kemudian ia mengantarnya ke dalam kamar Dita.
"Ini kamar Den Ayu."
"Terima kasih."
Tito bergegas memeriksa tubuh Dita dengan teliti. Demam Dita yang meninggi membuat Tito menyarankan agar Dita di bawa ke Rumah Sakit.
"Bagaimana dok?"
"Saya menyarankan agar Dita segera dirawat di Rumah Sakit saja. Demamnya terlalu tinggi."
"Baik kalau begitu."
Nyonya Sekar segera menyuruh supir untuk menggendong tubuh Dita ke mobil dan segera membawanya ke Rumah Sakit.
Di sepanjang perjalanan Dita mengigau memanggil nama Tito. Kening Nyonya Sekar berkerut ketika menyadari jika putrinya memanggil nama sahabat masa kecil Dita.
"Tito ... jangan pergi," ucap Dita terdengar lirih.
Tito yang duduk di sebelah Nyonya Sekar memegang tangan Dita, lalu mengecup kening Dita.
"Aku tidak akan pergi, Ayu. Bagaimana pun kita berjodoh sehingga aku pun tidak akan pernah rela untuk meninggalkan dirimu."
Sementara itu di dalam mimpi Dita, Tito terlihat melambaikan tangannya ke arah Dita. Wajahnya yang tampan tetapi pucat terlihat mengulas senyum. Dita yang baru saja bertemu dengannya tidak rela jika harus berpisah kembali.
"Jangan pernah pergi lagi, Tito. Aku mohon."
Dita terlihat terisak, di dalam tangisnya Tito memeluk tubuh Dita, namun suhu tubuhnya sama sekali tidak berubah tetap dingin dan terasa tanpa aliran darah.
Hembusan nafas Tito terasa dingin, sentuhan tangannya tidak sehangat dulu. Ada sebersit keraguan di dalam hati Dita.
"Apakah Tito sudah meninggal, kenapa senyumannya kaku? Suhu tubuhnya sangat dingin?"
"Dita, apapun kondisi ku aku berharap kamu tidak menolak perasaan cintaku. Aku berharap kisah cinta kita abadi. Bagaimana pun caranya kita harus bersatu," ucap Tito dengan lantang.
"Jadi aku mohon, hapuslah keraguanmu dan menikahlah denganku."
.
.
BERSAMBUNG